Kanthi Malikhah, CNBC Indonesia
26 March 2026 20:50
Jakarta, CNBC Indonesia - Situasi kepemimpinan Iran tampak tidak banyak berubah sejak perang meletus. Namun, realitas di lapangan jauh lebih kompleks dan dinamis.
Polisi bersenjata tampak berjaga di depan spanduk bergambar Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, bersama para komandan militer dalam peringatan Hari Quds di Teheran. Di tengah perang dan ketidakpastian politik, simbol tersebut mencerminkan perubahan besar dalam struktur kekuasaan Iran.
Jika mendengarkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, situasi kepemimpinan Iran mungkin terlihat tidak banyak berubah sejak perang dimulai. Presiden Amerika Serikat itu bahkan menyebut Selat Hormuz bisa dikendalikan oleh "saya dan sang ayatollah" dalam pernyataannya kepada wartawan pada 23 Maret.
Foto: Pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, putra kedua dari mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, menghadiri pertemuan di Teheran, Iran, 13 Oktober 2024. (via REUTERS/Hamed Jafarnejad)
Pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, putra kedua dari mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, menghadiri pertemuan di Teheran, Iran, 13 Oktober 2024. (Hamed Jafarnejad/ISNA/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS/File Foto)
Namun, ketika Iran mempertimbangkan kembali kemungkinan diplomasi, muncul pertanyaan krusial yaitu, siapa sebenarnya yang memiliki otoritas untuk membuat dan menjamin kesepakatan dengan Amerika Serikat?
Pemimpin Tertinggi yang Menghilang
Sejak kematian pemimpin sebelumnya pada 28 Februari 2026, sosok yang disebut sebagai penerusnya, Mojtaba Khamenei, nyaris tidak terlihat di ruang publik. Sejumlah tokoh penting juga telah gugur, termasuk Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional.
Kekosongan ini tidak diisi oleh figur tunggal, melainkan oleh jaringan institusi yang bersifat tertutup dan terdesentralisasi yang dirancang untuk melindungi rezim dari serangan yang menargetkan pimpinan tertinggi.
Rumor pun beredar bahwa pemimpin tertinggi berada dalam kondisi koma, dirawat di rumah sakit di Moskow, atau telah meninggal dunia.
"Tidak jelas apakah ia mampu mengambil keputusan penting," kata Raz Zimmt, seorang analis Israel, kepada The Economist.
Dia menambahkan jika Motjaba muncul kembali, kemungkinan besar hanya akan berperan sebagai simbol.
"Sekarang militer yang mengendalikan segalanya," kata Mohamed Amersi, seorang pengusaha Inggris yang memiliki kontak dengan rezim.
Peralihan dari Teokrasi ke Kekuatan Militer
Inti dari jaringan ini adalah Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), pasukan paramiliter Republik Islam yang berjumlah sekitar 190.000 personel dan kini tampaknya menjalankan negara sekaligus perang.
"Perang ini merupakan berkah bagi IRGC. Ini telah mengukuhkan posisi mereka di pucuk pimpinan." kata seorang warga Iran di pengasingan yang memiliki kontak tingkat tinggi dengan rezim.
Orang-orang yang dekat dengan rezim menggambarkan sistem yang telah bergeser dari teokrasi menjadi sesuatu yang menyerupai junta militer, mirip dengan Aljazair, Mesir, atau Pakistan.
Iran mungkin sudah bergeser dari kekuasaan ilahi ke kekuasaan keras militer.
Secara konstitusional, pemimpin tertinggi seharusnya berasal dari kalangan ulama senior. Namun kenaikan Mojtaba Khamenei lebih didorong oleh kepentingan IRGC untuk menjaga kesinambungan kekuasaan ketimbang legitimasi keagamaan. Para ulama pun disebut ditekan untuk memberikan dukungan.
Struktur Kekuasaan di Tangan IRGC
Dalam praktiknya, otoritas telah beralih ke IRGC. Dewan Keamanan Nasional, yang didominasi oleh tokoh militer. Pada Selasa (24/3/2026), lembaga tersebut menggantikan Larijani mantan profesor filsafat dengan Muhammad Zulghadr, seorang aparat IRGC.
Anggota lain yang berpengaruh yaitu Muhammad Bagher Qalibaf, Ketua Parlemen yang juga berasal dari kalangan Pengawal Revolusi, serta sejumlah jenderal IRGC. Di sisi lain, dewan pertahanan yang diaktifkan kembali berfungsi sebagai pusat komando perang, menentukan target dan mengarahkan serangan. Identitas anggotanya dirahasiakan, namun diyakini terdiri dari jenderal IRGC aktif maupun pensiunan yang beroperasi dari bunker.
Sementara itu, kendali operasional berada pada markas Khatam al-Anbiya, markas besar medan tempur IRGC. Para pengamat Iran meyakini bahwa korps tersebut tetap mempertahankan kendali atas rudal paling canggih dan berjangkauan terjauh milik Iran.
Tantangan bagi Amerika Serikat
Bagi Amerika Serikat, struktur ini justru menjadi tantangan. Meski terlihat terorganisasi, IRGC bukanlah entitas yang sepenuhnya solid. Di dalamnya terdapat berbagai faksi dengan pandangan berbeda.
Beberapa pemimpin, seperti Hossein Alaei, seorang jenderal purnawirawan yang pernah menyamakan despotisme mendiang Khamenei dengan despotisme Shah, secara terbuka berpandangan reformis. Qalibaf memimpin kelompok pragmatis yang bergerak antara radikalisme dan moderasi sesuai kebutuhan. Kedua kubu ini mungkin terbuka untuk perundingan.
Namun, terdapat pula banyak kelompok garis keras yang sangat menentang kompromi.
Pemimpin mereka adalah Saeed Jalili, mantan anggota Garda Revolusi yang memperoleh 13,5 juta suara dalam pemilihan presiden terakhir. Tidak jelas apakah semua faksi akan mematuhi perintah untuk mengakhiri permusuhan dengan Amerika, atau tetap berpegang pada kesepakatan untuk menghentikan pengembangan nuklir.
Desentralisasi Jadi Kunci Bertahan
Para pengamat Iran juga mempertanyakan sejauh mana otoritas komando pusat benar-benar berlaku di seluruh wilayah. Salah satu alasan ketahanan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), meski dihantam pemboman hebat, tampaknya adalah strategi desentralisasi.
Untuk mencegah terulangnya pembunuhan massal seperti dalam perang musim panas lalu, mantan anggota IRGC menyebut korps ini dibagi menjadi 31 sub-distrik. Masing-masing memiliki persediaan senjata sendiri termasuk rudal dan drone serta daftar target, lengkap dengan otonomi untuk menggunakannya jika komunikasi atau komando pusat terputus.
Ancaman Mulai Reda
Di sisi lain, ancaman dari luar terhadap IRGC kini tidak lagi sekuat beberapa minggu sebelumnya.
Pada awal perang, kelompok oposisi Kurdi di Irak sempat mengancam akan melintasi perbatasan dan memicu pemberontakan etnis di Kurdistan Iran serta wilayah lain dengan populasi Azeri, Arab, dan Baluchi. Namun, penguatan pasukan IRGC serta gelombang serangan drone dan rudal membuat rencana tersebut untuk sementara ditunda.
Pemberontakan oleh rakyat juga semakin memudar. Sejumlah warga Iran di kota-kota sempat bersorak atas kematian Khamenei dan merayakannya dari balkon ketika Israel menghantam basis rezim.
Namun, serangan terhadap target sipil meredam antusiasme itu. Di sisi lain, keberhasilan IRGC dalam bertahan juga ikut mengubah suasana. Kini, IRGC yang semakin percaya diri justru menekan kritik dengan melabeli para penentang sebagai kolaborator musuh dan mengancam penyitaan aset mereka.
(mae/mae)
Addsource on Google

6 hours ago
7
















































