Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) dilaporkan tengah bekerja secara senyap untuk membangun kehadiran permanen di Venezuela. Langkah ini menjadi ujung tombak rencana pemerintahan Donald Trump untuk menanamkan pengaruh kuat terhadap masa depan negara kaya minyak tersebut pasca-penangkapan Nicolás Maduro.
Berdasarkan laporan dari sejumlah sumber yang familiar dengan perencanaan ini, diskusi antara CIA dan Departemen Luar Negeri AS berfokus pada bentuk "jejak kaki" AS di Venezuela, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Meskipun Departemen Luar Negeri (Deplu) AS nantinya akan memimpin kehadiran diplomatik jangka panjang, pemerintahan Trump lebih mengandalkan CIA untuk memulai proses masuk kembali ke Venezuela. Hal ini disebabkan oleh situasi keamanan yang belum stabil dan transisi politik yang masih cair.
"Negara (Deplu) memasang bendera, tapi CIA yang memegang pengaruh sebenarnya," ujar salah satu sumber kepada CNN International, Rabu (28/1/2026).
Tujuan jangka pendek CIA di Venezuela mencakup langkah-langkah strategis untuk membangun landasan kuat bagi upaya diplomatik resmi di masa depan. Fokus utama badan intelijen ini adalah membina hubungan mendalam dengan tokoh-tokoh lokal dari berbagai faksi politik serta menjamin stabilitas keamanan bagi personel Amerika Serikat yang akan bertugas.
Melalui pendirian kantor lampiran, agen-agen CIA diharapkan mampu membuka saluran komunikasi rahasia dengan pihak intelijen Venezuela yang tidak mungkin dilakukan melalui jalur diplomasi formal. Selain itu, mereka bertugas melakukan kontak informal dengan tokoh pemerintah maupun oposisi guna mengidentifikasi serta memitigasi potensi ancaman dari pihak ketiga yang dapat mengganggu masa transisi pasca-Maduro.
Direktur CIA, John Ratcliffe, merupakan pejabat tinggi pertama era Trump yang mengunjungi Venezuela pasca-operasi Maduro. Ia telah bertemu dengan Presiden Interim, Delcy Rodriguez, dan jajaran pemimpin militer.
Salah satu pesan kunci Ratcliffe adalah Venezuela tidak boleh lagi menjadi tempat aman bagi musuh-musuh Amerika.
CIA akan bertanggung jawab untuk memberikan pengarahan kepada pejabat Venezuela mengenai intelijen AS terkait aktivitas China, Rusia, dan Iran di negara tersebut.
"Jika ingin memberikan pengarahan terkait kekhawatiran soal China dan Rusia, itu tugas agen intelijen, bukan Deplu," kata mantan pejabat pemerintah AS.
Adapun perwira CIA sudah berada di lapangan berbulan-bulan sebelum operasi penangkapan Maduro. Sejak Agustus lalu, sebuah tim kecil dipasang secara rahasia untuk melacak pola pergerakan dan lokasi Maduro.
Bahkan, keputusan pemerintahan Trump untuk mendukung Delcy Rodriguez dibandingkan pemimpin oposisi Maria Machado didasarkan pada analisis klasifikasi CIA mengenai dampak kosongnya kursi kepresidenan pasca-Maduro.
Di sisi lain, Departemen Luar Negeri AS telah mulai mengambil langkah awal untuk membuka kembali kedutaan yang ditutup sejak 2019 dengan menunjuk diplomat veteran Laura Dogu sebagai pemimpin Unit Urusan Venezuela. Tim teknis dan keamanan juga telah diterjunkan ke Caracas untuk menilai kelayakan gedung kedutaan yang selama ini hanya dijaga oleh personel lokal guna mempersiapkan dimulainya kembali operasional secara bertahap.
Langkah diplomatik ini sejalan dengan ambisi Presiden Trump yang menginginkan perusahaan minyak AS segera beroperasi kembali di Venezuela guna memimpin proses pembangunan kembali ekonomi negara tersebut. Namun, tantangan besar masih membayangi karena para pejabat di lapangan masih menunggu arahan kebijakan yang lebih konkret dari Gedung Putih, mengingat situasi keamanan di Venezuela yang masih fluktuatif serta sejarah panjang sentimen anti-CIA yang sebelumnya kerap digaungkan oleh rezim Maduro.
(tps/luc)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
1
















































