Detik-Detik Jelang Pengumuman, The Fed Diyakini Tahan Suku Bunga

2 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Federal Reserve (The Fed) diperkirakan akan menahan suku bunga acuannya dalam pengumuman kebijakan terbaru yang dijadwalkan rilis pada Rabu (28/1/2026) sore waktu setempat. Keputusan ini dinilai sejalan dengan ekspektasi pasar, namun berlangsung di tengah menguatnya bayang-bayang tekanan politik dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap bank sentral.

Berdasarkan harga pasar berjangka dan pernyataan para pembuat kebijakan, hampir tidak ada peluang The Fed mengubah suku bunga pada pertemuan kali ini. Setelah melakukan sejumlah pemangkasan tahun lalu, bank sentral AS itu diperkirakan memilih bersabar untuk melihat dampak kebijakan yang sudah ditempuh terhadap perekonomian.

"Secara keseluruhan, Fed hanya ingin mempertahankan suku bunga saat ini. Mereka merasa punya waktu untuk menunggu dan melihat," kata mantan Wakil Ketua The Fed Roger Ferguson dalam wawancara dengan CNBC International.

"Kita semua harus mencermati apakah ada petunjuk atau kecenderungan menuju langkah ke depan," tambahnya menyebut pertemuan kali ini lebih bersifat wait and see.

Arah kebijakan selanjutnya akan tercermin dari pernyataan pasca-rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) serta konferensi pers Ketua The Fed Jerome Powell. Pasar saat ini memperkirakan satu hingga dua kali pemangkasan suku bunga sepanjang tahun ini, dengan peluang terbesar pada Juni dan Desember, berdasarkan CME FedWatch Tool.

Namun, sorotan terhadap rapat The Fed tidak hanya tertuju pada kebijakan moneter. Tekanan politik kian menguat setelah Presiden Trump menyatakan telah mempersempit calon pengganti Powell menjadi satu kandidat, dengan pengumuman yang bisa dilakukan dalam waktu dekat dan berpotensi bertepatan dengan keputusan suku bunga.

"Jika ada satu jendela waktu yang paling mungkin, itu adalah selama pertemuan FOMC Januari, terutama jika Trump ingin mengalihkan perhatian dari Fed yang tidak memangkas suku bunga," tulis Kepala Ekonom Wolfe Research, Stephanie Roth.

Di saat yang sama, Powell juga menghadapi penyelidikan Departemen Kehakiman AS terkait proyek renovasi besar kantor pusat The Fed di Washington, D.C. Dalam pernyataan yang jarang terjadi, Powell menyebut penyelidikan tersebut sebagai "dalih" untuk menekan bank sentral agar memangkas suku bunga lebih agresif.

Tekanan politik semakin kompleks dengan adanya upaya menggulingkan Gubernur Fed Lisa Cook atas tuduhan penipuan hipotek. Belum lagi berakhirnya masa jabatan Stephen Miran, pejabat Fed yang dikenal menentang pemangkasan suku bunga seperempat poin tahun lalu.

"Meskipun The Fed mendapat tekanan politik untuk memangkas suku bunga, mereka tidak tertekan oleh data," tulis Kepala Ekonom EY-Parthenon Gregory Daco.

"Powell kemungkinan akan menghindari komentar langsung terkait penyelidikan Departemen Kehakiman maupun proses hukum yang sedang berjalan," tambahnya.

Jika tidak ada perkembangan politik baru, perhatian pasar akan kembali pada nada kebijakan The Fed, apakah cenderung hawkish (menandakan jeda panjang tanpa pemangkasan) atau dovish (dengan sinyal pelonggaran lanjutan di masa depan).

Sementara itu, Kepala Ekonom Morgan Stanley Michael Gapen menilai kecenderungan The Fed masih mengarah dovish. "Kami tidak percaya anggota komite siap memberi sinyal bahwa siklus pemangkasan suku bunga telah berakhir," tulisnya, seraya menambahkan bahwa stabilnya pasar tenaga kerja dan meredanya tekanan inflasi memberi ruang bagi Fed untuk tetap menjaga bias pelonggaran ke depan.

(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |