Mata Uang Safe Haven Kini Tak Safe Lagi, Kok Bisa?

3 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang "safe heaven" seperti dolar Amerika Serikat (AS), franc Swiss, dan yen Jepang, selama ini dianggap paling aman di tengah gejolak geopolitik atau ekonomi. Namun baru-baru ini, mata uang yang seharusnya "safe" itu, mengalami volatilitas.

Kenapa?

Dolar AS Melemah

Kebijakan Presiden AS Donald Trump yang kembali merombak tatanan perdagangan global melalui tarif pada 2025 memicu aksi "sell America". Di mana investor melepas aset-aset AS, termasuk dolar yang berstatus mata uang cadangan dunia.

Dalam catatan Desember, bank swasta Swiss Julius Baer menyebut "kebijakan perdagangan yang tidak menentu" sebagai salah satu sumber tekanan dolar. Mereka juga menyoroti rancangan fiskal Trump, "One Big Beautiful Bill Act", yang dinilai mendorong AS menuju lintasan utang yang tidak berkelanjutan.

Tekanan Trump terhadap bos bank sentral, Ketua Federeal Reserve (The Fed) Jerome Powell juga disebut menggerus kepercayaan investor terhadap greenback. Indeks Dolar AS (DXY) tercatat anjlok 9,37% sepanjang 2025 dan kembali melemah pada 2026.

Pada 29 Januari, indeks tersebut sempat turun 1,3% dalam sehari, membawa dolar ke level terendah dalam hampir empat tahun. Ini merupakan penurunan terdalam sejak pengumuman tarif pertama pada April.

Kepala Riset FX di Deutsche Bank, George Saravelos, bahkan menyebut status dolar sebagai safe haven sebagai "mitos". Menurutnya, anggapan bahwa dolar selalu menguat saat terjadi risk-off tidak sepenuhnya benar.

Korelasi historis antara dolar dan ekuitas cenderung mendekati nol. Dalam setahun terakhir dolar kembali terdekorrelasi dari indeks saham seperti S&P 500.

Sementara itu, CEO Smead Capital Management, Cole Smead, menilai pasar tengah memasuki fase bearish jangka panjang dolar. Itu serupa dengan periode pasca gelembung teknologi awal 2000-an ketika dolar terjun sekitar 41% antara 2002 hingga 2008

Yen Tanpa Imbal Hasil

Yen Jepang juga mengalami perjalanan berliku sepanjang 2025. Awal tahun, yen diperdagangkan di kisaran 156 per dolar AS.

Penguatan sempat terjadi saat Bank of Japan memberi sinyal kenaikan suku bunga lanjutan. Namun, pelemahan tajam terjadi setelah Sanae Takaichi menjabat sebagai perdana menteri pada Oktober.

Kebijakan fiskal ekspansifnya memicu aksi jual yen. Ini mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor panjang.

Sejak awal masa jabatan Takaichi hingga 23 Januari, yen melemah sekitar 5,9%. Meski sempat menguat ke sekitar 152 setelah laporan "rate check" oleh The Fed New York, yen kembali bergerak menuju level 157 sebelum stabil pasca kemenangan telak Partai Demokrat Liberal (LDP) dalam pemilu.

"Yen akan mendekati level 160 sekali lagi, tetapi kemungkinan akan terjadi perebutan antara pasar dan otoritas di dekat angka 159," kata bank Belanda ING dalam catatan tanggal 9 Februari. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent.

Franc Swiss Perkasa Tapi Dilema

Berbeda dengan dolar dan yen, franc Swiss justru menguat tajam. Sepanjang 2025, franc terapresiasi hampir 13% terhadap dolar AS dan memperpanjang penguatannya pada 2026, bahkan menyentuh level tertinggi 11 tahun terhadap dolar dan euro.

Stabilitas politik, tingkat utang rendah, serta ekonomi yang terdiversifikasi membuat Swiss kembali dipandang sebagai "safe haven sejati". Namun, mata uang yang terlalu kuat juga menjadi masalah.

Inflasi Swiss hanya sekitar 0,1%, sementara suku bunga acuan Swiss National Bank berada di level 0%. Penguatan franc berpotensi menambah tekanan disinflasi bagi ekonomi berbasis ekspor.

Ketua SNB Martin Schlegel mengatakan pihaknya siap melakukan intervensi di pasar valuta asing jika diperlukan. Ekonom di bank investasi Swiss UBS memperkirakan franc bisa melemah sekitar 2% terhadap dolar pada akhir tahun, meski ruang penguatan lanjutan dinilai terbatas.

Berubah?

Strategi safe haven tampaknya tidak lagi sesederhana dulu. Dolar kehilangan daya tariknya akibat tekanan fiskal dan ketidakpastian kebijakan.

Yen terjebak antara normalisasi suku bunga dan risiko intervensi. Sementara franc Swiss, meski tampil paling solid, menghadapi risiko domestik akibat penguatan berlebihan.

Matthew Ryan dari Ebury menilai dolar dan yen telah kehilangan sebagian "kilau"-nya. Sementara franc Swiss kini mengukuhkan diri sebagai mata uang safe haven pilihan utama.

(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |