Harga Batu Bara Jatuh Setelah Meroket Dua Hari

4 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara melandai setelah terbang dua hari beruntun.

Kontrak batu bara April pada perdaganan Rabu (4/3/2026) ditutup di posisi US$ 132,9 per ton atau jatuh 3,7%. Pelemahan ini memutus tren positif batu bara yang melesat 17,2% dalam dua hari sebelumnya.

Harga batu bara melandai seiring melemahnya harga energi global.

Harga minyak mentah memang masih naik pada Rabu tetapi tidak sekencang pada Senin dan Selasa yakni di atas 5%. Harga gas Eropa bahkan sudah turun hampir 4% Rabu kemarin.

Melandainya harga energi ini berimbas pada batu bara yang berfungsi sebagai komoditas pengganti.

Harga batu bara sempat melonjak ke sekitar US$138 per ton pada Selasa atau mencapai level tertinggi sejak November 2024, setelah penghentian operasi yang jarang terjadi di fasilitas gas alam cair (LNG) Qatar meningkatkan permintaan untuk peralihan bahan bakar (fuel switching) di sektor pembangkit listrik.

Kenaikan ini terjadi setelah serangan drone Iran terhadap pusat ekspor LNG utama Qatar, yang menyoroti meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Fasilitas tersebut memasok sekitar 20% pasokan LNG global dan belum pernah sepenuhnya menghentikan operasinya selama 30 tahun sejarahnya.

Dengan banyak ekonomi Asia bergantung pada LNG dari Qatar, Taiwan menyatakan kemungkinan akan meningkatkan pembangkitan listrik berbasis batu bara jika gangguan pasokan ini berlanjut.

Sementara itu, ekspektasi terhadap permintaan global yang tetap kuat lebih besar dibandingkan dorongan transisi menuju energi yang lebih bersih. China, produsen sekaligus konsumen batu bara terbesar di dunia, terus menambah kapasitas pembangkit listrik tenaga batu bara baru guna menjaga keamanan energi dan stabilitas jaringan listrik.

Pasar batu bara termal domestik China menunjukkan kinerja cukup kuat pada Februari, didorong oleh permintaan pembangkit listrik yang masih solid setelah periode musim dingin serta sentimen bullish di pasar energi.

Beberapa faktor yang mendukung kekuatan pasar pada Februari antara lain permintaan listrik yang stabil dari sektor utilitas dan industry dan sentimen pasar yang positif, sebagian dipicu oleh kekhawatiran pasokan global energi.

Namun, para pelaku pasar mulai mempertanyakan apakah momentum ini dapat bertahan hingga akhir Maret. Ada beberapa faktor yang berpotensi menekan pasar. Di antaranya musim pemanas di China mulai berakhir.
Dengan suhu yang lebih hangat, permintaan listrik untuk pemanas di wilayah utara biasanya turun, sehingga konsumsi batu bara di pembangkit listrik ikut melemah.

Persediaan di enam kelompok pembangkit listrik pesisir utama mencapai sekitar 13,82 juta ton, naik sekitar 2,3% dibanding sebelum libur Tahun Baru Imlek.

Setelah periode permintaan pasca-libur, pembeli menjadi lebih berhati-hati terhadap harga yang dianggap tinggi.

Meski demikian, sebagian pelaku pasar menilai harga batu bara domestik masih memiliki penopang, terutama karena pasokan impor tidak terlalu murah dan kebijakan energi China yang tetap mengandalkan batu bara untuk menjaga keamanan energi dan stabilitas jaringan listrik.

CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]

(mae/mae)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Kasus| | | |