IEA Ingatkan Perang Timteng Lebih Buruk dari Krisis Minyak 1970-an

5 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Ekonomi global berada di bawah ancaman besar dari krisis energi yang disebabkan oleh perang di Timur Tengah. Hal ini diungkapkan oleh kepala Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, pada hari Senin (23/3/2026).

Dia pun mengingatkan bahwa "tidak ada negara yang akan kebal" terhadap dampak krisis ini.

Berbicara di National Press Club di ibu kota Australia, Birol menggambarkan krisis di Timur Tengah sebagai sangat parah dan lebih buruk daripada dua guncangan minyak tahun 1970-an, serta dampak perang Rusia-Ukraina terhadap gas, jika digabungkan.

"Krisis ini, seperti yang terjadi saat ini, sekarang merupakan gabungan dua krisis minyak dan satu krisis gas," katanya, dikutip dari CNA, Senin (23/3/2026).

"Ekonomi global menghadapi ancaman besar saat ini, dan saya sangat berharap masalah ini akan diselesaikan sesegera mungkin," tambah Birol.

"Tidak ada negara yang akan kebal terhadap dampak krisis ini jika terus berlanjut ke arah ini. Jadi, diperlukan upaya global," katanya.

Presiden AS Donald Trump dan Teheran telah mengeluarkan ancaman balasan saat perang memasuki minggu keempatnya, dengan presiden AS menuntut Republik Islam membuka kembali Selat Hormuz yang diblokir, yang dilalui sekitar 20% pengiriman minyak dan gas dunia.

Kemacetan tersebut hampir menghentikan semua pengiriman minyak bumi melalui jalur air yang sempit itu, dan harga minyak telah melonjak.

IEA sedang berkonsultasi dengan pemerintah di Asia dan Eropa tentang pelepasan lebih banyak minyak yang ditimbun "jika perlu" karena perang Iran, kata Birol.

"Jika perlu, tentu saja, kami akan melakukannya. Kami melihat kondisinya, kami akan menganalisis, menilai pasar dan berdiskusi dengan negara-negara anggota kami," tambahnya.

(haa/haa)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |