Hayek, Mises, dan Ilusi Mesin yang Maha Tahu

2 hours ago 1

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com

Pengantar Serial Matinya Ilmu Ekonomi: Di tengah dunia yang terus bergerak cepat namun terasa semakin kosong, kami mengajak anda untuk berhenti sejenak, untuk menoleh ke belakang, menatap ke dalam, dan melihat ke depan.

Serial Matinya Ilmu Ekonomi bukan sekadar kumpulan kritik. Ia adalah upaya jujur untuk memandang ilmu ekonomi dari sudut yang jarang diterangi: dari sisi yang tidak selalu efisien, tidak selalu rasional, tapi sepenuhnya manusiawi.

Di sini, kami ingin menyegarkan kembali ingatan kita akan mengapa ekonomi ada, bukan hanya sebagai alat hitung, tetapi sebagai cermin kegembiraan, pencapaian, penderitaan, ketimpangan, dan harapan zaman.

---

Beberapa tahun terakhir, dunia tiba-tiba jatuh cinta pada kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). AI dipuji karena mampu memprediksi harga, mengatur logistik, menilai risiko, bahkan kata sebagian orang, kelak bisa "menggantikan pasar" karena pelelangan dan berbagai transaksi bisa dilakukan sangat cepat dan efisien.

Obsesi ini terasa sangat modern, seolah kita sedang memasuki babak sejarah yang benar-benar baru. Padahal, jika ditarik sedikit ke belakang, kegembiraan ini membawa kita kembali ke sebuah perdebatan lama, hampir seratus tahun silam, ketika para ekonom bertanya dengan nada yang sama polos dan berani:

Mungkinkah kehidupan ekonomi manusia diatur sepenuhnya lewat perhitungan? Pertanyaan itu pernah dirumuskan secara tajam dalam sebuah esai yang kini nyaris menjadi mitos, Economic Calculation in the Socialist Commonwealth karya Ludwig von Mises.

Ironisnya, di tengah ledakan algoritma dan data hari ini, kita justru sedang mengulang perdebatan yang sama, hanya dengan mesin yang jauh lebih canggih dan keyakinan yang tak kalah besar. Dan ya, dalam the economic calculation debate, ada fase menarik ketika para sosialis matematikawan (khususnya di era 1930-an hingga 1960-an) percaya bahwa supercomputer atau algoritma statistik suatu hari akan bisa menggantikan pasar.

Mari kita urai sejarah dan argumen-argumen utamanya. Dalam esainya "Economic Calculation in the Socialist Commonwealth", Mises berargumen bahwa tanpa harga pasar yang dibentuk oleh pertukaran bebas antarindividu, tidak mungkin ada kalkulasi ekonomi rasional.

Karena harga adalah kompresi dari jutaan preferensi dan kondisi langka (scarcity conditions) yang terus berubah. Friedrich August Von Hayek kemudian memperluasnya: Informasi tentang kebutuhan dan sumber daya tersebar di benak jutaan individu, tidak ada otoritas tunggal yang mampu memprosesnya secara sentral tanpa mekanisme harga (The Use of Knowledge in Society, 1945). Ekonomi harus berdasarkan mekanisme pasar.

Namun, para matematikawan sosialis di jaman itu berpandangan berbeda, mereka adalah Oskar Lange (Matematikawan Polandia), Abba Lerner (Pakar Ekonomi Keuangan dari AS), Fred Taylor, Leonid Kantarovich serta Wassiliy Leontief dari Uni Soviet).

Argumen utama mereka adalah: Jika masalah ekonomi hanya pada kompleksitas kalkulasi harga dan alokasi, maka di masa depan, dengan kemajuan komputer dan metode matematika perencanaan sosialis bisa meniru bahkan melampaui efisiensi pasar. Algoritma dan perhitungan mesin masa kini tentu bisa menggantikan mekanisme pasar

Lange adalah sosialis yang paling berani menantang Mises dan Hayek. Dalam esai terkenalnya "On the Economic Theory of Socialism" (1936-37), ia berargumen bahwa: Perencana pusat dapat "menjalankan pasar" secara sintetis, dengan menggunakan simulasi harga yang disesuaikan berdasarkan umpan balik permintaan dan penawaran

Ia membayangkan sebuah Central Planning Board (CPB) yang: 1. Menetapkan harga awal untuk barang dan faktor produksi, 2. Mengamati surplus atau kekurangan, 3. Menyesuaikan harga naik atau turun hingga keseimbangan tercapai. Dengan kata lain, "we can imitate the market with trial and error."

Kemudian, di era komputer (1950-60an), Lange secara eksplisit mengatakan bahwa komputer akan membuat ini jauh lebih mudah. Kutipan terkenalnya (1967, The Computer and the Market, University of Warsaw): "Let us put the computer at the Central Planning Board and let it play the role of Walrasian auctioneer. The market process can be simulated, and the efficiency of socialism will surpass that of capitalism."

Inilah asal muasal ide supercomputer socialist: bahwa jika kalkulasi pasar adalah soal informasi, maka teknologi bisa menanganinya.

Menariknya, Uni Soviet benar-benar mencoba melakukannya. Ekonom-matematikawan Leonid Kantorovich (pemenang Nobel tahun 1975 dengan tesis terkait the theory of optimum allocation of resources) mengembangkan linear programming untuk perencanaan optimal.

Ia memperkenalkan konsep "shadow prices" untuk meniru harga pasar. Namun proyek ini macet karena data yang dibutuhkan terlalu besar dan cepat using, Para pejabat tidak punya insentif untuk memberikan data akurat, serta sistem insentif manusia dan politik tetap tidak bisa dimodelkan.

Di Abad 21, argumen ini kini kembali muncul dalam bentuk baru: "Apakah AI dapat memecahkan economic calculation problem?" Beberapa ekonom kontemporer (misalnya Glen Weyl dan Eric Posner dalam Radical Markets, 2018) membayangkan "computational governance", tetapi tetap mengakui bahwa: Kecerdasan buatan hanya bisa mengoptimalkan jika nilai-nilai (utility, preference, ethics) sudah diketahui.

Di masanya dulu, Hayek menolak total argumen ini, bukan karena meremehkan teknologi, tetapi karena masalah utamanya bukan komputasi, melainkan epistemologi. "The economic problem of society is not merely a problem of how to allocate given resources, but of how to secure the best use of resources known to any of the members of society, for ends whose relative importance only these individuals know." Hayek, 1945

Masalahnya bukan bahwa mesin tidak cukup cepat, tetapi bahwa preferensi manusia tidak pernah statis. Preferensi itu sendiri terbentuk melalui interaksi sosial, pengalaman, imitasi, dan bahkan kesalahan.

Ekonomi bukan hanya sistem alokasi sumber daya, tetapi sistem pembentukan nilai itu sendiri. AI dapat mengoptimalkan berdasarkan preferensi yang sudah ada, AI dapat mempengaruhi preferensi manusia melalui rekomendasi dan interaksi, tetapi ia tidak dapat menjadi sumber asli dari preferensi itu sendiri. Ia dapat membentuk jalur, tetapi bukan menciptakan kehendak.

Dengan kata lain: Komputer hanya bisa memproses data yang sudah diketahui dan terukur, tapi ekonomi adalah proses menciptakan pengetahuan baru (discovery), bukan sekadar menghitung ulang pengetahuan lama. Jadi, bahkan supercomputer dengan daya tak terbatas tidak bisa "mengetahui apa yang belum ditemukan oleh pasar." Algoritma adalah hasil dari apa yang sudah diketahui, bukan dari discovery atas apa yang ada di dalam benak manusia yang bergejolak.

Hayek tidak sekadar membela kebebasan pasar, tapi membela ketidaksempurnaan manusia sebagai sumber orisinalitas dan inovasi. Baginya, sistem yang berusaha menggantikan keputusan manusia dengan algoritma pusat entah itu central planner atau AI akan gagal menangkap pengetahuan tersembunyi yang tersebar di masyarakat.

Di sisi lain Mises melihat masalah perencanaan terpusat bukan sekadar teknis, bukan soal belum punya komputer yang cukup cepat, tapi ontologis: "Without private ownership, there can be no real market prices. And without prices, there can be no rational economic calculation." (Human Action, 1949).

Mises menegaskan bahwa harga adalah informasi yang hidup, hasil dari jutaan keputusan subjektif manusia yang saling bertemu di pasar. Superkomputer boleh menghitung, tapi ia tak pernah "mengalami". Ia tidak bisa tahu rasa takut, harapan, atau penyesalan yang membuat seseorang membeli atau menunda membeli.

Kalau ingin bicara tentang kehilangan makna manusia di balik angka dan model, Mises memberi fondasi filosofis yang kuat: bahwa kalkulasi ekonomi tanpa makna subjektif bagi tiap individu hanyalah simulasi tanpa jiwa.

Di situlah garis demarkasi antara homo economicus dan homo algorithmicus terbentang, debat yang kini bangkit kembali lewat AI governance dan crypto-economic systems. Hampir seabad kemudian, janji Lange kembali dengan wajah baru. Bukan lagi Central Planning Board, tetapi jaringan neural network. Bukan lagi komite perencana, tetapi model pembelajaran mesin (AI).

Namun jiwa Hayek akan menjawab dengan nada yang sama: "Even the most sophisticated machine can never replicate the spontaneous order created by free individuals." Karena sistem sosial bukan hanya algoritma logika, melainkan orchestra of souls, tatanan spontan yang lahir dari komunikasi diam-diam antara keinginan, kesalahan, dan harapan manusia.

AI tidak menggantikan spontaneous order. Ia adalah bagian dari spontaneous order itu sendiri. Ia adalah alat yang diciptakan oleh individu bebas, dan nilainya tetap bergantung pada pilihan manusia yang menggunakannya.

*AI dan Kehilangan Ketidakteraturan*

Hari ini, semakin banyak keputusan ekonomi, dari harga saham hingga rekrutmen tenaga kerja, ditentukan oleh model statistik dan pembelajaran mesin. Dunia terasa lebih rapi, tapi juga lebih dingin. AI telah membuat kita percaya bahwa semua bisa diramal, semua bisa disimulasikan, bahwa risiko hanya soal deviasi standar.

Padahal, yang membuat ekonomi manusiawi dan dinamis bukan prediktabilitas, melainkan kejutan, kebebasan untuk salah dan tumbuh. Tanpa itu, pasar hanyalah permainan angka. Tanpa kejutan, mana mungkin ada nilai tambah.

Jika Mises menyebut central planning mustahil karena tak punya harga, maka di zaman AI, tantangannya berbeda: harga tetap ada, tetapi semakin dibentuk oleh algoritma yang belajar dari masa lalu, bukan sepenuhnya dari discovery spontan manusia. "Karena ketika semua perilaku terukur, harga berhenti menjadi ekspresi kebebasan, ia berubah menjadi refleksi algoritma.

*Sebuah Refleksi*

Namun, ada ironi yang lebih dalam yang mungkin bahkan Hayek sendiri tidak sepenuhnya bayangkan. AI tidak benar-benar menggantikan pasar. Ia justru menjadi bagian dari proses discovery yang lebih luas, mempercepat reaksi, memperpendek waktu respons, dan memperbesar skala interaksi manusia. AI bukan pengganti pasar, melainkan evolusi dari infrastruktur pasar itu sendiri.

Pasar bukan sekadar mekanisme kalkulasi. Ia adalah proses eksistensial di mana manusia menemukan dirinya melalui pilihan, kesalahan, dan penemuan yang tak terduga. Algoritma dapat membantu manusia memilih lebih cepat, tetapi ia tidak dapat menggantikan fakta bahwa pilihan itu sendiri lahir dari pengalaman subjektif manusia yang terus berubah.

Dengan demikian, AI tidak membunuh pasar. Ia mempercepat denyutnya.

Namun, di situlah paradoks baru muncul. Ketika semua reaksi menjadi instan, ketika semua prediksi menjadi semakin akurat, apakah masih ada ruang untuk discovery? Ataukah kita sedang memasuki dunia di mana masa depan semakin dapat diprediksi, tetapi semakin sedikit benar-benar ditemukan?

Hayek menulis bahwa masalah ekonomi bukanlah sekadar bagaimana mengalokasikan sumber daya, tetapi bagaimana memanfaatkan pengetahuan yang tersebar di benak individu. Pertanyaannya hari ini bukan lagi apakah komputer dapat menggantikan pasar, tetapi apakah manusia masih memiliki ruang untuk menciptakan pengetahuan baru di dunia yang semakin dipenuhi mesin yang belajar dari masa lalu.

Pasar, pada akhirnya, bukan hanya tentang harga. Ia adalah tentang ketidaktahuan manusia yang terus bergerak menuju pengetahuan.

Dan selama manusia masih mampu menginginkan sesuatu yang belum pernah ada, selama preferensi manusia masih mampu berubah secara tak terduga, selama masa depan masih terbuka, pasar akan tetap menjadi sesuatu yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh mesin apa pun.

Hayek pernah menulis, "We shall never be able to control society, simply because no mind can comprehend it." Dan mungkin itu pesan paling spiritual dari seorang liberal klasik: bahwa kebebasan bukan kelemahan, tapi bentuk tertinggi dari kebijaksanaan. Mesin dapat memprediksi apa yang mungkin terjadi. Tetapi hanya manusia yang dapat memutuskan apa yang belum pernah terjadi.

Maka di zaman ketika AI ingin tahu segalanya, tugas manusia adalah belajar kembali untuk tidak tahu. Karena di situlah ruang bagi kejutan, cinta, dan kehidupan, tiga hal yang tidak akan pernah bisa dihasilkan oleh algoritma.


(miq/miq)

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |