Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang Asia kompak menguat sepanjang pekan ini didukung oleh pelemahan dolar Amerika Serikat (AS), termasuk rupiah.
Merujuk data Refinitiv dari pantauan terhadap 10 mata uang Asia, seluruhnya kompak menguat terhadap dolar AS. Penguatan paling tajam pagi ini dicatatkan won Korea Selatan yang melonjak 2,4% ke posisi KRW 1.407,48/US$. Baht Thailand menyusul dengan kenaikan 1,11% ke THB 33,03/US$.
Dolar Taiwan juga bergerak solid dengan penguatan 0,19% ke posisi TWD 32,236/US$, sedangkan peso Filipina naik 0,64% ke PHP 60,823/US$.
Rupiah turut perkasa dalam melawan dolar AS. Mata uang Garuda terapresiasi 0,58% ke posisi Rp17.855/US$. Posisi ini membuat rupiah semakin menjauh dari level psikologis Rp18.000/US$.
Dong Vietnam menguat 0,33% yang diikut oleh dolar Singapura juga masing-masing terapresiasi 0,3% dan yuan China naik 0,05%. Adapun, ringgit Malaysia dan yen Jepang sama-sama melemah, masing-masing 0,23% dan 0,13%.
Penguatan mata uang Asia pekan ini sejalan dengan dolar AS yang masih tertahan di zona merah. Indeks dolar AS (DXY) pada pagi ini terpantau turun 0,38% ke posisi 99,539, yang artinya DXY masih berada di dekat level terendahnya dalam enam pekan.
DXY kesulitan mencari arah karena pelaku pasar masih berhati-hati mencermati perkembangan kesepakatan AS-Iran serta menunggu data tenaga kerja AS pada akhir pekan.
Saat ini pasar masih mencermati rencana kesepakatan antara Iran dan Oman yang disebut dapat membantu mengakhiri konflik AS-Iran. Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengatakan kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz sudah dekat, meski pejabat AS menegaskan tidak akan menyetujui Iran mengendalikan akses ke jalur perdagangan energi paling penting dunia tersebut.
Iran bersama Oman sedang membahas aturan baru yang berpotensi membatasi kapal-kapal yang dianggap bermusuhan untuk melintas di jalur tersebut. Rancangan aturan itu bahkan memuat usulan denda hingga 20% dari nilai muatan bagi kapal yang melanggar.
Selain itu, Iran mengusulkan pungutan sekitar 5%-7% dari nilai kargo bagi kapal yang melewati Selat Hormuz. Oman dikabarkan mengusulkan tarif sekitar 3%, sedangkan Amerika Serikat menginginkan lalu lintas tetap bebas tanpa pungutan.
Rencana tersebut memicu keraguan pelaku pasar terhadap prospek normalisasi pengiriman minyak. Empat sumber industri yang dikutip Reuters menyebut skema tersebut sulit diterapkan karena masih terbentur sanksi Amerika Serikat terhadap Iran serta klausul asuransi yang membatasi mekanisme pembayaran.
Analis pasar utama KCM Trade, Tim Waterer, mengatakan pasar masih menyimpan keraguan terhadap efektivitas kesepakatan baru karena sebelumnya sudah ada upaya serupa yang hanya bertahan sementara. Kondisi itu membuat harga minyak tetap memperoleh dukungan.
Sementara Ray Attrill, head of FX strategy National Australia Bank, menilai pasar masih memilih menunggu kejelasan.
"Pasar saat ini benar-benar berada dalam mode wait and see," ujar Attrill dalam sebuah podcast, dikutip dari Reuters.
Dia juga menilai volatilitas harga minyak yang sebelumnya menjadi penggerak utama pasar mulai mereda.
"Kita tidak lagi melihat volatilitas pasar minyak yang selama beberapa hari dan pekan terakhir menjadi penggerak utama sebagian besar pasar," kata Attrill.
Di sisi lain, ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali bertambah setelah kelompok Houthi di Yaman mengklaim melancarkan serangan rudal dan drone ke posisi Saudi di wilayah Marib dan Hadramout pada Kamis.
Sebelumnya harga minyak sempat tertekan pada awal pekan karena muncul harapan adanya solusi atas konflik yang berlangsung sejak akhir Februari. Namun, perkembangan terbaru membuat premi risiko geopolitik kembali masuk ke pasar. Brent pun kembali bertahan di atas US$80 per barel setelah sempat turun di bawah level tersebut untuk pertama kalinya sejak 13 Juli.
Meski Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan perang diyakini akan segera berakhir, pelaku pasar masih menunggu kepastian mengenai implementasi aturan pelayaran di Selat Hormuz. Selama jalur strategis tersebut masih dibayangi ketidakpastian, volatilitas harga minyak diperkirakan tetap tinggi.
(ras/ras)

3 hours ago
3

















































