Jakarta, CNBC Indonesia - Ekspor produk Indonesia beberapa sektor saat ini tengah tertekan, berdasarkan rilis Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Kemenperin yang berorientasi ekspor tercatat sebesar 52,28, atau melambat dibandingkan bulan sebelumnya, dimana pada bulan Maret tercatat 52,73.
Ada 7 sektor industri yang mengalami kontraksi, di antaranya industri kayu, barang dari kayu dan gabus di luar furnitur serta anyaman bambu dan rotan (KBLI 16).
Pelaku industri mebel dan kerajinan mengakui, selama ini industri kriya nasional terlalu lama terjebak dalam kompetisi berbasis harga dan volume produksi, sehingga sulit bersaing dengan negara seperti China dan Vietnam.
"Kita tidak bisa terus bermain di volume. Kekuatan Indonesia ada pada desain, budaya, dan craftsmanship. Kita bisa naik kelas ke high value market," Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur kepada CNBC Indonesia, Kamis (30/4/2026).
Artinya industri berbasis kayu tidak lagi bisa mengandalkan model lama yang bertumpu pada volume produksi dan harga murah. Cara tersebut menjadi sinyal pendekatan lama semakin sulit dipertahankan, terutama ketika harus bersaing dengan negara seperti China dan Vietnam yang unggul dalam skala produksi.
Upaya mengenalkan produk juga dilakukan melalui berbagai pameran, seperti yang terbaru Tatah di Monumen Nasional yang juga menjadi perhatian dunia usaha hingga Menteri Kebudayaan.
"Ini repositioning. Dari manufacturing ke creative value creation," kata Sobur.
Lebih lanjut, Sobur melihat peluang integrasi yang lebih erat antara sektor industri, desain, dan seni sebagai langkah strategis untuk mendorong ekspor. Dengan pendekatan tersebut, produk Indonesia diharapkan tidak hanya bersaing dari sisi harga, tetapi juga memiliki kualitas yang kuat di pasar global.
"Jika ini konsisten dilakukan, Indonesia tidak hanya menjadi produsen, tapi menjadi trend setter di segmen tertentu," sebut Sobur.
Di tengah tekanan ekspor, strategi berbasis desain dan identitas budaya menjadi salah satu jalan bagi produk kayu Indonesia untuk tetap kompetitif di pasar global.
Sementara, Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Febri Hendri Arief menyebut IKI April 2026 berada pada level 51,75 sedikit melambat sebesar 0,11 poin dibandingkan bulan sebelumnya. Ia mengakui variabel pesanan dan produksi mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya, yang mengindikasikan adanya perlambatan permintaan dan aktivitas produksi.
"Perlambatan yang terjadi ini masih dalam batas wajar dan merupakan fase penyesuaian industri. Di sisi lain, terjadi peningkatan pada variabel persediaan, yang juga menunjukkan adanya penyesuaian stok oleh pelaku industri dalam merespons kondisi pasar," ujar Febri dalam keterangannya.
(dce)
Addsource on Google

7 hours ago
1
















































