Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
18 February 2026 11:25
Jakarta, CNBC Indonesia - Bulan Ramadan akan segera dimulai. Mayoritas umat Islam di Indonesia akan memulai puasa pada Kamis (19/2/2026), meskipun sebagian sudah mulai hari ini Rabu (18/2/2026).
Bulan Ramadan bukan hanya momentum keagamaan bagi masyarakat Indonesia, tetapi juga menjadi salah satu periode penting bagi ekonomi Indonesia. Bulan Ramadan selalu menjadi puncak konsumsi masyarakat, seiring dengan Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia ini.
Aktivitas ekonomi selama bulan puasa hingga Idulfitri biasanya melonjak di banyak sektor. Selama Ramadan, belanja makanan dan minuman biasanya meningkat. Permintaan bahan pokok pun ikut menguat, yang disusul oleh lonjakan belanja fashion muslim dan baju lebaran karena tradisi memakai busana baru saat lebaran.
Pertanyaannya, menjelang Ramadan tahun ini, seberapa kuat sebenarnya kondisi dompet masyarakat. Sejumlah indikator menunjukkan sinyal yang menarik, konsumsi masih terjaga, keyakinan menguat, tetapi belanja masyarakat sedang kembali selektif setelah puncak libur Natal dan Tahun Baru.
1. Penjualan Ritel
Dari sisi aktivitas belanja ritel, sinyal penguatan terlihat di awal 2026. Bank Indonesia (BI) mencatat hasil Survei Penjualan Eceran yang menunjukkan kinerja Indeks Penjualan Riil (IPR) Januari 2026 diprakirakan tumbuh 7,9% secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka ini melonjak dibandingkan realisasi Desember 2025 yang hanya tumbuh 3,5% yoy.
Penguatan itu mengindikasikan konsumsi masyarakat yang masih terjaga pada awal tahun ini, terutama pada kelompok belanja yang biasanya sensitif terhadap momentum musiman dan kebutuhan rumah tangga.
Pada Desember lalu, penjualan ritel menguat karena dorongan Natal dan Tahun Baru. Secara bulanan (month-to-month/mtm), penjualan eceran naik 3,1%, lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya yang naik 1,5% mtm. Penguatan Desember ditopang penjualan suku cadang dan aksesori, makanan minuman dan tembakau, serta barang budaya dan rekreasi.
Namun memasuki Januari, kondisi sedikit berbeda. Meski kencang secara tahunan, BI memperkirakan penjualan eceran secara bulanan justru terkontraksi 0,6% mtm. Pelemahan ini dinilai sejalan dengan normalisasi konsumsi setelah periode Natal dan Tahun Baru.
Meski begitu, kontraksinya jauh lebih kecil dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 4,7% mtm. Artinya, setelah euforia belanja liburan mereda, penurunannya tidak sedalam tahun lalu, memberi sinyal konsumsi masih punya bantalan.
Sebagai catatan, IPR menggambarkan nilai penjualan eceran setelah disesuaikan dengan inflasi. Karena mengukur penjualan dalam nilai riil, indikator ini kerap dipakai untuk membaca arah konsumsi masyarakat dan daya beli yang lebih mendekati kondisi sebenarnya.
2. Indeks Keyakinan Konsumen Menguat
Dari sisi psikologi dan persepsi dompet, optimisme konsumen juga menguat di awal tahun. Survei Konsumen Bank Indonesia mencatat Indeks Keyakinan Konsumen IKK pada Januari 2026 naik ke 127, lebih tinggi dibanding Desember 2025 yang sebesar 123,5.
Kenaikan ini mencerminkan keyakinan masyarakat terhadap kondisi ekonomi yang membaik dan prospek ke depan yang semakin optimistis. BI menjelaskan, penguatan keyakinan konsumen bersumber dari persepsi terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun ekspektasi ke depan yang sama-sama berada di level optimis dan meningkat dibanding periode sebelumnya.
Secara rinci, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini IKE naik ke 115,1 pada Januari 2026 dari 111,4 pada bulan sebelumnya. Sementara Indeks Ekspektasi Konsumen IEK meningkat menjadi 138,8 dari 135,6. IEK sendiri mencerminkan pandangan konsumen terhadap kondisi ekonomi enam bulan ke depan. Semakin tinggi indeksnya, semakin kuat optimisme masyarakat terhadap perekonomian.
Sinyal ini penting jelang memasuki masa Ramadan. Ketika keyakinan membaik, masyarakat biasanya lebih berani menjaga konsumsi, terutama untuk kebutuhan rumah tangga dan momen musiman. Namun kuatnya keyakinan tidak selalu berarti belanja akan melebar ke semua pos, karena prioritas pengeluaran bisa berubah.
3. Mandiri Spending Index
Belanja masyarakat di awal 2026 mulai melambat setelah melewati puncak konsumsi pada periode libur Natal dan Tahun Baru. Data Mandiri Spending Index (MSI) per 25 Januari 2026 menunjukkan belanja masyarakat turun 4,4% secara mingguan ke level 350,7. Pelemahan ini lebih dalam dibanding pekan sebelumnya yang turun 1,5%.
Menurut MSI, penurunan tersebut terjadi seiring normalisasi pasca libur Nataru. Periode libur panjang memang kerap menjadi puncak konsumsi, karena di tengah waktu luang masyarakat cenderung lebih berani mengeluarkan uang untuk kebutuhan liburan dan belanja non-esensial.
Foto: Mandiri Institute
Mandiri Spending Index
Tidak semua turun: pendidikan dan kesehatan justru menguat
Meski belanja secara umum melemah, tidak semua pos ikut menurun. Data Mandiri menunjukkan belanja pendidikan (education) melanjutkan akselerasi dan tumbuh 13,4% secara mingguan, lebih tinggi dari pekan sebelumnya yang tumbuh 12,5%. Catatan ini mengarah pada indikasi pembayaran biaya pendidikan yang dilakukan lebih awal.
Di saat yang sama, belanja kesehatan (medical) kembali menguat 1,1% secara mingguan setelah pada pekan sebelumnya sempat turun tipis 0,8%. Ini memperlihatkan pos kebutuhan dasar relatif tetap berjalan, bahkan ketika pos lain melambat.
Sementara itu, sejumlah kelompok belanja lain masih berada dalam tren perlambatan, terutama mobilitas, leisure, dan consumer goods. Laporan MSI menunjukkan kelompok tersebut melanjutkan penurunan, sehingga konsumsi non-esensial terlihat lebih mudah turun begitu periode liburan berakhir.
Untuk kelompok mobilitas, perlambatan dinilai terjadi pada seluruh komponennya dengan penurunan yang lebih dalam dibanding periode yang sama tahun lalu. Artinya, setelah puncak perjalanan di akhir tahun, aktivitas bergerak masyarakat cenderung kembali normal.
Proporsi belanja kembali ke kebutuhan dasar: supermarket naik
Normalisasi belanja pasca libur panjang juga terlihat dari komposisi pengeluaran masyarakat. Jika dilihat dari proporsi belanja, porsi pengeluaran untuk kebutuhan paling dasar mulai kembali menguat, salah satunya belanja supermarket.
Pada awal 2026, belanja supermarket mengambil porsi 15,6% dari total belanja. Angka ini naik dibanding Desember 2025 yang sebesar 15,2%. Kenaikan ini memberi sinyal bahwa setelah belanja musiman mereda, masyarakat mulai menata ulang prioritas dan kembali mengarahkan pengeluaran ke kebutuhan sehari-hari.
Tabungan meningkat saat belanja mereda
Yang menarik, di saat belanja mereda, tabungan masyarakat justru menguat. Data Mandiri Saving Index menunjukkan indeks tabungan kelompok bawah naik ke 72,6 dari 72,4 pada Desember 2025. Kelompok atas naik ke 94,1 dari 92,0. Sementara kelompok menengah relatif stabil di 101,1 dari 101,2.
Mandiri menjelaskan, indeks tabungan menggunakan basis Januari 2022 sama dengan 100 serta membagi rekening tabungan perorangan menjadi tiga kelompok. Kelompok bawah rata-rata tabungan di bawah Rp1 juta, kelompok menengah Rp1 juta-Rp10 juta, dan kelompok atas di atas Rp10 juta.
Foto: Mandiri Institute
Mandiri Saving Index
Kombinasi belanja yang melambat dan tabungan yang meningkat dapat dibaca sebagai sinyal kehati-hatian. Setelah konsumsi tinggi di akhir tahun, rumah tangga seperti menarik napas sejenak, merapikan keuangan, dan menyiapkan simpanan.
Belanja masyarakat secara umum masih kuat dibandingkan tahun lalu. Masyarakat juga menilai kondisi ekonomi cukup baik dan tetap optimistis dalam beberapa bulan ke depan.
Namun setelah periode belanja besar saat libur Natal dan Tahun Baru, pengeluaran harian kini mulai melambat karena banyak orang kembali menata prioritas keuangannya.
Menjelang Ramadan, belanja biasanya akan meningkat lagi. Namun kenaikannya kemungkinan lebih banyak mengalir ke kebutuhan yang benar-benar penting, seperti bahan makanan, kebutuhan dapur, serta barang-barang yang biasa dibeli selama puasa hingga Lebaran. Ini bukan berarti dompet masyarakat langsung melemah, melainkan penggunaan uang menjadi lebih hati-hati.
Kebutuhan wajib tetap dibeli, sementara belanja tambahan cenderung ditunda sampai benar-benar diperlukan.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)

3 hours ago
3
















































