Wamenko Pangan Sebut Harga Cabai Berubah Tiap Jam, Begini Solusinya

2 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan (Wamenko Pangan) Hanif Faisol Nurofiq menyoroti tingginya volatilitas harga cabai, yang dinilai dapat berubah sangat cepat, bahkan dalam hitungan jam. Karena itu, pemerintah mendorong penguatan informasi dan pengelolaan rantai pasok dari tingkat petani hingga pasar untuk menjaga stabilitas harga sekaligus melindungi produsen dan konsumen.


"Kita tahu harga cabai bisa naik turun dengan cepat. Bahkan pergerakan harganya bisa berubah setiap jam. Karena itu, informasi harus dikawal bersama agar rantai pasok berjalan baik dan petani tidak dirugikan," kata Hanif Faisol dalam keterangannya, dikutip Kamis (18/6/2026).


Adapun pernyataan itu disampaikan di tengah tren kenaikan harga cabai merah di berbagai daerah. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan rata-rata harga cabai merah nasional mencapai Rp56.537 per kilogram (kg) hingga Minggu II Juni 2026, atau naik 11,86% dibandingkan Mei 2026.


Kenaikan harga tercatat terjadi di 286 kabupaten/kota atau sekitar 79,44% wilayah Indonesia, sehingga pemerintah terus mendorong peningkatan produksi untuk menjaga pasokan dan mengendalikan inflasi pangan.


Hanif mengatakan, cabai merupakan salah satu komoditas pangan yang memiliki pengaruh besar terhadap inflasi, khususnya di Kalimantan Selatan. Oleh sebab itu, penguatan sentra produksi dinilai menjadi langkah penting untuk menjaga keseimbangan pasokan dan harga di pasar.


"Cabai menjadi salah satu penyumbang inflasi di Kalimantan Selatan. Kontribusi Hulu Sungai Selatan (HSS) sangat besar dalam menjaga kestabilan harga komoditas ini," ujarnya.


Menurut Hanif, budidaya cabai juga memiliki tantangan tersendiri karena tanaman tersebut cukup sensitif terhadap perubahan cuaca, terutama saat curah hujan tinggi. Karena itu, diperlukan pendampingan dan pengelolaan yang baik agar produktivitas tetap terjaga.


Sejalan dengan itu, Hanif melakukan panen cabai di lahan Kelompok Tani (Poktan) Gawi Bersama, Desa Tawia, Kecamatan Angkinang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan, sebagai bagian dari program prioritas nasional Kawasan Swasembada Pangan, Energi, dan Air Nasional (KSPEAN). Program tersebut disiapkan pemerintah untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus menjaga stabilitas harga komoditas strategis.


Desa Tawia menjadi salah satu kawasan yang diusulkan masuk dalam program KSPEAN. Pemerintah merencanakan pengembangan lahan cabai seluas 20 hektare di wilayah tersebut. Saat ini, sekitar 5 hektare lahan telah ditanami cabai oleh Poktan Gawi Bersama.


Pengembangan kawasan cabai di Hulu Sungai Selatan diharapkan dapat meningkatkan produksi hortikultura daerah, sekaligus memperkuat ketersediaan pasokan di Kalimantan Selatan. Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah menjaga stabilitas harga cabai yang masih mengalami tekanan di berbagai wilayah Indonesia.

(hoi/hoi)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |