Harga Minyak Meledak, Raksasa Migas Hamburkan Duit untuk Ekspansi

10 hours ago 1

Salma Laiqa,  CNBC Indonesia

14 September 2026 18:10

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak kembali melonjak di tengah panasnya perang Iran. Lonjakan harga ikut mendongkrak investasi di sektor tersebut.

Tahun 2026 awalnya diperkirakan bakal menjadi periode suram bagi perusahaan minyak dunia. Pasokan global yang melimpah bahkan sempat memunculkan kekhawatiran akan terjadinya super glut atau kelebihan pasokan besar-besaran.

Harga minyak mentah Brent sebelumnya diproyeksikan turun hingga di bawah US$60 per barel, setelah rata-rata berada di sekitar US$68 per barel pada 2025 dan US$80 per barel pada 2024.

Namun, eskalasi perang di kawasan Teluk membalikkan proyeksi tersebut.

Gangguan terhadap produksi dan jalur pengiriman minyak mendorong harga minyak menembus level tiga digit. Sejumlah analis kini memperkirakan rata-rata harga Brent dapat mencapai US$85 per barel atau lebih sepanjang 2026. Bahkan, harga berpotensi menembus US$120 per barel apabila serangan terhadap kapal di Selat Hormuz terus berlanjut.

Tekanan terhadap pasokan juga semakin besar setelah Arab Saudi pada 11 September menutup jalur pipa East-West, salah satu rute alternatif untuk menyalurkan minyaknya, menyusul serangan drone.

Harga minyak brent pada perdagangan Senin (14/9/2026) pukul 17.11 WIB melonjak 2,6% ke US$ 107,4 per barel sedangkan harga minyak WTI melesat 2,7% ke US$ 102,7 per barel.
Harga minyak saat ini adalah yang tertinggi sejak 15 Mei 2026.

Lonjakan harga minyak yang terus menerus ini membuat dunia cemas. Pasar saham global ambruk pada pekan lalu.

Perusahaan Minyak Pesta Untung

Bila dunia tercekik dengan lonjakan harga minyak tetapi tidak demikian dengan industrinya. Lonjakan harga tersebut menjadi berkah besar bagi industri minyak dan gas global.

Sejak awal tahun, saham perusahaan minyak dan gas dunia secara agregat telah naik sekitar 40%. Angka tersebut jauh melampaui kenaikan sekitar 12% pada pasar saham secara keseluruhan.

Kinerja keuangan perusahaan minyak besar juga melonjak. Gabungan laba tujuh perusahaan minyak terintegrasi terbesar di Barat dan Saudi Aramco mencapai US$91 miliar pada kuartal II-2026, dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Namun, pengalaman pada pertengahan dekade 2010-an membuat industri lebih berhati-hati dalam berekspansi.

Belanja modal memang sempat meningkat setelah invasi Rusia ke Ukraina mendorong harga minyak di atas US$120 per barel, tetapi arus kas tumbuh lebih cepat dan sebagian besar surplus digunakan untuk mengurangi utang serta memberi imbal hasil kepada pemegang saham.

Sebagian kenaikan capex saat itu juga lebih mencerminkan inflasi biaya pengeboran dan jasa penunjang ketimbang lonjakan aktivitas produksi.

Kali ini, dengan kas yang kembali menumpuk akibat perang di Teluk, perusahaan minyak mungkin tidak bisa terus mengambil sikap konservatif. Kondisi tersebut berpotensi membuka jalan bagi gelombang eksplorasi dan akuisisi yang dapat membentuk arah industri hingga akhir dekade ini.

Utang Dulu yang Dibereskan

Sejauh ini, perusahaan minyak masih menggunakan sebagian besar keuntungan tambahan mereka untuk memperkuat neraca, memberi imbal hasil kepada pemegang saham, dan sedikit meningkatkan produksi dari aset yang sudah ada.

Setelah invasi Rusia ke Ukraina, perusahaan minyak menggunakan sebagian besar arus kas tambahan untuk memperbaiki kondisi neraca.

Namun, sekitar 18 bulan sebelum perang Teluk, ketika harga minyak kembali melemah, perusahaan mulai meningkatkan utang demi mempertahankan pembayaran kepada investor sekaligus membiayai belanja modal yang telah direncanakan.

Kini situasinya kembali berbalik.

Pada kuartal II-2026, lima perusahaan minyak besar, yakni ExxonMobil, Chevron, Shell, BP, dan TotalEnergies, memangkas gabungan utang bersih mereka sebesar US$36 miliar atau hampir 20%.

Perusahaan yang lebih kecil bahkan lebih agresif memangkas utang karena umumnya memiliki beban leverage yang lebih tinggi.

Pemegang Saham Kembali Cuan

Menjelang pecahnya perang dengan Iran, investor sempat bersiap menghadapi periode yang lebih sulit. Perusahaan minyak besar bahkan telah mengumumkan penurunan gabungan sekitar 11% dalam distribusi kepada pemegang saham, terutama melalui penghentian program share buyback.

Lonjakan harga minyak kemudian mengubah situasi. Hampir seluruh perusahaan minyak besar, kecuali BP, mempertahankan atau meningkatkan dividen dan buyback. Perusahaan yang lebih kecil juga mulai menawarkan tidak hanya dividen khusus, tetapi pembayaran rutin.

Meski demikian, setelah pembayaran utang dan distribusi kepada investor, dana yang tersisa untuk ekspansi masih terbatas.

Posisi kas perusahaan minyak besar secara agregat hampir tidak berubah antara kuartal IV-2025 dan kuartal II-2026, sementara para eksekutif menegaskan bahwa sebagian besar keuntungan ekstra 2026 akan tetap dikembalikan kepada pemegang saham.

Pengecualian datang dari Diamondback Energy serta perusahaan swasta besar seperti Continental Resources dan Hilcorp Energy, yang mulai membiayai proyek berjangka pendek seperti penyelesaian sumur-sumur yang sudah ada di kawasan shale Amerika Serikat.

Cadangan Minyak Menyusut, Raksasa Migas Putar Otak

Harga minyak yang kembali tinggi mulai mengubah kalkulasi perusahaan energi. Jika level harga ini bertahan, proyek baru akan semakin layak secara ekonomi, sementara kebutuhan menambah cadangan juga makin mendesak.

Pasalnya, produksi dari ladang minyak lama terus menurun. Wood Mackenzie memperkirakan produksi minyak dan gas global bisa berkurang hingga 31 juta barel per hari pada 2040, hampir seperlima dari produksi saat ini. Sekitar 70 perusahaan bahkan berisiko kehilangan separuh produksinya.

Kondisi tersebut memaksa perusahaan minyak memperbarui portofolio aset. Lonjakan harga minyak kini memberi mereka arus kas dan neraca yang lebih kuat untuk mulai bergerak.

Salah satu jalurnya adalah eksplorasi. Meski anggaran belum melonjak signifikan, perusahaan besar mulai menguasai wilayah eksplorasi luas dan menggunakan AI untuk mencari lokasi pengeboran potensial.

Wilayah yang dibidik tersebar dari lepas pantai Namibia dan Afrika Selatan hingga Mediterania Timur, Uruguay, Vietnam, dan Papua Nugini. Di sejumlah negara lain, perusahaan juga mencoba meniru model shale Amerika Serikat atau meningkatkan produksi dari ladang yang sudah matang.

Jalur yang lebih cepat adalah akuisisi. Setelah sempat tertahan akibat volatilitas harga minyak, aktivitas merger dan akuisisi mulai kembali meningkat.

Dalam dua bulan terakhir, enam transaksi bernilai lebih dari US$1 miliar telah diumumkan. Neraca yang lebih kuat juga memberi perusahaan minyak besar ruang untuk kembali membeli aset setelah menyelesaikan sejumlah akuisisi besar pada awal dekade 2020-an.

Persaingan diperkirakan semakin ramai karena bukan hanya perusahaan minyak yang berburu aset. Perusahaan private equity, pedagang komoditas, hingga pihak dari negara yang ingin mengamankan sumber energi di luar kawasan Teluk, termasuk Jepang, juga mulai masuk.

Investor Masih Hati-Hati

Meski prospek ekspansi mulai terbuka, investor belum sepenuhnya yakin industri minyak memasuki era pertumbuhan baru.

HassanEltorie dari S&P Global mencatat, rasio valuasi saham perusahaan minyak terhadap arus kas masih kurang lebih sama seperti sebelum perang. Artinya, kenaikan saham sejauh ini lebih banyak mencerminkan lonjakan harga minyak, bukan perubahan fundamental dalam prospek jangka panjang industri.

Ketidakpastian masih besar, mulai dari arah permintaan minyak global, risiko eksplorasi yang mengecewakan, hingga terbatasnya target akuisisi besar.

Meski demikian, perang di kawasan Teluk telah memberi perusahaan minyak harga yang lebih tinggi, arus kas besar, dan ruang untuk menentukan kembali strategi bisnis mereka dalam beberapa tahun ke depan.

(slm/slm)

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |