Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melayangkan kritik pedas kepada Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin Netanyahu. Trump menilai serangan udara Israel di Lebanon telah mengacaukan jadwal penandatanganan kesepakatan damai antara Washington dan Iran.
Trump meluapkan kemarahannya karena agresi tersebut diluncurkan tepat pada hari yang sakral bagi perdamaian Timur Tengah. Sedianya kesepakatan itu akan diikuti dengan pembukaan kembali Selat Hormuz secara total untuk jalur pelayaran dunia.
"Mengapa Bibi harus melakukan serangan sialan itu? Saya sangat marah dan saya sudah menyampaikannya. Dia sama sekali tidak punya penilaian yang waras," ketus Trump kepada media Axios Minggu, dimuat Senin (15/6/2026), mengenai kekesalannya terhadap pemimpin Israel tersebut.
Laporan itu mengonfirmasi bahwa hantaman bom Israel sempat menunda penandatanganan dokumen perdamaian selama beberapa jam. Kondisi ini memaksa Trump bergerak cepat demi menyelamatkan kesepakatan yang dimediasi oleh PM Pakistan, Shehbaz Sharif.
Sebagai kurir pesan kunci antara Washington dan Teheran, Sharif mengonfirmasi bahwa pihak Islamabad sebenarnya telah bersiap melakukan penandatanganan elektronik. Namun aksi sepihak Israel tersebut justru memicu kemarahan badan keamanan nasional tertinggi Iran yang kini mengancam akan meluncurkan serangan balasan dalam waktu dekat.
Meskipun Trump sesumbar di Gedung Putih bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, telah menyetujui draf perdamaian ini, pihak Teheran langsung membantahnya. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa penandatanganan resmi dipastikan tidak akan terjadi dalam waktu dekat.
Media resmi pemerintah Iran, Fars, juga mempertegas bahwa tim diplomatik Teheran saat ini masih berada dalam posisi meninjau ulang isi dokumen perjanjian tersebut. Proses diplomasi yang telah berlangsung selama tiga bulan ini memang berjalan sangat alot karena kedua belah pihak mengajukan syarat yang sangat kontras.
Trump tetap bersikeras menuntut jaminan internasional mutlak agar Iran tidak akan pernah bisa mengembangkan teknologi senjata nuklir. Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa syarat mutlak perdamaian dari negaranya adalah pencabutan total sanksi ekonomi dan pengembalian miliaran dolar aset yang dibekukan.
"Pada waktu yang tepat, ketika semuanya sudah tenang, kita akan masuk dan mengambil Debu Nuklir... dan menghancurkannya. Jika proses ini tidak berhasil, kita memiliki alternatif utama yang diharapkan tidak pernah digunakan lagi," tulis Trump memberikan peringatan keras melalui akun media sosial miliknya.
(tps/sef)
Addsource on Google

1 hour ago
3








































