Jakarta, CNBC Indonesia - Volume sampah yang dihasilkan dari aktivitas masyarakat sehari-hari makin tak terkendali dan dapat berdampak buruk pada lingkungan jika tidak ditangani dengan serius.
Melihat hal itu, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI terus memperkuat implementasi ekonomi sirkular sekaligus mendorong inklusi keuangan melalui Program BNI Agen46 Bank Sampah. Program yang telah berjalan sejak 2017 ini memungkinkan masyarakat mengelola sampah anorganik menjadi tabungan melalui sistem perbankan digital.
Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo mengatakan, inisiatif tersebut dirancang untuk menghadirkan solusi konkret atas persoalan sampah sekaligus membuka akses layanan keuangan formal bagi masyarakat.
"Sampah yang menumpuk dapat berdampak buruk bagi kesehatan dan lingkungan. Melalui Program BNI Agen46 Bank Sampah, kami menghadirkan solusi agar masyarakat bisa berkontribusi menjaga lingkungan sekaligus memperoleh manfaat ekonomi," ujar Okki dalam keterangan tertulis dikutip Jumat (20/2/2026).
Melalui skema ini, masyarakat diajak memilah dan menyetorkan sampah anorganik bernilai ekonomis seperti botol plastik, kardus, logam, hingga minyak jelantah. Sampah yang telah ditimbang kemudian dikonversi menjadi saldo tabungan di rekening BNI milik nasabah.
Proses konversi dilakukan secara real-time melalui sistem BNI Agen46 dengan menggunakan mesin Electronic Data Capture (EDC). Setelah tercatat sebagai saldo tabungan, sampah yang terkumpul akan dibeli oleh mitra pengepul untuk selanjutnya didaur ulang dan diolah kembali.
Program ini dinilai tidak hanya membantu mengurangi timbulan sampah yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), tetapi juga menciptakan nilai ekonomi baru bagi masyarakat lokal. Selain itu, keberadaan Agen46 Bank Sampah turut memperluas jangkauan layanan keuangan BNI, khususnya bagi masyarakat yang sebelumnya belum memiliki akses perbankan formal.
"Dengan BNI Agen46 Bank Sampah, sampah bisa menjadi tabungan dan lingkungan menjadi lebih bersih serta nyaman. Program ini merupakan wujud komitmen BNI dalam mendukung keberlanjutan sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat," tambah Okki.
BNI menegaskan penguatan program ini sejalan dengan semangat Hari Peduli Sampah Nasional yang diperingati setiap 21 Februari. Melalui integrasi ekonomi sirkular dan layanan keuangan digital, BNI berharap masyarakat semakin terdorong untuk mengelola sampah secara bertanggung jawab sekaligus meningkatkan kesejahteraan melalui akses keuangan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Tidak hanya masyarakat pada umumnya, BNI melalui anak usahanya, BNI Ventures, meluncurkan program Dropbox Sampah Kertas di lingkungan perkantoran. Inisiatif ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) yang jatuh pada 21 Februari 2026 sekaligus upaya membangun ekosistem pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular di internal BNI Grup.
Dua drop box telah ditempatkan di Grha BNI, Dukuh Atas, dan Menara BNI, Pejompongan, Jakarta. Program ini bertujuan mendorong karyawan dan masyarakat sekitar untuk memilah serta mengelola limbah kertas secara bertanggung jawab, sehingga tidak berakhir di TPA.
Kertas yang terkumpul melalui dropbox tidak dibuang, melainkan didaur ulang menjadi planting paper - kertas buatan tangan yang mengandung benih tanaman dan dapat tumbuh setelah digunakan. Transformasi limbah kertas perkantoran menjadi produk ramah lingkungan ini diharapkan memberikan nilai tambah sekaligus memperpanjang siklus hidup material.
Sementara itu, Eddi Danusaputro mewakili BNI Ventures menyampaikan bahwa keterlibatan pihaknya merupakan bagian dari peran strategis dalam mendorong solusi inovatif berbasis keberlanjutan di lingkungan BNI Grup.
Program ini juga dijalankan melalui kemitraan strategis dengan PaperPods, startup yang memperkenalkan circular paper dropbox pertama di Indonesia. Solusi tersebut memungkinkan korporasi menyalurkan limbah kertas untuk didaur ulang secara handmade oleh perajin perempuan senior, sekaligus memberdayakan kelompok masyarakat.
Seluruh proses pengelolaan dilengkapi sistem pelacakan digital untuk mengukur dampak lingkungan secara transparan, mulai dari jumlah kertas yang berhasil dialihkan dari TPA, estimasi emisi karbon (CO₂) yang dihindari, hingga jumlah pohon yang berpotensi terselamatkan.
(dpu/dpu)
Addsource on Google

2 hours ago
1















































