Jakarta, CNBC Indonesia - Kajian yang dilakukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan bahwa mekanisme pembentukan tsunami Pangandaran tahun 2006 kemungkinan lebih kompleks daripada yang selama ini dipahami. Selain dipicu gempa bumi, tsunami diduga turut dipengaruhi oleh pergerakan massa bawah laut yang memperkuat pembentukan gelombang dan mempercepat waktu tiba tsunami di pesisir.
"Tsunami Pangandaran merupakan salah satu contoh tsunami earthquake, yakni kondisi ketika gelombang tsunami yang terjadi jauh lebih besar dibandingkan estimasi berdasarkan parameter gempa yang tercatat," ungkap peneliti Pusat Riset Laut Dalam (PRLD) BRIN, Wiko Setyonegoro, dalam Webinar "Deep-Sea Science Forum: Toward Deep Sea Mission 2045" yang digelar pada Selasa lalu (4/8/2026) dikutip Minggu (23/8/2026).
Menurutnya, sejumlah penelitian menunjukkan tinggi gelombang di beberapa lokasi mencapai lebih dari 8 meter, bahkan kesaksian penyintas menyebut gelombang melampaui ketinggian pohon kelapa di sejumlah wilayah pesisir.
"Setelah melalui beberapa investigasi dan analisis, ada potensi kemungkinan adanya faktor-faktor nonseismik yang berkontribusi dalam peningkatan tsunami di daratan," ungkap Wiko saat memaparkan hasil penelitiannya mengenai potensi short-range tsunami yang dipicu gempa megathrust di selatan Pulau Jawa melalui studi kasus tsunami Pangandaran 2006.
Menurut Wiko, tsunami Pangandaran selama ini dikenal sebagai tsunami earthquake, yaitu fenomena ketika gelombang tsunami yang dihasilkan jauh lebih besar dibandingkan parameter sumber gempa yang terukur. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa mekanisme pembangkitan tsunami kemungkinan tidak hanya berasal dari deformasi akibat gempa, tetapi juga melibatkan faktor non-seismik yang perlu dikaji lebih lanjut.
"Setelah kami melakukan pengujian berbagai skenario, terdapat kemungkinan bahwa gempa bumi dan pergerakan massa bawah laut bersama-sama berkontribusi membangkitkan tsunami. Model ini mampu memberikan estimasi yang lebih mendekati kondisi tsunami yang sebenarnya terjadi," jelas Wiko.
Tragedi Tsunami 2006 di Pangandaran Jawa Barat. (Istimewa) Foto: (Istimewa)
Untuk menguji hipotesis tersebut, tim peneliti mengasimilasikan data batimetri, topografi, katalog gempa historis, serta berbagai data observasi lapangan. Simulasi dilakukan menggunakan nesting grid system sehingga mampu menghasilkan pemodelan tsunami beresolusi tinggi dan menggambarkan area genangan hingga skala bangunan. Berbagai skenario kemudian diuji melalui proses iterative calibration untuk memperoleh model yang paling sesuai dengan kondisi tsunami tahun 2006.
Hasil evaluasi terhadap 14 skenario menunjukkan bahwa model yang mengombinasikan sumber gempa dengan indikasi pergerakan massa bawah laut memiliki tingkat kesesuaian paling tinggi terhadap hasil observasi lapangan. Kesesuaian tersebut terlihat dari tinggi gelombang, waktu tiba tsunami, hingga tingkat paparan terhadap infrastruktur dan korban jiwa.
Kajian ini juga menunjukkan bahwa keberadaan pergerakan massa bawah laut berpotensi mempercepat kedatangan tsunami. Pada simulasi yang hanya menggunakan sumber gempa, gelombang diperkirakan mencapai pantai dalam waktu sekitar 40-50 menit. Sementara pada model yang memasukkan faktor pergerakan massa bawah laut, tsunami diperkirakan tiba dalam waktu sekitar 20-30 menit, sesuai dengan sejumlah data empiris dari penyintas tsunami 2006.
Simulasi resolusi tinggi juga memperlihatkan bahwa tsunami tidak hanya menghantam kawasan pantai, tetapi memasuki daratan melalui muara Sungai Serayu di Cilacap sehingga memperluas wilayah terdampak. Di sisi lain, model juga mampu mengidentifikasi sejumlah area yang relatif tidak terdampak tsunami sehingga berpotensi menjadi pertimbangan dalam penentuan zona evakuasi di masa mendatang.
Selain mengevaluasi mekanisme pembangkitan tsunami, tim peneliti juga menguji pendekatan penskalaan sumber gempa. Menurut Wiko, formulasi Takemura menghasilkan estimasi yang lebih mendekati data observasi dibandingkan formulasi yang digunakan sebelumnya.
Menurut Wiko, temuan tersebut penting untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat sekaligus mendukung pengembangan sistem mitigasi bencana yang lebih akurat, termasuk pemodelan risiko tsunami beresolusi tinggi dan teknologi pemantauan tsunami yang lebih terjangkau. Meski demikian, ia menegaskan bahwa dugaan keterlibatan pergerakan massa bawah laut masih memerlukan analisis sensitivitas dan penelitian lanjutan untuk memperoleh konfirmasi ilmiah yang lebih kuat.
Ke depan, BRIN berencana melanjutkan riset bahaya kelautan (ocean hazard) melalui pengembangan prototipe sistem pemantauan tsunami yang lebih terjangkau. Teknologi tersebut dirancang untuk memantau perubahan muka laut secara real time sebagai bagian dari upaya memperkuat sistem peringatan dini tsunami di Indonesia.
"Kami telah melakukan inisiasi bersama rekan-rekan dari bidang teknik untuk memproduksi alat monitoring tsunami yang lebih murah dan dapat diterapkan untuk mendukung pemantauan gelombang laut," pungkasnya.
(wur/wur)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
2

















































