Amalia Zahira, CNBC Indonesia
27 April 2026 12:30
Jakarta, CNBC Indonesia - Dominasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di internet kini makin nyata. Jika dulu AI hanya menjadi alat bantu, kini mesin mulai mengambil alih salah satu ruang terbesar di dunia digital: penulisan artikel.
Riset terbaru dari Graphite menunjukkan artikel yang dihasilkan AI melonjak tajam dalam lima tahun terakhir. Pada Januari 2020, porsi artikel buatan AI hanya 2,2% dari sampel yang diteliti. Namun pada Mei 2025, angkanya sudah menembus 51,7%. Artinya, mayoritas artikel dalam sampel tersebut kini ditulis oleh AI, bukan manusia.
Temuan ini menunjukkan perubahan drastis dalam lanskap produksi konten global. Dalam waktu singkat, AI bertransformasi dari pemain kecil menjadi kekuatan dominan di dunia penerbitan digital.
Studi tersebut menganalisis 65.000 URL berbahasa Inggris dari basis data Common Crawl. Sebuah artikel dikategorikan sebagai buatan AI apabila lebih dari separuh isi teks terdeteksi ditulis oleh sistem AI.
Graphite memperkirakan titik balik terjadi pada November 2024. Saat itu, untuk pertama kalinya jumlah artikel buatan AI melampaui artikel yang sepenuhnya ditulis manusia.
Pada Januari 2020, sebanyak 97,8% konten masih ditulis manusia dan hanya 2,2% berasal dari AI. Namun setelah ledakan popularitas ChatGPT dan model generatif lain, lonjakan terjadi sangat cepat. Pada November 2023 atau setahun setelah ChatGPT meluncur ke publik, pangsa artikel buatan AI sudah mencapai 39%.
Setelah itu, pertumbuhan terus berlanjut hingga akhirnya menyalip konten manusia pada akhir 2024. Pada Januari 2025, artikel AI bahkan tercatat mencapai 55,1%.
Fenomena ini menjadi sinyal bahwa industri media, pemasaran digital, blog, hingga situs informasi kini makin mengandalkan otomatisasi konten. AI dinilai mampu memproduksi tulisan lebih cepat, murah, dan dalam skala besar dibanding penulis manusia.
Namun di balik efisiensi tersebut, muncul pertanyaan besar soal kualitas, akurasi, dan keaslian informasi. Banjir artikel AI berisiko meningkatkan konten berulang, miskin verifikasi, hingga memicu penyebaran informasi menyesatkan bila tidak diawasi ketat.
Bagi dunia kerja, tren ini juga menjadi alarm bagi profesi yang bergantung pada produksi tulisan rutin. Sementara bagi perusahaan media dan platform digital, AI bisa menjadi senjata baru untuk menekan biaya operasional.
(mae/mae)
Addsource on Google

4 hours ago
3
















































