Susi Setiawati, CNBC Indonesia
02 January 2026 11:20
Jakarta, CNBC Indonesia - Reli harga emas global yang membuat harga saham emiten logam mulia Tanah Air ikut moncer, membuka peluang masuk jadi anggota indeks GDX.
Asal tahu saja, GDX atau VanEck Gold Miners ETF merupakan salah satu indeks global paling bergengsi yang merepresentasikan kinerja saham-saham perusahaan tambang emas dan perak dunia.
Indeks ini disusun oleh MarketVector Indexes, yang secara rutin melakukan evaluasi kuartalan pada bulan Maret, Juni, September, dan Desember. Masuknya suatu saham ke dalam GDX kerap menjadi katalis penting karena berpotensi menarik aliran dana pasif global dalam jumlah besar.
Sebenarnya, pada evaluasi kuartal IV/2025 yang diumumkan pada 15 Desember 2025 lalu, MarketVector tidak menambahkan saham baru ke dalam indeks GDX maupun GDXJ. Meski demikian, peluang tetap terbuka karena proses evaluasi akan kembali dilakukan secara berkala sepanjang 2026 pada bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Sebagai catatan, sejauh ini saham emas RI yang masuk GDX satu-satunya adalah PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS). Lantas, siapakan emiten emas lain yang siap menyusul BRMS ke indeks GDX? Mari kita urutkan dari menurut syarat-syarat terpilih ke indeks bergengsi itu.
Seleksi Awal GDX : Pure Play Bisnis Emas
Syarat awal supaya suatu saham emiten masuk jadi anggota GDX adalah bisnisnya harus murni emas. Paling tidak, lebih dari 50% segmen bisnis yang menyumbang pendapatan harus dari logam mulia.
Ada beberapa emiten yang kami nilai merupakan pure play emas, diantaranya PT Archi Indonesia Tbk (ARCI), PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB), PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA), PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM).
Dari deretan emiten itu, ada catatan khusus untuk ANTM, perlu diakui pendapatan-nya tidak seluruhnya datang dari emas. Bisnis-nya juga semi hulu dan trading emas. Meski begitu, kontribusi emas ANTM terus meningkat dari waktu ke waktu, didukung lonjakan harga emas global. Dalam beberapa periode terakhir, kontribusi emas sudah telah melampaui 50 %, sehingga secara struktur bisnis memenuhi kriteria pure play.
Catatan juga untuk HRTA, emiten ini merupakan pure play emas tetapi merupakan pemain hilir yang terintegrasi vertikal. Emiten ini banyak menjual emas batangan ke ritel dan menjadi pemasok untuk bullion bank.
Untuk yang lainnya, ARCI, PSAB, dan EMAS merupakan pure play dari pemain hulu, mereka menambang emas sejak berupa pasir yang kemudian diolah menjadi emas batangan.
Syarat Likuiditas dan Kapitalisasi Pasar
Selain aspek bisnis, GDX menetapkan sejumlah syarat teknis yang relatif ketat namun realistis. Di antaranya adalah free float minimum 10 %, kapitalisasi pasar minimum sekitar US$ 150 juta, rata-rata nilai transaksi harian tiga bulanan minimal US$ 1 juta selama tiga kuartal berturut-turut, serta volume transaksi bulanan minimal 250.000 saham selama enam bulan.
Dalam konteks ini, PSAB tersingkir lebih awal karena free float yang masih sekitar 7,5 %. Namun terdapat catatan menarik, di mana pengendali PSAB, Jimmy Budiarto, melepas sekitar 2,5 % saham.
Langkah ini memunculkan spekulasi bahwa PSAB tengah mengincar peningkatan free float agar memenuhi syarat indeks global. Untuk aspek likuiditas dan kapitalisasi pasar, ARCI dan ANTM relatif tidak memiliki kendala karena standar minimum GDX tergolong rendah bagi emiten besar.
Sementara itu, EMAS sebagai emiten yang baru IPO pada 22 September 2025 belum memenuhi syarat tiga bulan data pada evaluasi Desember 2025, namun sudah dapat masuk perhitungan pada evaluasi Maret 2026. Aktivitas perdagangan EMAS sejak IPO hingga akhir 2025 tergolong aktif, sehingga secara likuiditas relatif menjanjikan.
Seleksi Tahap Akhir, Paling Krusial!
Setelah melewati dua seleksi, hanya tersisa ARCI, ANTM, dan EMAS saja yang potensi masuk. Namun, ini belum selesai, karena masih ada tahap seleksi akhir yang merupakan tantangan besar untuk dilewati.
Tahap terakhir, GDX menggunakan pendekatan relatif. Saham baru harus masuk dalam peringkat 85 % teratas berdasarkan free float market capitalization dibandingkan seluruh konstituen GDX dan GDXJ.
Berdasarkan harga closing akhir 2025, ARCI tersisih dengan peringkat bottom, hampir menyentuh 100%. Sementara untuk EMAS dan ANTM berada di kisaran peringkat 85% - 98%.
Setelah sampai tahap terakhir ini, rasanya masih sulit untuk saham emiten RI selain BRMS masuk lagi ke indeks ETF emas paling bergengsi di dunia ini dalam jangka pendek.
Meski begitu, peluang masuk ke GDXJ (versi Junior dari GDX) masih terbuka. Metodologi GDXJ berbeda secara signifikan dan lebih akomodatif bagi perusahaan dengan skala lebih kecil. Bahkan terdapat kasus di mana satu saham dapat menjadi konstituen GDX dan GDXJ secara bersamaan, seperti yang terjadi pada BRMS.
Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(saw/saw)

2 hours ago
4
















































