Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara ambruk lagi setelah sempat bangkit sehari.
Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Rabu (7/1/2026) ditutup di posisi US$ 106,5 atau turun 0,42%. Penurunan ini berbanding terbalik dengan penguatan 2% pada Selasa.
Harga batu bara justru melandai di tengah banyak kabar positif.
Data pelacakan kapal laut terbaru dari Kpler menunjukkan ekspor batu bara Indonesia pada Desember mencapai 50,52 juta ton. Volume ekspor ini naik sekitar 6,58% dibandingkan tahun sebelumnya dan juga 3% lebih tinggi daripada bulan sebelumnya (November), bahkan rekor tertinggi untuk bulan tersebut.
Data ini menunjukkan meskipun kinerja ekspor batu bara Indonesia secara tahunan cenderung menurun sepanjang 2025 tetapi pengiriman untuk bulan terakhir 2025 justru menunjukkan peningkatan signifikan. Hal ini mencerminkan lonjakan permintaan atau pemulihan aktivitas pengapalan di akhir tahun.
Sxcoal melaporkan pasar batu bara termal impor China menunjukkan pergerakan harga yang menguat pada awal Januari, terutama karena pasokan dari Indonesia menjadi lebih ketat dan permintaan domestik di China sedikit meningkat.
Pasokan batu bara dari Indonesia menyusut karena penundaan persetujuan rencana kerja dan anggaran tambang (RKAB) untuk 2026 serta pembatasan transportasi batu bara di jalan umum di Sumatera untuk mempermudah rehabilitasi pasca banjir.
Hal ini memaksa pembeli China yang memiliki posisi pendek (short) untuk menutup kebutuhan mereka dengan harga lebih tinggi, sehingga menopang harga impor.
Meskipun faktor pasokan mendorong harga, permintaan riil dari pengguna akhir masih selektif. Beberapa data menunjukkan tender pembelian dari utilitas turun, yang berarti harga tinggi mungkin mulai menekan minat pembelian.
Gelombang dingin pasca-liburan juga mendorong konsumsi batu bara di pembangkit listrik China, namun stok yang tinggi tetap membatasi kenaikan permintaan signifikan.
Kenaikan permintaan juga terjadi di Australia.
Produsen Australia mengapalkan 6,6 juta ton batu bara-sebagian besar batu bara kokas-dari Pelabuhan Gladstone pada Desember. Volume ini 15% lebih tinggi dibandingkan tahun lalu, didorong oleh peningkatan pengiriman ke China dan Jepang.
Ekspor batu bara dari Pelabuhan Gladstone berpotensi menurun pada Januari. Produsen Amerika-Australia Coronado menghentikan sementara penambangan bawah tanah di kompleks batubaranya di Karraga pada awal Januari setelah terjadi runtuhnya atap tambang yang menimbulkan korban jiwa. Pekerjaan bawah tanah di fasilitas tersebut akan ditangguhkan hingga waktu yang belum ditentukan, kata perwakilan operator Mammoth Underground kepada Argus pada 7 Januari.
Produsen baja (metalurgi) China membeli 1,2 juta ton batu bara Gladstone pada Desember 2025. Angka ini naik 11% dibandingkan setahun sebelumnya. Pemerintah Kota Beijing mengambil langkah-langkah untuk menopang pasar perumahan perkotaan pada Desember. Kebijakan ini berpotensi meningkatkan permintaan batu bara kokas Australia-yang digunakan dalam industri baja-mengingat pengembang properti China merupakan pembeli utama baja.
Ekspor Gladstone ke Jepang meningkat 21% secara tahunan menjadi 2 juta ton pada Desember 2025. Sebelumnya, pabrikan baja Jepang mengurangi pembelian bulanan batu bara Gladstone pada Agustus-November 2025. Menurut proyeksi Desember dari Japan Federation of Ferrous Metallurgy, permintaan baja Jepang diperkirakan tetap stabil dibandingkan periode yang sama tahun lalu untuk April 2026-Maret 2027.
Harga batu bara kokas Australia diperkirakan turun ke US$140 per ton (FOB Australia) pada akhir 2026, berdasarkan proyeksi Kementerian Keuangan Australia yang dirilis 17 Desember. Sementara itu, harga premium low volatility FOB hard metallurgical coal versi Argus terakhir diperkirakan US$218,55 per ton pada 6 Januari, dibandingkan US$200,20 per ton pada 6 Januari 2025.
Produsen di Queensland-wilayah tambang dan pemasok utama batu bara kokas Australia-memperkirakan ekspor 208 juta ton batu bara berizin pada tahun fiskal Juli 2025-Juni 2026, sebagaimana diumumkan pemerintah negara bagian pada 15 Desember.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
(mae/mae)

1 day ago
1

















































