Menlu Iran "Curhat" di Rusia, Blak-blakan Ungkap Status Nego dengan AS

3 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Kebuntuan diplomasi antara Iran dan Amerika Serikat kembali mengemuka setelah Teheran secara terbuka menyalahkan Washington atas gagalnya putaran pembicaraan terakhir, di saat dampak konflik kedua negara terus mengguncang ekonomi global.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan kritik tersebut saat tiba di Saint Petersburg, Rusia, dalam rangkaian kunjungan diplomatik intens yang juga mencakup Oman dan Pakistan, negara yang sebelumnya menjadi mediator utama dalam perundingan antara kedua pihak.

Dalam pernyataannya, Araghchi menilai pendekatan Amerika Serikat menjadi faktor utama kegagalan dialog, meskipun sebelumnya sempat ada kemajuan.

"Pendekatan AS menyebabkan putaran negosiasi sebelumnya, meskipun ada kemajuan, gagal mencapai tujuannya karena tuntutan yang berlebihan," kata Araghchi, dilansir AFP, Senin (27/4/2026).

Pakistan sebelumnya menjadi tuan rumah satu-satunya putaran pembicaraan langsung antara Washington dan Teheran yang berakhir tanpa hasil. Harapan sempat muncul kembali ketika Araghchi mengunjungi Islamabad, namun pupus setelah Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana kunjungan utusannya, Steve Witkoff dan Jared Kushner.

Trump sendiri menyatakan bahwa pembatalan tersebut tidak berarti eskalasi konflik baru, meskipun tetap memberi sinyal keras kepada Iran.

"Mereka bisa datang kepada kami, atau mereka bisa menelepon kami," kata Trump kepada Fox News.

Di tengah kebuntuan resmi, upaya jalur belakang disebut masih berlangsung. Kantor berita Fars melaporkan Iran telah mengirimkan "pesan tertulis" kepada AS melalui Pakistan yang memuat garis merah Teheran, termasuk terkait isu nuklir dan Selat Hormuz.

Namun, laporan tersebut menegaskan bahwa komunikasi itu bukan bagian dari negosiasi formal.

Sementara itu, laporan media AS Axios menyebut Iran telah mengajukan proposal baru untuk mengakhiri perang. Proposal tersebut berfokus pada pembukaan kembali Selat Hormuz dan penghentian blokade laut oleh AS, dengan pembahasan nuklir ditunda ke tahap berikutnya. Kantor berita resmi Iran, IRNA, mengutip laporan tersebut tanpa membantahnya.

Meski gencatan senjata antara Iran dan koalisi AS-Israel sejauh ini masih bertahan, dampaknya terhadap ekonomi global terus terasa.

Iran diketahui telah memblokade Selat Hormuz, jalur vital yang menjadi arteri utama pengiriman minyak, gas, dan pupuk dunia. Langkah ini menyebabkan lonjakan harga energi dan memicu kekhawatiran krisis pangan, terutama di negara-negara berkembang.

Sebagai respons, AS memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, baik di kawasan selat maupun di luar wilayah tersebut.

Isu Selat Hormuz juga menjadi fokus dalam pertemuan Araghchi di Oman, negara yang berbatasan langsung dengan jalur strategis tersebut.

"Lalu lintas yang aman melalui Selat Hormuz adalah isu global yang penting. Secara alami, sebagai dua negara pesisir selat ini, kita harus berbicara satu sama lain agar kepentingan bersama kita terjamin," ujar Araghchi.

Adapun media pemerintah Iran dan Rusia mengonfirmasi bahwa Araghchi dijadwalkan bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, menandakan upaya Teheran memperkuat koordinasi dengan sekutunya di tengah kebuntuan dengan Barat.

Di sisi lain, Garda Revolusi Iran menegaskan tidak ada rencana untuk mencabut blokade Selat Hormuz dalam waktu dekat.

Mereka menyebut penguasaan atas selat tersebut sebagai bagian dari strategi utama negara.

Pengendalian Hormuz "dan mempertahankan bayang-bayang efek penangkalnya terhadap Amerika... adalah strategi definitif" Teheran.

Di dalam negeri AS, Trump juga menghadapi tekanan politik seiring kenaikan harga bahan bakar akibat penutupan Selat Hormuz. Dengan pemilu paruh waktu yang semakin dekat, survei menunjukkan perang dengan Iran tidak populer di kalangan publik AS.

Harga minyak global sendiri kembali menunjukkan tren kenaikan pada awal pekan ini. Namun, harapan bahwa kesepakatan masih mungkin tercapai menahan lonjakan harga agar tidak lebih tajam.

(luc/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |