Harga BBM Meroket, Warga Tetangga RI Teriak

5 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Kenaikan tajam harga bahan bakar di Vietnam mulai menekan pekerja lepas hingga pelaku usaha. Kondisi ini dipicu terganggunya pasokan minyak global akibat konflik Iran yang berdampak pada blokade Selat Hormuz.

Harga solar di negara Asia Tenggara tersebut dilaporkan melonjak lebih dari dua kali lipat, sementara harga bensin naik hampir 30%. Kondisi ini membuat biaya transportasi di kota besar seperti Ho Chi Minh makin mahal.

Nguyen, seorang pengemudi ojek online, mengaku setengah penghasilannya habis untuk membeli bahan bakar. Dalam sehari, ia hanya memperoleh sekitar 240.000 dong Vietnam atau setara Rp146 ribu, namun harus mengeluarkan 120.000 dong Vietnam (Rp73 ribu) untuk bensin.

"Saya mengemudi selama tujuh sampai delapan jam, tapi setengah pendapatan habis untuk bensin. Saya tidak bisa bertahan hidup dengan kondisi ini di kota," ujarnya kepada Al Jazeera, dikutip Senin (6/4/2026).

Ia menambahkan, banyak pengemudi memilih berhenti sementara karena tingginya harga BBM. "Banyak yang mematikan aplikasi dan pulang. Saya juga mungkin akan berhenti beberapa hari untuk melihat apakah harga turun," katanya.

Vietnam yang selama ini mengimpor sekitar 80% minyak mentah dari Kuwait kini terdampak langsung karena terganggunya jalur distribusi. Pemerintah pun bergerak cepat dengan menghapus sementara pajak lingkungan untuk BBM hingga 15 April guna menahan kenaikan harga.

Peneliti tamu ISEAS-Yusof Ishak Institute, Nguyen Khac Giang, menilai langkah tersebut penting untuk meredam keresahan publik. "Ada banyak keluhan soal kenaikan biaya hidup, karena harga bahan bakar memengaruhi hampir semua sektor," ujarnya.

Ia menambahkan, kebijakan ini juga bertujuan menjaga stabilitas ekonomi makro di tengah tekanan global. Meski demikian, pemerintah diperkirakan kehilangan pendapatan sekitar US$273 juta atau sekitar Rp4,4 triliun akibat kebijakan tersebut.

Tekanan juga dirasakan sektor transportasi dan penerbangan. Maskapai domestik seperti Vietnam Airlines dan Vietjet Air mulai mengurangi frekuensi penerbangan, sementara transportasi umum di kota besar sudah mendekati kapasitas maksimal.

Kelompok pekerja lepas menjadi yang paling rentan. Peneliti Universitas Melbourne, Do Hai Ha, menyebut pendapatan mereka sangat bergantung pada faktor eksternal seperti harga BBM.

"Pendapatan mereka tidak stabil dan mereka tidak punya posisi tawar terhadap platform," jelasnya. Ia menambahkan, pekerja lepas juga tidak mendapat perlindungan seperti upah minimum atau lembur.

Dampak kenaikan BBM juga dirasakan nelayan dan pelaku usaha kecil. Seorang nelayan di Binh Thuan mengaku harga jual hasil tangkapannya turun dari 800.000 dong (Rp488 ribu) menjadi 650.000 dong (Rp396 ribu) akibat melemahnya permintaan.

Di sisi lain, beban rumah tangga ikut meningkat. Uyen Pham dari Saigon Children's Charity menyebut harga gas rumah tangga hampir dua kali lipat, memaksa banyak keluarga beralih ke kayu bakar untuk menekan pengeluaran.

"Kenaikan biaya juga membuat banyak orang tua lebih jarang pulang karena ongkos perjalanan meningkat, sementara upah tetap," ujarnya.

Dalam jangka panjang, pemerintah Vietnam mulai mendorong kemandirian energi. Giang menilai negara tersebut perlu mempercepat pembangunan kilang minyak baru untuk mengurangi ketergantungan impor.

Saat ini, Vietnam hanya memiliki dua kilang yang belum cukup memenuhi kebutuhan domestik.

Sementara itu, tekanan harga energi juga mulai mengubah arah investasi. Konglomerat Vingroup dikabarkan berencana mengalihkan investasi dari proyek pembangkit listrik berbasis gas ke energi terbarukan, menyusul tingginya risiko harga bahan bakar.

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |