Keputusan BI Dinanti di Tengah Panas Perang-Ledakan Yield Utang Global

4 hours ago 3
  • Pasar keuangan Indonesia berakhir beragam kemarin, bursa saham melonjak sementara rupiah melemah
  • Wall Street kembali melemah di tengah ketidakpastian perang Iran
  • Keputusan suku bunga, perkembangan perang hingga data ekonomi menjadi penggerak pasar hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar keuangan ditutup beragam pad hari pertama perdagangan pekan ini. Bursa saham ditutup menguat sementara mata uang garuda terpantau lesu.

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih volatile pada hari ini. Selengkapnya mengenai sentimen pasar keuangan Indonesia bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 0,75% pada perdagangan Selasa (18/8/2026), dengan lonjakan saham energi menjadi motor utama penguatan indeks.
Berdasarkan data perdagangan akhir sesi kedua, IHSG menguat 48 poin ke level 6.449,83.

Total nilai transaksi tercatat Rp 14,77 triliun yang melibatkan 33,65 miliar saham dalam 2,19 juta kali transaksi. Sebanyak 399 saham menguat, 236 melemah dan 159 lainnya stagnan.

Investor asing mencatat net sell sebesar Rp 355,17 miliar pada perdagangan kemarin.

Penguatan terutama ditopang sektor energi yang melesat 7,10%, jauh mengungguli sektor lainnya. Salah satu penggerak utama datang dari saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) yang melonjak 20%. Saham produsen batu bara tersebut berada di level Rp17.275 pada perdagangan hari kemarin.

Beralih ke pasar valas, nilai tukar rupiah menutup perdagangan perdana pekan ini di zona merah, meskipun indeks dolar Amerika Serikat (AS) juga bergerak melemah.
Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup terdepresiasi 0,17% ke posisi Rp17.850/US$ pada perdagangan Selasa (18/8/2026).

Tekanan terhadap rupiah membesar dibandingkan posisi pembukaan. Mata uang Garuda dibuka melemah 0,06% di level Rp17.830/US$, kemudian kembali kehilangan 20 poin hingga penutupan.

Pelemahan tersebut sekaligus membalikkan penguatan pada perdagangan pekan lalu Jumat (14/8/2026), ketika rupiah ditutup terapresiasi 0,22% ke posisi Rp17.820/US$.

Peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan September kini diperkirakan hanya sebesar 30,6%, turun tajam dari 52,2% pada pekan sebelumnya. Meski kondisi tersebut menekan dolar AS, rupiah belum mampu memanfaatkannya dan tetap berakhir melemah.

Selain faktor eksternal, pelaku pasar memilih berhati-hati menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang berlangsung pada 18-19 Agustus 2026. Keputusan kebijakan moneter akan diumumkan pada Rabu (19/8/2026).

BI diperkirakan mempertahankan BI Rate di level 5,75% setelah menaikkan suku bunga dengan total 75 basis poin sepanjang April-Juni 2026.

Selain keputusan suku bunga, pasar akan mencermati pandangan BI mengenai stabilitas rupiah, inflasi domestik, likuiditas perbankan, serta prospek pertumbuhan kredit hingga akhir tahun.

Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik ke 7,1% pada perdagangan kemarin, dari sebelumnya di 7,06%. Kenaikan imbal hasil menandai harga SBN yang tengah turun karena dijual investor.

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |