Negara Kaya Raya Mendadak Bangkrut, Penyebabnya Bikin Miris

7 hours ago 5
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah negara kecil di kawasan Oseania pernah menyandang status sebagai salah satu negara terkaya di dunia. Namun, kemewahan yang dinikmati secara berlebihan justru menyeret negara itu ke jurang kebangkrutan.

Ironisnya, salah satu simbol kejayaannya kala itu adalah maraknya pembelian mobil super mewah seperti Lamborghini hingga Ferrari.

Negara tersebut adalah Nauru, pulau kecil yang sempat menikmati ledakan ekonomi berkat kekayaan fosfat. Alih-alih dikelola secara berkelanjutan, limpahan uang justru memicu pola konsumsi berlebihan dan ketergantungan ekstrem pada satu komoditas.

Krisis makin parah karena korupsi dan buruknya pengelolaan keuangan negara. Saat pemasukan mulai menyusut, belanja pemerintah tetap tinggi sehingga ekonomi Nauru runtuh dalam waktu relatif singkat.

Kaya Mendadak karena Fosfat

Selama puluhan tahun, ekonomi Nauru bergantung pada fosfat, bahan utama pupuk yang ditemukan melimpah di pulau tersebut pada awal 1900-an. Penambangan dimulai sejak 1907 dan dikuasai Inggris, Australia, serta Selandia Baru selama sebagian besar abad ke-20.

Setelah merdeka pada 1968, pemerintah Nauru mengambil alih pengelolaan tambang fosfat. Momentum itu membuat pendapatan negara melonjak drastis.

Pada 1982, The New York Times bahkan menyebut pendapatan per kapita Nauru melampaui negara-negara Arab kaya minyak. Nauru kala itu dijuluki sebagai negara demokrasi independen terkecil sekaligus terkaya di dunia.

Kemakmuran mendadak tersebut langsung tercermin dari gaya hidup masyarakatnya. Seorang kepala polisi disebut membeli Lamborghini, sementara Ferrari dan berbagai mobil mewah lain ikut masuk ke pulau kecil itu.

Padahal, Nauru hanya memiliki satu jalan utama beraspal dengan batas kecepatan sekitar 40 kilometer per jam.

Pemerintah juga membiayai hampir seluruh kebutuhan warga. Sekolah, layanan kesehatan, transportasi bus hingga surat kabar disediakan gratis.

Jika ada warga yang membutuhkan perawatan medis khusus, pemerintah menerbangkan mereka ke Australia dengan biaya negara. Pendidikan tinggi di universitas Australia juga ditanggung penuh.

Konsumsi Mewah Tak Terkendali

Kemewahan yang tak terkendali itu meninggalkan jejak hingga sekarang. YouTuber Ruhi Çenet dalam videonya tahun 2024 menggambarkan bagaimana "kegilaan konsumsi" pernah terjadi di Nauru.

Ia menemukan banyak mobil mewah terbengkalai di pinggir jalan, mulai dari Cadillac, Jeep hingga Land Rover yang kini hanya menjadi besi berkarat.

Ruhi juga mengaku mendengar cerita dari warga lokal mengenai seorang polisi yang membeli Lamborghini sebelum akhirnya sadar tubuhnya tidak muat masuk ke mobil tersebut.

Namun di balik pesta kemewahan itu, cadangan fosfat terus menipis. Memasuki 1990-an, sumber daya utama negara tersebut makin habis setelah dieksploitasi selama puluhan tahun.

Bangkrut hingga Jadi Sarang Pencucian Uang

Saat fosfat mulai habis, ekonomi Nauru ikut ambruk. Negara itu tidak memiliki sumber pendapatan alternatif yang kuat untuk menopang gaya hidup mewah dan pengeluaran pemerintah yang sudah telanjur besar.

Dalam upaya mencari pemasukan baru, Nauru kemudian berubah menjadi surga pajak dengan menjual lisensi perbankan dan paspor.

Akibat lemahnya pengawasan, uang mafia Rusia mengalir deras melalui bank-bank di Nauru. Nilainya mencapai 55 miliar poundsterling atau sekitar Rp1.303,17 triliun. Situasi tersebut membuat Departemen Keuangan Amerika Serikat memasukkan Nauru ke daftar negara pencucian uang pada 2002.

Di tengah krisis tersebut, Australia kemudian memberikan bantuan keuangan kepada Nauru. Sebagai imbalannya, pulau kecil itu dijadikan lokasi pusat penampungan pencari suaka yang hendak menuju Australia.

(fab/fab)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |