Harga Batu Bara Ambruk: China Malah Panic Buying, Borong Gede-Gedean

3 hours ago 6

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara ambruk setelah membara tiga hari terakhir.

Harga batu bara pada perdagangan Senin (23/3/2026) ditutup di US$ 140,5 per ton atau ambruk 4,1%.

Pelemahan ini memutus tren positif harga batu bara yang menguat 8,7% dalam tiga hari sebelumnya. Pada Jumat pekan lalu, harga batu bara menyentuh US$ 146,5 per ton atau yang tertinggi sejak 17 Oktober 2024.

Harga batu bara ambruk sejalan dengan melemahnya harga energi dunia.

Harga minyak jatuh 10% sementara harga gas alam Eropa jatuh 6% pada perdagangan Senin kemarin. Batu bara adalah komoditas substitusi bagi minyak dan gas alam sehingga harganya saling mempengaruhi.

Harga energi jatuh setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memerintahkan jeda selama lima hari terhadap serangan AS pada infrastruktur energi Iran, menyusul pembicaraan yang bertujuan mengakhiri konflik.

Trump mengatakan bahwa diskusi tersebut berjalan produktif dan akan berlanjut sepanjang minggu, sehingga meningkatkan harapan akan deeskalasi. Namun, media Iran membantah adanya kontak dengan Washington.

Pasar energi telah mengalami volatilitas sejak perang dimulai, dengan Selat Hormuz sebagian besar terblokir, sehingga mengganggu arus pasokan utama.

Kekhawatiran pasokan tetap berlanjut setelah kerusakan pada kompleks Ras Laffan di Qatar mengurangi kapasitas LNG, sementara produksi global diperkirakan tetap terbatas.

Level penyimpanan gas di Eropa juga lebih rendah dibandingkan tahun lalu (28,5% terisi dibandingkan 33,8% setahun sebelumnya), sehingga menambah risiko pasokan yang masih berlangsung.

Batu Bara Memanas di China

Pasar batu bara kokas di China mendadak panas setelah gelombang aksi beli agresif dari pelaku industri mendorong harga berjangka melonjak. Lonjakan ini menjadi sinyal kuat bahwa dinamika supply-demand mulai berubah tajam.

Kenaikan harga dipicu oleh meningkatnya aktivitas pabrik baja di China yang mulai menggenjot produksi. Seiring itu, kebutuhan bahan baku utama seperti coking coal ikut melonjak. Pelaku industri bergerak cepat mengamankan pasokan di tengah ketidakpastian pasar.

Selain permintaan riil, aksi restocking besar-besaran juga menjadi pendorong utama. Banyak pabrik dan trader berlomba mengisi ulang stok karena khawatir pasokan ke depan terganggu. Efeknya, pasar mengalami semacam "panic buying" yang mempercepat lonjakan harga.

Dari sisi supply, tekanan belum mereda. Produksi domestik China belum sepenuhnya stabil, sementara risiko gangguan pasokan masih membayangi. Di sisi lain, fleksibilitas impor juga terbatas, membuat pasar semakin sensitif terhadap lonjakan permintaan.

CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]

(mae/mae)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Kasus| | | |