Media Asing Ramai Sorot Gunung Dukono Meletus yang Tewaskan 3 Pendaki

3 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Meletusnya Gunung Dukono, Halmahera, Maluku Utara telah menyita perhatian publik hingga media asing. Gunung berapi yang meletus pada Jumat pagi itu telah menewaskan tiga orang pendaki. Video dan foto letusan menunjukkan Gunung Dukono memuntahkan kolom abu setinggi 10 km ke langit.

Ketiga korban merupakan bagian dari rombongan berisi 20 warga Singapura dan Indonesia yang mendaki gunung tersebut meski ada larangan. Sisa rombongan akhirnya ditemukan oleh tim penyelamat dan dievakuasi dari gunung.

Gunung tersebut telah meletus lebih dari 200 kali sejak Maret tahun lalu. Sebelumnya, pihak berwenang telah mengeluarkan peringatan agar tidak mendaki gunung tersebut karena alasan keselamatan. Letusan terbaru terjadi pada pukul 07.41 WIB, saat beberapa orang sedang melakukan pendakian pagi hari.

Kepolisian mengatakan dua warga Singapura dan satu warga lokal dari Kota Ternate meninggal dunia. Kedua korban warga asing diyakini berjenis kelamin laki-laki, masing-masing berusia 30 dan 27 tahun. Korban lokal disebut seorang perempuan, namun tidak ada rincian lebih lanjut yang diberikan.

Jenazah ketiga korban masih berada di gunung, menurut Kepala Kepolisian Halmahera Utara Erlichson Pasaribu. Namun sebagian besar rombongan pendaki telah berhasil dievakuasi dengan selamat dan dibawa ke rumah sakit.

Dua anggota rombongan yang merupakan porter tetap berada di gunung untuk membantu tim penyelamat menemukan jenazah korban.

Basarnas pada hari Jumat memutuskan untuk menghentikan sementara pencarian tiga pendaki yang hilang akibat letusan gunung berapi Dukono yang terus berlanjut di Pulau Halmahera.

"Pencarian telah ditutup sementara hari ini dan akan dilanjutkan besok, bukan karena kami tidak ingin mencari di malam hari, tetapi karena Gunung Dukono akan terus meletus," kata Kepala Kantor SAR Ternate Iwan Ramdani, dikutip dari Reuters, Sabtu (9/5/2026).

Pada Jumat sore, Gunung Dukono masih memuntahkan material vulkanik dari kawahnya, menurut seorang warga lokal yang membantu proses penyelamatan. Aldy Salabia mengatakan kepada BBC bahwa mereka berada di pos perlindungan lokal di gunung sambil mempersiapkan operasi penyelamatan.

"Dari pos perlindungan, kami bisa melihat abu dan material batu terus-menerus terlontar," katanya, dikutip dari BBC, Sabtu (9/5/2026).

Smoke after the eruption of Mount Dukono in North Halmahera Regency, North Maluku, Indonesia, May 8, 2026, in this picture obtained from social media. Jhon Frengki Manipa/via REUTERS  THIS IMAGE HAS BEEN SUPPLIED BY A THIRD PARTY. MANDATORY CREDIT. NO RESALES. NO ARCHIVES.  Verification Lines: - Buildings, flagpole, floor and basketball stand matched file and satellite images. - Date verified by original file metadata.Foto: Jhon Frengki Manipa via REUTERS/Jhon Frengki Manipa

Erlichson mengatakan proses evakuasi jenazah terkendala letusan berulang, medan sulit, dan semburan kuat dari gunung berapi tersebut.

Operasi menuju kawah gunung, yang diyakini menjadi lokasi jenazah para korban, dihentikan sementara saat malam tiba pada Jumat malam. Erlichson mengatakan operasi akan dilanjutkan pada Sabtu.

Selain rombongan pendaki berjumlah 20 orang itu, kesaksian para saksi mata menunjukkan ada pendaki lain di gunung tersebut.

Seorang pemandu yang berada di Gunung Dukono bersama dua orang pengikutnya saat letusan terjadi mengatakan kepada BBC bahwa ia meyakini tekanan tinggi telah terbentuk di dalam gunung selama beberapa hari. Saat mereka mendaki, ia melihat satu kelompok orang berada di tepi kawah, serta kelompok lain sekitar 50 meter dari kawah yang sedang merekam video menggunakan drone.

"Saya mendengar getaran yang dalam. Jadi saya memutuskan segera turun bersama tamu-tamu saya. Dan akhirnya, kami bertiga selamat," ujarnya kepada BBC.

Saat turun, ia melihat banyak pendaki masih berada di puncak, tambahnya. Peringatan larangan mendaki Gunung Dukono telah disebarluaskan melalui media sosial serta spanduk di pintu masuk jalur pendakian, namun sebagian pendaki mengabaikannya.

Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) mengatakan diskusi awal antarotoritas menemukan kemungkinan adanya "kelalaian dari operator wisata atau individu" yang tetap melakukan pendakian ke Gunung Dukono meski ada peringatan.

"Pemerintah terus mengumpulkan informasi untuk mendapatkan gambaran lengkap mengenai insiden ini," katanya.

Gunung Dukono saat ini berada pada level dua dari sistem peringatan empat tingkat milik Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Indonesia, yang menunjukkan adanya peningkatan aktivitas dan perlunya kewaspadaan.

Lembaga tersebut mengatakan sejak Desember 2024 telah merekomendasikan wisatawan dan pendaki untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius 4 km dari kawah utama Gunung Dukono karena ancaman lontaran batu, abu, dan lava.

Meski demikian, hal itu tidak menghalangi para pendaki untuk menaiki gunung setinggi 1.335 meter tersebut.

"Dukono adalah salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia," kata Siti Sumilah Rita Susilawati, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Berbicara kepada wartawan, Susilawati mengatakan zona larangan tersebut merupakan "rekomendasi" yang diberikan lembaganya kepada pemerintah daerah, seraya menambahkan bahwa pihaknya telah "mengomunikasikannya kepada masyarakat setempat".

Dr Daryono dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia mengatakan insiden ini "sekali lagi menunjukkan bahwa gunung berapi aktif tidak pernah bisa diperlakukan sebagai destinasi wisata biasa".

"Di media sosial, publik sering melihat video para pendaki atau influencer yang berhasil naik dan turun dengan selamat. Konten seperti itu perlahan menciptakan persepsi risiko yang keliru," kata Daryono.

Menurutnya, publik hanya melihat mereka yang berhasil turun dan mengunggah konten dramatis, sementara ancaman potensial yang tidak terjadi saat itu menjadi tak terlihat.

"Bahaya sebenarnya tetap ada dan bisa muncul kapan saja dalam bentuk lontaran material pijar, hujan abu tebal, gas vulkanik, atau letusan eksplosif mendadak," kata Daryono.

Adapun kawasan itu telah ditutup untuk pengunjung sejak 17 April setelah para ilmuwan mengamati peningkatan aktivitas vulkanik. Otoritas telah meminta warga dan wisatawan untuk menjauh sejauh 4 km dari Kawah Malupang Warirang, yang menjadi pusat aktivitas vulkanik.

Abu vulkanik bergerak ke arah utara, sehingga badan vulkanologi pemerintah mengeluarkan peringatan bagi warga di Kota Tobelo bahwa mereka dapat terdampak "hujan abu vulkanik". Selain itu, mereka juga memperingatkan adanya ancaman langsung berupa lontaran batu serta potensi aliran lava.

Kepada AFP, pemandu wisata Alex Djangu yang berada di lereng gunung saat letusan terjadi, mengatakan ia tiba bersama rombongan tur pada Kamis dan mendapati gunung tersebut bertingkah "agak aneh".

"Ini pertama kalinya saya melihatnya begitu tenang. Saya mengatakan kepada para tamu bahwa akan terjadi letusan besar karena gunung berapi sedang mengumpulkan tekanan di dasar kawah. Dan prediksi saya ternyata benar," katanya, dikutip dari Al Jazeera, Sabtu (9/5/2026).

Saat letusan terjadi, ada dua kelompok wisatawan dengan total sekitar 15 orang di bibir kawah, tutur pria berusia 48 tahun itu.

"Saya panik, saya pikir mereka semua meninggal, tetapi ternyata pada akhirnya hanya tiga yang meninggal," tambahnya.

Djangu bersama dua pendaki asal Jerman "selamat karena kami berada dalam radius aman," kata sang pemandu, yang menggambarkan peristiwa itu sebagai letusan terbesar Gunung Dukono yang pernah ia saksikan.

"Sebelumnya, ketika terjadi letusan, biasanya hanya ada satu dentuman lalu selesai. Kali ini, letusan dimulai pukul 07.42 pagi dan saat kami turun, intensitasnya masih sama, batu-batu masih keluar dari kawah," jelasnya.

Atas peristiwa ini, pemandu rombongan dan seorang porter dibawa ke kantor polisi dan dapat menghadapi tuntutan pidana karena membawa pendaki ke area terlarang.

(wur)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |