Jauh dari Timur Tengah: Bursa RI Malah Paling Menderita, Arab Tertawa

2 hours ago 6

1 Bulan Perang Iran

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia

28 March 2026 09:00

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah saat ini menjadi pendorong utama pergerakan pasar keuangan global dalam sebulan terakhir. Pecahnya konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran memicu kekhawatiran terhadap stabilitas supply chain energi dunia.

Ancaman disrupsi pada jalur distribusi utama dunia, khususnya di sekitar Selat Hormuz, telah mendorong harga minyak mentah melonjak signifikan ke level US$ 100. Kondisi ini memaksa seluruh stakeholder untuk kembali berhadapan dengan risiko lonjakan inflasi yang sebelumnya diproyeksikan mulai melandai.

Menurut Christine Lagarde selaku Presiden Bank Sentral Uni Eropa, keadaan saat ini memiliki potensi yang berkepanjangan akibat dari rusaknya ekosistem energi di Timur Tengah yang cukup dahsyat. Untuk kembali ke keadaan semula, diperkirakan akan membutuhkan waktu hingga 1 sampai 5 tahun ujarnya melihat kerusakan yang terjadi di Timur Tengah.

Presiden Bank Sentral Eropa, Christine Lagarde, menghadiri konferensi pers usai pertemuan dewan pemerintahan ECB di Frankfurt, Jerman, Kamis, 25 Januari 2024. (AP Photo/Michael Probst)Foto: Presiden Bank Sentral Eropa, Christine Lagarde, menghadiri konferensi pers usai pertemuan dewan pemerintahan ECB di Frankfurt, Jerman, Kamis, 25 Januari 2024. (AP/Michael Probst)

Efek Domino ke Pasar Ekuitas

Ancaman inflasi energi ini merubah ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral global, terutama The Federal Reserve. Kekhawatiran bahwa era suku bunga tinggi akan dipertahankan lebih lama memicu gelombang penghindaran risiko secara masif.

Likuiditas global terpantau keluar dari aset-aset berisiko tinggi, khususnya di pasar emerging markets, dan mengalir deras ke instrumen energi dan juga cash reserve melihat pergerakan saat ini.

Terpantau juga bahwa terdapat proyeksi bahwa The Fed memiliki persentase hingga lebih dari 30% segera pivot untuk meningkatkan suku bunga acuan di FOMC Q3 hingga Q4 2026 mendatang.

Rotasi modal secara masif ini terpapar jelas pada kinerja bursa saham di kawasan Asia dan Timur Tengah sepanjang periode 27 Februari hingga 27 Maret 2026. Dengan kondisi negara-negara saat ini hanya sedikit yang diuntungkan di seluruh kawasan Asia sejauh ini.

Berikut adalah gambaran lima indeks dengan kinerja terbaik dan terburuk yang merepresentasikan kesenjangan tersebut.

Tekanan Berat di Pasar Domestik

Merujuk pada data di atas, pasar ekuitas Indonesia menjadi pihak yang paling terpukul dengan tingkat koreksi mencapai 13,82%. Penurunan paling dalam di kawasan ini merefleksikan sensitivitas pasar domestik terhadap memburuknya indikator makroekonomi akibat lonjakan harga minyak, yang memicu aksi jual bersih oleh investor asing secara agresif.

Tekanan serupa juga menghantam indeks utama lainnya seperti Korea, Pakistan, Vietnam, dan Filipina yang seluruhnya mencatatkan pelemahan di atas sembilan persen, sejalan dengan tren keluarnya dana asing dari bursa Asia.

Resiliensi Pengekspor Komoditas

Di sisi lain, anomali positif terjadi pada negara-negara yang diuntungkan oleh reli harga energi. Bursa saham Arab Saudi tampil sebagai pemimpin dengan apresiasi sebesar 5,73%, sebuah respons langsung terhadap lonjakan harga minyak yang memperkuat prospek penerimaan dan fundamental ekonomi negara tersebut.

Kinerja tangguh juga diperlihatkan oleh Laos, Mongolia, dan Kazakhstan yang mampu bertahan di zona hijau. Di kawasan Asia Tenggara, Malaysia menonjol dengan tingkat resiliensi yang tinggi, membatasi pelemahannya hanya di level 0,23% di tengah gempuran sentimen negatif.

Prospek Pasar

Ke depan, volatilitas di pasar ekuitas regional diproyeksikan masih akan tetap tinggi. Arah pergerakan indeks akan sangat bergantung pada perkembangan upaya diplomasi di Timur Tengah masing-masing negara serta dampak rambatannya terhadap harga komoditas strategis.

Selama ketidakpastian geopolitik ini masih membayangi, sikap defensif stakeholder diperkirakan akan tetap mendominasi volume transaksi harian akibat kebutuhan investor terhadap strategi capital preservation dan wait and see di tengah ketidakpastian global saat ini.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Kasus| | | |