Jakarta, CNBC Indonesia - Bank raksasa Amerika Serikat, JP Morgan Chase, mulai menggunakan teknologi untuk memantau jam kerja karyawan mudanya, khususnya di divisi investment banking. Langkah ini dilakukan dengan membandingkan jam kerja yang dilaporkan pegawai dengan data aktivitas digital mereka.
Dalam skema uji coba, bank tersebut akan memberikan laporan kepada para junior banker yang berisi perbandingan antara catatan kerja versi karyawan dengan estimasi berbasis sistem komputer. Data ini diambil dari berbagai aktivitas digital, seperti panggilan video, ketikan di komputer, hingga jadwal rapat.
JP Morgan menyebut sistem ini mirip dengan fitur laporan waktu layar di smartphone. Tujuannya bukan untuk menghukum, melainkan meningkatkan transparansi dan kesadaran terkait beban kerja.
"Alat ini dirancang untuk mendukung transparansi, kesejahteraan, dan mendorong percakapan terbuka soal beban kerja," tulis JP Morgan dalam pernyataannya dikutip dari Guardian, Senin (23/3/2026).
Langkah ini muncul di tengah sorotan terhadap jam kerja ekstrem di industri perbankan investasi. JP Morgan sebelumnya juga telah menunjuk pejabat khusus untuk mengawasi kesejahteraan pegawai junior, membatasi kerja akhir pekan, serta menetapkan batas maksimal 80 jam kerja per minggu.
Penggunaan teknologi pemantauan karyawan, atau yang dikenal sebagai "bossware", memang semakin marak sejak tren kerja jarak jauh selama pandemi Covid-19. Meski demikian, kebijakan ini juga menuai kritik karena dinilai berpotensi melanggar privasi pekerja.
Industri investment banking sendiri dikenal dengan budaya kerja yang sangat intens. Jam kerja panjang kerap menjadi harga yang harus dibayar, meski diimbangi dengan gaji besar bahkan untuk posisi entry-level.
Beberapa kasus tragis juga pernah terjadi akibat tekanan kerja. Dua tahun lalu, seorang bankir muda di Bank of America, Leo Lukenas III, meninggal akibat pembekuan darah setelah dilaporkan bekerja lebih dari 100 jam per minggu.
Sebelumnya, pada 2013, seorang magang di Bank of America Merrill Lynch, Moritz Erhardt, ditemukan meninggal dunia setelah bekerja selama 72 jam tanpa henti.
Kasus serupa juga sempat mendorong Goldman Sachs mengatur jam kerja bagi pegawai magang, termasuk larangan bekerja hingga larut malam. Bahkan, selama pandemi, analis junior di bank tersebut pernah melaporkan beban kerja hingga 100 jam per minggu yang berdampak pada kesehatan mental dan fisik mereka.
"Manajemen memantau jumlah staf dan tingkat aktivitas bankir junior dan secara teratur menyesuaikan beban kerja tim kami," kata Goldman.
(haa/haa)
Addsource on Google

4 hours ago
3
















































