Marco Rubio: 'Bunglon' Kepercayaan Trump, Otak Kebijakan Keras Amerika

2 hours ago 2

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

24 March 2026 21:00

Jakarta, CNBC Indonesia - Dari lawan jadi orang kepercayaan, Marco Rubio kini berada di pusat kebijakan luar negeri Trump dan menanggung risikonya.

Melansir dari The Economist, pada satu dekade lalu, Marco Rubio pernah menyebut Donald Trump sebagai "penipu". Saat itu, keduanya sedang bersaing untuk menjadi calon presiden dari Partai Republik. Trump membalas dengan mengejek Rubio sebagai "Little Marco". Rubio bahkan sempat memperkirakan bahwa pemerintahan yang dipimpin Trump akan berujung pada "kekacauan".

Kini hubungan keduanya jauh lebih baik. Sebagai menteri luar negeri dalam pemerintahan Trump, Rubio menunjukkan sikap yang sangat hormat kepada atasannya. Sebaliknya, Trump juga memuji Rubio dan mengatakan bahwa ia akan "tercatat sebagai menteri luar negeri terhebat dalam sejarah".

Rubio kini muncul sebagai salah satu orang istana yang paling dihargai Trump. Ia dikenal tenang, pandai berbicara, dan cakap dalam bekerja. Rubio berusaha memberi arah yang lebih jelas pada kebijakan luar negeri Trump. Ia juga menjadi pendukung paling menonjol dari pergeseran kebijakan luar negeri Trump yang semakin keras tahun ini.

Pada Januari lalu, ketika Trump mengirim pasukan komando untuk menculik pemimpin Venezuela, dan pada Februari saat ia memerintahkan pengeboman Iran, Rubio berada di sisinya sambil memantau siaran langsung dari Mar-a-Lago. Sementara itu, wakil presiden yang lebih condong ke isolasionisme, J.D. Vance, mengikuti perkembangan dari tempat lain.

Jika gelombang petualangan militer yang terjadi sekarang berakhir baik, Rubio akan berada dalam posisi yang kuat untuk kembali maju sebagai calon presiden selanjutnya. Dalam percakapan tertutup, Trump kerap bertanya kepada pendukungnya, siapa yang lebih cocok menjadi capres Partai Republik pada 2028, Rubio atau Vance.

Banyak hal akan bergantung pada dukungan Trump, karena pengaruhnya sangat besar di kalangan pemilih pemilihan pendahuluan Partai Republik. Namun, dengan alasan yang cenderung Machiavellian, yakni agar kekuasaannya sendiri tidak cepat memudar, Trump kemungkinan akan membiarkan kedua nama itu terus menebak-nebak selama mungkin.

Bursa taruhan pun menunjukkan posisi Rubio sedang naik. Pada awal tahun, Polymarket menempatkan Vance unggul 44 poin persentase. Kini jaraknya tinggal 10 poin. Namun, jajak pendapat YouGov yang dikutip dari The Economist menunjukkan Vance masih memiliki tingkat kesukaan bersih yang lebih tinggi dibanding Rubio di kalangan pemilih Republik, yakni unggul 68 poin berbanding 47. Vance juga unggul di semua kelompok ideologis dalam partai.

Meski begitu, Rubio pernah membalikkan keadaan dari posisi yang lebih sulit. Saat pertama kali maju sebagai calon senator pada 2010, ia memulai dengan ketertinggalan 30 poin dari lawannya yang saat itu menjabat sebagai gubernur. Namun pada akhirnya, ia menang dengan mudah.

Daya tarik Rubio kepada pemilih saat itu sebagian dibangun dari kisah hidupnya. Orang tuanya yang berasal dari Kuba yang datang ke Amerika tanpa bisa berbahasa Inggris dan tanpa uang. Mereka bekerja keras agar anak-anaknya bisa hidup lebih baik, sang ayah bekerja sebagai bartender dan ibunya sebagai kasir.

Karena itu, Rubio yang saat itu baru berusia 38 tahun dan sudah menjadi ketua DPR Negara Bagian Florida, dipandang sebagai gambaran mimpi imigran Amerika. Saat melihatnya berkampanye pada masa itu, The Economist bahkan membandingkannya dengan Barack Obama, sosok muda karismatik lain yang dinilai "pandai membuat orang merasa seolah ia setuju dengan mereka tanpa benar-benar melakukannya".

Rubio kemudian menghabiskan 14 tahun di Senat dan dihormati dengan baik di sana. Rekan-rekannya mengesahkan pengangkatannya sebagai menteri luar negeri dengan suara bipartisan yang telak, 99 berbanding 0, meski kini beberapa anggota Demokrat mengaku menyesal.

Ia menjadi orang pertama sejak Henry Kissinger yang secara bersamaan menjabat sebagai penasihat keamanan nasional. Ia juga memimpin USAID dan sampai belum lama ini turut memimpin Arsip Nasional. Salah satu orang dekat Trump menyebut Rubio sebagai sosok yang aman untuk diandalkan.

Meski demikian, kekuasaan Rubio tidak sebesar banyak pendahulunya. Lembaga-lembaga yang ia pimpin kini jauh lebih kecil setelah Trump memangkas anggaran dan membersihkan diplomat-diplomat berpengalaman yang dianggap kurang cukup MAGA.

Bahkan sejumlah isu paling sensitif, termasuk perundingan dengan Israel, negara-negara Arab, Iran, Rusia, dan Ukraina, justru sebagian besar dipercayakan kepada teman main golf Trump, Steve Witkoff, serta menantunya, Jared Kushner.

Namun seorang abdi istana tidak akan mengeluhkan perlakuan semacam itu. Ia juga tidak berharap menentukan kebijakan, melainkan hanya menjalankannya. Tugas Rubio yang paling penting adalah selalu berada di dekat pemimpinnya, mondar-mandir di Air Force One antara Washington dan Mar-a-Lago.

Tugas seperti itu tentu melelahkan. Dalam perjalanan panjang, agar tidak dibangunkan sewaktu-waktu oleh Trump, Rubio kadang menyelimuti dirinya dengan selimut dan berpura-pura menjadi staf yang sedang tidur.

Marco yang Mudah Berubah

Untuk naik dan bertahan di dunia politik Trump, Rubio harus bersikap keras sekaligus lentur seperti bunglon. Saat masih menjadi senator, ia adalah salah satu pendukung utama reformasi imigrasi bipartisan, termasuk memberi jalan bagi sebagian migran ilegal untuk menjadi legal. Ia juga mendukung pemberian senjata kepada Ukraina agar bisa mempertahankan diri dari Rusia.

Kini ia justru melayani seorang pemimpin yang menyukai deportasi massal dan terlihat lunak terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin. Karena itu, sebagian orang meragukan ketulusannya. Seorang aktivis Partai Republik bahkan mengejeknya sebagai "ratu drag versi MAGA".

Para pembela Rubio mengatakan justru dialah yang menahan Trump agar tidak bertindak terlalu jauh. Pemerintah negara-negara Eropa melihat Rubio sebagai salah satu dari sedikit tokoh Trump yang masih bisa diajak untuk berurusan.

Meski terkadang berbeda pandangan dengan Vance, Rubio disebut membantu mencegah kerusakan total hubungan trans-Atlantik dan mencegah Ukraina benar-benar ditinggalkan. Beberapa pihak juga menilai diamnya Trump belakangan soal rencana merebut Greenland merupakan hasil pengaruh dari Rubio.

Tahun lalu dalam Konferensi Keamanan Munich, Vance membuat para pemimpin Eropa kaget lewat pidato bernuansa perang budaya yang mengecam upaya mereka mengisolasi partai-partai kanan populis. Tahun ini, di forum yang sama, Rubio pada dasarnya menyampaikan pesan yang serupa. Bedanya, ia membungkusnya dengan bahasa soal pengorbanan bersama dalam dua perang dunia dan kecintaan pada peradaban Barat.

Hasilnya, ia mendapat standing ovation dan juga perhatian Trump. Belakangan, Trump menyebut Vance sebagai sosok "brilian" yang kadang "terlalu keras" dan perlu ditahan. Sebaliknya, kata Trump, "Marco melakukannya dengan sarung tangan beludru. Tapi tetap mematikan, kan? Hasilnya sama."

Rubio juga menikmati ruang gerak yang lebih luas di belahan bumi barat. Ia membentuk naluri "America First" Trump menjadi strategi kawasan. Karena fasih berbahasa Spanyol, Rubio tampil seperti wakil penguasa di Amerika Latin.

Perjalanan luar negeri pertamanya sebagai menteri luar negeri adalah ke Amerika Tengah dan Karibia, dengan tujuan membantu menahan arus migran sekaligus menyiapkan panggung untuk konfrontasi dengan Venezuela. Namun sebelum itu, ia lebih dulu harus menyingkirkan orang istana lain, Richard Grenell, yang ingin mencari jalan akomodasi dengan rezim Venezuela.

Rubio memilih jalur tekanan dan perubahan rezim. Trump akhirnya memilih opsi kedua itu, menggulingkan diktator Venezuela yang tetap membangkang, Nicolás Maduro, dan mendorong naiknya wakilnya, Delcy Rodríguez, yang diharapkannya akan lebih mudah diarahkan.

Target Rubio berikutnya adalah Kuba, tanah leluhur keluarganya. Rezim komunis di negara itu nyaris bangkrut akibat salah urus selama puluhan tahun, embargo minyak, dan hilangnya sekutu dermawan dari Venezuela. Karena sangat butuh bantuan, Kuba kini sedang berbicara dengan pemerintahan Trump.

Rubio mengatakan pulau itu tidak hanya membutuhkan kebijakan ekonomi baru, tetapi juga pemimpin baru. Antusiasme warga Kuba-Amerika di Florida pun meningkat. Joe Garcia, mantan anggota Kongres dari Partai Demokrat, mengatakan bahwa Rubio adalah "perwujudan dari semua harapan, mimpi, dan frustrasi komunitas Kuba-Amerika di pengasingan".

Namun Rubio menghadapi tugas yang rumit. Banyak sesama warga Kuba-Amerika menginginkan demokrasi di Havana dan pengembalian harta yang disita rezim pada 1960-an. Sementara itu, Trump bisa saja memilih jalan yang lebih mudah, yakni kesepakatan model Venezuela yang tetap mempertahankan sistem lama yang dibenci, tetapi memberi perlakuan lebih baik bagi bisnis Amerika.

Di Timur Tengah, Rubio yang sangat pro-Israel merupakan pendukung perang dengan Iran yang lebih kuat dibanding Vance. Itu menempatkannya di pusat peristiwa, tetapi juga membuatnya lebih terekspos jika situasinya memburuk.

Marco Rubio. (AP Photo/Mark Schiefelbein, Pool)Foto: Marco Rubio. (AP Photo/Mark Schiefelbein, Pool)
Marco Rubio. (AP Photo/Mark Schiefelbein, Pool)

Rezim Iran telah bertahan dari tiga minggu pengeboman Amerika dan Israel, bahkan memperluas perang ke kawasan dan mengguncang pasar energi global. Trump kemungkinan tidak akan menyalahkan dirinya sendiri karena gagal memprediksi hal itu.

Sebagai penasihat keamanan nasional, tugas Rubiolah untuk mengawasi proses antar-lembaga, yakni koordinasi antar badan pemerintah, guna merencanakan perang dan menyiapkan dampaknya.

Rubio juga sempat membuat kekeliruan ketika mengatakan bahwa Amerika harus mengebom Iran karena Israel akan melakukannya juga. Pernyataan itu justru memberi amunisi bagi tudingan bahwa Amerika sedang berperang untuk kepentingan Israel.

Jika Iran berakhir sukses, posisi Rubio akan menguat. Namun jika Timur Tengah kembali menjadi bencana, menurut salah satu sumber dekat Trump, hal itu bisa menjadi akhir karier politiknya.

Sementara itu, Rubio sendiri berusaha mengecilkan ambisinya. Ia mengatakan akan mendukung Vance jika wakil presiden itu maju dalam pemilihan 2028.

Namun sikap ini belum tentu sepenuhnya tanpa kepentingan. Trump sedang tidak populer, dan pemilih bisa saja memilih kandidat Demokrat sebagai penggantinya. Bisa jadi Rubio menilai akan lebih cerdas membiarkan Vance kalah pada 2028, lalu mencoba peruntungannya sendiri pada 2032.

Pada saat itu, suasana politik Amerika mungkin sudah berubah lagi. Dan Rubio, yang pernah berpindah dari Katolik ke Mormon, lalu kembali ke Katolik, kemudian menjadi Baptis, lalu kembali lagi ke Katolik, kemungkinan besar akan kembali menyesuaikan diri.

Profil Singkat Marco Rubio
Nama lengkap: Marco Antonio Rubio
Lahir: 28 Mei 1971, Miami, Florida
Asal: Keturunan imigran Kuba
Partai: Republik
Istri: Jeanette Rubio
Jabatan utama:
Senator AS (2010-2025)
Menteri Luar Negeri AS ke-72 (2025-sekarang)\

Karier & Peran Penting
Komisioner Kota West Miami
Ketua DPR Negara Bagian Florida
Senator AS selama 14 tahun
Tokoh kunci di:
Komite Hubungan Luar Negeri
Komite Intelijen
Komite Anggaran

Ciri Khas & Posisi Politik
Keras terhadap China, Iran, dan rezim otoriter
Pendukung kuat kebijakan America First
Dikenal adaptif dalam dinamika politik (sering dijuluki "bunglon politik")

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Kasus| | | |