Harga Nikel Terbang, Saham NCKL-DKFT Bakal To the Moon?

23 hours ago 1

Susi Setiawati,  CNBC Indonesia

07 January 2026 10:10

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga nikel terbang menembus US$ 18.000 per ton, seiring dengan itu saham emiten nikel Indonesia ikutan terbang, bahkan beberapa sampai mencetak Auto Reject Atas (ARA).

Pada perdagangan Selasa (6/1/2026), harga nikel secara intraday sempat melejit sampai 6,88% menuju posisi US$ 18.479 per ton, ini merupakan level tertinggi selama lebih dari 15 bulan.

Padahal pada pertengahan Desember 2025 lalu, harga nikel sempat mencapai titik terendah dalam setahun di kisaran US$ 14.000 per ton. Dalam sebulan reli nikel sudah mencapai lebih dari 24%.

nikelFoto: nikel
nikel

Indonesia di Balik Lonjakan Harga Nikel

Indonesia menjadi salah satu faktor utama yang mendorong reli harga nikel sejak akhir tahun lalu. Pemicunya berasal dari rencana pemerintah untuk memangkas produksi nikel secara signifikan mulai 2026.

Indonesia adalah produsen nikel terbesar di dunia, dengan cadangan sekitar 55 juta metrik ton. Pada 2023, Indonesia menyumbang 53,1% dari pasokan nikel global, dan diperkirakan mencapai 2,1 juta metrik ton pada akhir 2024.

Cadangan nikel Indonesia pada 2022 tercatat sekitar 21 juta ton dengan sumber daya mencapai 72 juta ton, menempatkannya sebagai yang terbesar di dunia. Deposit nikel laterit di Indonesia tersebar di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Halmahera, dan Papua.

Dalam Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) 2026, pemerintah mengusulkan pengurangan produksi hingga 34% dibandingkan realisasi 2025, sehingga target produksi tahun depan dipangkas menjadi sekitar 250 juta ton.

Mengacu pada pernyataan Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), Sekretaris Jenderal APNI Meidy Katrin Lengkey menegaskan bahwa angka tersebut masih sebatas rencana di tingkat pemerintah, dengan skema dan mekanisme pelaksanaannya yang belum ditetapkan secara detail.

Kebijakan pengendalian produksi ini dinilai berkaitan dengan penurunan kualitas bijih nikel domestik.

CEO Canada Nickel, Mark Selby, menyebut penurunan kadar dan karakter kimia bijih nikel Indonesia telah mendorong kebutuhan impor bijih dari Filipina, bahkan dengan pasokan yang relatif tidak terbatas.

Sejumlah analis meramal harga nikel potensi menyentuh US$ 20.000 per ton, setelah level US$ 18.000 per ton berhasil ditembus.

Industri Nikel Masih Oversupply

Namun demikian, pasar nikel global masih dibayangi kondisi kelebihan pasokan. Analis BMO Capital Markets, Helen Amos, memproyeksikan pasar nikel tetap mencatat surplus sekitar 240.000 ton pada 2026, meskipun Indonesia benar-benar memangkas produksi dan pelaku tambang mematuhi kebijakan tersebut.

Sejalan dengan itu, produsen nikel terbesar Rusia, Nornickel, memperkirakan surplus yang lebih besar, yakni sekitar 275.000 ton pada 2026, setelah kelebihan pasokan 240.000 ton pada tahun ini. Proyeksi tersebut disampaikan sebelum rencana pemangkasan produksi Indonesia diumumkan secara resmi.

Berdasarkan data United States Geological Survey (USGS), Indonesia memproduksi sekitar 2,2 juta ton nikel pada 2024, jauh melampaui Filipina di posisi kedua dengan 330.000 ton dan Rusia sebesar 210.000 ton.

Sebagian besar produksi nikel di Asia Tenggara berasal dari bijih nikel laterit, yang relatif lebih murah dari sisi biaya awal penambangan, namun memiliki konsumsi energi tinggi serta dampak lingkungan yang besar. Sebaliknya, nikel sulfida yang ditambang di Kanada, Rusia, dan Afrika Selatan memiliki jejak energi dan lingkungan yang lebih rendah.

Investor senior Rick Rule menilai tingginya biaya lingkungan dari penambangan nikel laterit tidak berkelanjutan dalam jangka panjang. Ia berpendapat, jika praktik pertambangan dilakukan secara bertanggung jawab, kurva biaya produksi nikel global berpotensi meningkat secara signifikan.

Di Kanada, proyek Crawford milik Canada Nickel yang berlokasi di dekat Sudbury, Ontario, disebut sebagai salah satu cadangan dan sumber daya nikel terbesar kedua di dunia. Proyek ini telah diajukan ke Kantor Proyek Strategis Pemerintah Federal Kanada untuk mempertimbangkan percepatan proses perizinan.

Saham Nikel Ramai Manggung

Di sisi lain seiring dengan kenaikan harga nikel saat ini, sejumlah saham nikel Tanah Air ikut merayakan euphoria dengan kenaikan harga yang ciamik.

Sebut saja ada saham PT PAM Mineral Tbk (NICL) berhasil mencetak Auto Reject Atas (ARA) alias reli sampai 25% pada perdagangan kemarin Selasa. Selanjutnya ada PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) melonjak 21% hanya dalam sehari.

Saham nikel lain seperti PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), dan PT Trimegah Bangun Bersama Tbk (NCKL) juga turut mencetak penguatan kemarin. Berikut rincian pergerakan harga saham nikel :

Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(saw/saw)

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |