Jakarta, CNBC Indonesia - Angkatan Darat Amerika Serikat (AS) telah melancarkan serangan malam berturut-turut yang ketujuh ke wilayah Iran, sementara seorang penasihat militer Pemimpin Tertinggi Iran memperingatkan akan terjadinya serangan besar-besaran jika serangan AS terus berlanjut.
Mengutip Aljazeera, dalam unggahan di platform X pada hari Jumat, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan serangan dimulai pukul 19.00 GMT (22.30 waktu Iran) dan "dirancang untuk terus melemahkan kemampuan militer Iran atas arahan Panglima Tertinggi."
CENTCOM kemudian menambahkan bahwa operasi ini menggunakan "pesawat tempur, pesawat nirawak udara, dan kapal perang" untuk menyerang "lokasi pengawasan, infrastruktur logistik militer, gudang senjata bawah tanah, serta kemampuan maritim" milik Iran. Lokasi yang menjadi sasaran meliputi Jask, Sirik, Bushehr, Bandar Abbas, Pulau Qeshm, Ahvaz, dan Yazd.
Badan berita negara IRNA melaporkan terdengar lima ledakan pada dini hari Sabtu di wilayah Yazd, Iran tengah. Televisi negara Iran juga menyebutkan terdengar tiga ledakan di kota selatan Sirik, sedangkan badan berita Mehr menyatakan ledakan terdengar "di beberapa provinsi bagian selatan."
Media negara Iran kemudian melaporkan sedikitnya tiga orang tewas dan delapan lainnya terluka dalam serangan di Provinsi Hormozgan, yang berbatasan dengan Selat Hormuz.
Sementara itu, Departemen Luar Negeri AS juga mendesak warga Amerika Serikat untuk mempertimbangkan kembali perjalanan ke atau melalui kawasan Timur Tengah seiring memuncaknya ketegangan wilayah. Dalam pernyataan di X, departemen tersebut menyatakan situasi keamanan tetap "kompleks dengan potensi eskalasi yang tak terduga," serta menyarankan warga untuk meninjau kembali rencana perjalanan, memantau perkembangan secara cermat, dan memastikan jadwal dengan maskapai penerbangan sebelum terbang. Warga Amerika yang sudah berada di kawasan tersebut diingatkan untuk "tetap berhati-hati."
Seiring memuncaknya perang, kekhawatiran semakin tumbuh bahwa konflik ini dapat meluas hingga tak terkendali. Kolonel Abbas Dahouk, mantan penasihat militer senior urusan Timur Tengah di Departemen Luar Negeri AS, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa setiap langkah Iran dan sekutunya Houthi untuk mengganggu pelayaran di Selat Bab al-Mandeb akan menjadi tanda "eskalasi serius."
"Jika pelayaran terganggu, hal itu pasti akan meningkatkan tekanan tidak hanya di kawasan, tetapi juga pada pasar internasional dan Amerika Serikat. AS sedang mempertimbangkan hal ini, dan kemungkinan akan ada pembalasan tertentu," ujar Dahouk.
Sementara itu, Teheran menuduh Washington menargetkan infrastruktur sipil dan melakukan kejahatan perang. Rekaman dan gambar yang diterbitkan media negara Iran menunjukkan jembatan dan jalur kereta api di bagian selatan negara itu mengalami kerusakan parah.
(pgr/pgr)
Addsource on Google

7 hours ago
4

















































