Ketika Balak Kosong Jadi Penentu

3 hours ago 2

Di sebuah sudut santai Kabupaten Aceh Barat Daya Abdya), jauh dari ruang rapat, meja kerja, kebun sawit, hingga ruang redaksi, ada satu ruang yang menyatukan banyak dunia: meja batu domino. 

Di atas meja itu, gelas kopi, tawa, strategi dan gengsi, bercampur menjadi satu. Mereka menyebut dirinya Group “Aqua Kopi Pahit Ek Soh”, sebuah komunitas kecil yang lahir dari kebutuhan sederhana: melepas penat, setelah bubar dari rutinitas, tanpa kehilangan keakraban.

Nama “Aqua Ek Soh” sendiri lahir dari guyonan khas. Air mineral yang seharusnya menenangkan suasana, justru kerap menjadi saksi ketegangan ketika permainan memanas. Domino, bagi mereka, bukan sekadar permainan angka. Ia adalah ruang interaksi sosial yang membongkar karakter, menguji kesabaran dan terkadang menelanjangi ego.

Sore itu, permainan berlangsung sengit. Tawa sesekali pecah, lalu mendadak sunyi ketika batu domino mulai diaduk. Dalam permainan domino, ada satu kondisi yang paling menentukan sekaligus paling menyebalkan: Balak Kosong. Ketika batu kunci yang ditunggu tak kunjung muncul, dan arah permainan berubah tanpa diduga.

Nersam, pengusaha perkebunan sawit yang dikenal tenang, memandang domino seperti membaca pasar. Baginya, balak kosong bukan musibah, melainkan ujian ketahanan. “Dalam usaha sawit, kadang harga jatuh tanpa aba-aba. Sama seperti domino, kita tidak bisa memaksa batu keluar. Yang bisa kita lakukan hanya mengatur langkah berikutnya,” ujarnya sambil tersenyum tipis.

Di sisi lain, Mihaf, pegawai kementerian yang sedang BKO di Abdya dan dikenal bicara ceplas ceplos ini, melihat domino sebagai cermin birokrasi. “Sering kali dalam pekerjaan, rencana sudah disusun rapi, tapi situasi berubah. Balak kosong itu seperti regulasi yang belum turun. Kita harus pintar membaca peluang tanpa melanggar aturan,” katanya sambil merapikan susunan batu. 

Vijay, yang dikenal sebagai bagian dari institusi vertikal, memiliki pandangan lebih taktis. Ia memperhatikan setiap gerak lawan dengan serius. “Domino mengajarkan satu hal,  jangan terlalu percaya pada rencana sendiri. Kadang kemenangan datang dari membaca kelemahan lawan, bukan dari kekuatan kita,” katanya dengan nada tenang namun penuh perhitungan.

Tatjol, yang bekerja di BUMN, justru melihat permainan itu sebagai latihan pengendalian emosi. “Di kantor, tekanan sering datang bertubi-tubi. Kalau di domino kita terpancing emosi, permainan pasti hancur. Sama juga dalam pekerjaan, keputusan terbaik lahir dari kepala dingin,” tuturnya.

Aivseh, pengusaha minyak nilam, lebih filosofis. Ia mengaduk batu perlahan sebelum bicara.

“Minyak nilam itu butuh proses panjang sebelum menghasilkan aroma terbaik. Domino juga begitu. Kesabaran sering lebih menentukan daripada keberanian,” katanya, disambut anggukan pemain lain.

Lazirfays, wartawan yang terbiasa mengamati banyak peristiwa, melihat meja domino sebagai miniatur kehidupan sosial. “Di sini semua profesi duduk sejajar. Tidak ada jabatan, tidak ada protokol. Domino menghapus sekat. Yang ada hanya strategi dan keberuntungan,” ucapnya sambil mencatat skor permainan.

Ardneh, yang berprofesi sebagai pengawas, memandang domino dari sudut disiplin. “Permainan ini melatih ketelitian. Sedikit saja lengah, peluang hilang. Dalam pengawasan, kesalahan kecil bisa berdampak besar,” katanya singkat namun tegas.

Sementara Ardni, yang dikenal sebagai tuan tanah, melihat domino sebagai pengingat tentang keseimbangan. “Tanah mengajarkan kita untuk sabar menunggu hasil. Domino juga begitu. Tidak semua langkah harus dipaksakan. Ada waktunya kita hanya menunggu momentum,” ujarnya.

Lufias, seorang ASN, menambahkan perspektif yang lebih sosial. “Permainan seperti ini penting untuk menjaga hubungan antarorang. Kadang komunikasi terbaik justru lahir di meja santai seperti ini, bukan di ruang formal,” katanya.

Di tengah canda, strategi, dan sesekali saling menyalahkan, permainan terus berlanjut. Balak kosong sore itu beberapa kali mengubah arah pertandingan. Ada yang tertawa puas, ada yang menghela napas panjang. Namun tak satu pun yang benar-benar kecewa. Bagi mereka, kemenangan hanyalah bonus. Yang utama adalah kebersamaan. Karena,  permainan hanyalah bertujuan melepas lelah bersama kawan, bukan pertaruhan.

Group “Aqua Kopi Pahit Ek Soh” menjadi bukti,  bahwa hiburan sederhana mampu merawat relasi sosial lintas profesi. Domino bukan sekadar permainan, melainkan ruang dialog tanpa formalitas, tempat ego dilunakkan dan persahabatan dipererat.

Di meja kecil itu, mereka belajar bahwa hidup, seperti domino, tidak selalu berjalan sesuai rencana. Kadang batu terbaik justru muncul ketika semua terlihat buntu. Dan di situlah, permainan menjadi menarik, ketika balak kosong justru menjadi penentu.

Syafrizal

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |