Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
15 May 2026 08:16
Jakarta, CNBC Indonesia- Harga minyak dunia bergerak nyaris stagnan pada perdagangan Kamis waktu Amerika Serikat atau Jumat pagi WIB (15/5/2026). Pasar mulai melihat lalu lintas tanker di Selat Hormuz kembali berjalan, meski situasi keamanan kawasan Teluk masih jauh dari tenang.
Menurut Refinitiv per Jumat pukul 06.30 WIB, harga minyak Brent kontrak Juli (LCOc1) ditutup di US$105,72 per barel, naik tipis 0,09%. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,15% ke US$101,17 per barel.
Pergerakan ini membuat reli minyak mulai tertahan setelah sempat melonjak tajam dalam dua pekan terakhir. Sejak 4 Mei, Brent masih naik sekitar 7,5%, sedangkan WTI menguat hampir 5%.
Kenaikan harga minyak sebelumnya dipicu perang Iran dan gangguan di Selat Hormuz, jalur sempit yang menjadi nadi distribusi energi global. Namun pasar kini mulai mendapat sedikit ruang bernapas setelah media pemerintah Iran menyebut sekitar 30 kapal berhasil melintasi selat tersebut sejak Rabu malam.
Jumlah itu memang masih jauh dibanding rata-rata normal sebelum konflik yang mencapai sekitar 140 kapal per hari. Namun bagi pasar energi, kabar adanya kapal yang berhasil lewat sudah cukup meredakan kepanikan jangka pendek.
Reuters melaporkan sebuah supertanker China yang membawa 2 juta barel minyak Irak akhirnya berhasil melewati Hormuz setelah tertahan lebih dari dua bulan di Teluk. Kapal tanker berbendera Panama yang dikelola grup kilang Jepang Eneos juga dilaporkan berhasil melintas.
Pasar membaca situasi ini sebagai sinyal bahwa Iran belum benar-benar menutup total jalur energi dunia. Apalagi Gedung Putih menyebut Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping sama-sama sepakat bahwa Selat Hormuz harus tetap terbuka demi kelancaran arus energi global.
Meski demikian, tensi kawasan tetap tinggi. Sebuah kapal kargo India dilaporkan tenggelam di lepas pantai Oman setelah serangan, sementara otoritas maritim Inggris melaporkan kapal lain dibajak di dekat Fujairah dan diarahkan menuju Iran.
Analis PVM Oil Associates, Tamas Varga, menilai semakin banyak kapal yang diizinkan lewat lebih berpengaruh terhadap psikologi pasar dibanding perubahan fundamental pasokan global. Harga minyak akhirnya tertahan di area atas karena ancaman gangguan suplai masih belum hilang sepenuhnya.
Pasar juga masih menghadapi persoalan pasokan global yang ketat. International Energy Agency (IEA) sebelumnya memperingatkan persediaan minyak dunia tahun ini menyusut cepat karena pasokan tidak mampu mengimbangi permintaan.
Dari Amerika Serikat, persediaan minyak mentah turun 4,3 juta barel menjadi 452,9 juta barel pada pekan lalu menurut data Energy Information Administration (EIA). Penurunan stok terjadi ketika ekspor AS meningkat.
Di sisi lain, Dana Moneter Internasional (IMF) mulai memberi peringatan bahwa perang Iran dan gangguan Hormuz dapat membawa ekonomi global masuk ke skenario "adverse". IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia dapat turun ke 2,5% tahun ini, lebih rendah dibanding 3,4% pada 2025.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)
Addsource on Google

8 hours ago
6

















































