Jakarta, CNBC Indonesia - Hari ini, masyarakat Tionghoa merayakan Tahun Baru Imlek 2026 atau 2577 Kongzili. Namun, ada yang identik di Indonesia, apalagi kalau bukan turunnya hujan setiap perayaan imlek.
Lantas apakah hujan di saat Imlek adalah kebetulan, pertanda, atau memang ada penjelasannya? Apakah hujan di Tahun Baru Imlek akan membawa keberkahan dan keberuntungan yang melimpah?
Tentu saja ini berkaitan dengan waktu musim hujan. Kebetulan Imlek yang biasanya terjadi bulan Januari atau Februari bertepatan dengan periode musim hujan di mayoritas wilayah Indonesia.
Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan tidak ada bukti ilmiah yang menghubungkan hujan dengan perayaan Tahun Baru Imlek itu sendiri. Plh. Direktur Meteorologi Publik BMKG, Ida Pramuwardani mengatakan hujan yang turun saat Tahun Baru Imlek terjadi karena perayaan ini memang bertepatan dengan musim hujan di Indonesia.
"Pada bulan-bulan tersebut, Indonesia berada dalam puncak musim hujan, yang biasanya ditandai dengan curah hujan yang cukup tinggi," kata Ida, dikutip Selasa (17/2/2026).
Dia menjelaskan, hujan di Januari-Februari disebabkan karena pola angin Monsun Asia yang membawa udara basah dari Benua Asia dan Samudera Pasifik ke wilayah Indonesia melalui angin baratan. Angin Monsun Asia adalah angin yang bertiup dari arah barat menuju timur, dari Benua Asia bertekanan tinggi ke Benua Australia bertekanan rendah.
"Oleh karena itu, meskipun Imlek sendiri tidak mempengaruhi cuaca, potensi hujan di Indonesia saat perayaan tersebut cukup tinggi, mengingat periode tersebut memang berada di tengah musim hujan," jelas Ida.
Perkiraan Cuaca Saat Imlek
Sementara itu, BMKG telah mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan seiring munculnya potensi peningkatan curah hujan yang akan mengguyur sebagian besar wilayah Indonesia pada periode 15 hingga 21 Februari 2026. Fenomena dinamika atmosfer yang bergerak dinamis memicu pertumbuhan awan hujan, terutama di wilayah Sumatra, Jawa, Nusa Tenggara, dan Sulawesi bagian utara.
Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menjelaskan hasil analisis terkini bahwa terjadi penguatan Monsun Asia yang membawa aliran angin baratan cukup dominan. Sehingga mempercepat pertumbuhan awan konvektif di wilayah Indonesia bagian barat dan selatan.
Kondisi ini diperkuat oleh aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) yang berada pada fase Indian Ocean. Ada pula dukungan gelombang atmosfer Kelvin dan Rossby yang memicu terbentuknya perlambatan dan belokan angin (konvergensi), khususnya di pesisir selatan Jawa hingga Nusa Tenggara.
"Kombinasi faktor tersebut meningkatkan potensi hujan dengan intensitas sedang, lebat, hingga sangat lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang di sejumlah wilayah sepanjang periode 15-21 Februari 2026," kata Andri dalam siaran persnya.
Cuaca Ekstrem 17 Februari?
Secara rinci, pada 17-18 Februari, cuaca ekstrem berpotensi terjadi. Khususnya di wilayah Aceh, Sumatra Barat, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Utara.
Sedangkan pada 19 Februari, wilayah yang perlu diwaspadai adalah wilayah Kepulauan Bangka Belitung, Sumatra Barat, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Papua Pegunungan. Pada 20-21 Februari, potensi masih berlanjut utamanya di wilayah Sumatra Barat, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
2
















































