Jakarta, CNBC Indonesia - Banyak orang mendambakan gaji tinggi, bahkan bisa bertahan di lingkungan kantor toksik demi mempertahankan gaya hidup nyaman. Namun, ternyata ada juga orang yang tak lantas puas dengan gaji tinggi semata.
Yousuf Imran, pria berusia 41 tahun yang berprofesi sebagai Account Executive (AE) Google, mengumpulkan US$986.000 (Rp17,8 miliar) sepanjang 2026. Penghasilan itu sebagian besar diperoleh dari komisi penjualan, di atas gaji pokoknya sebesar US$170.000 (Rp3 miliar) per tahun.
Meskipun hidupnya sudah stabil sebagai karyawan Google, tetapi Imran akhirnya memilih untuk mengundurkan diri. Menurutnya, penghasilan jumbo dari Google tak seberapa dibandingkan tawaran yang 'mengubah hidup' (life-changing) dari startup-startup AI lain.
"Gaji dari Google sangat besar, tetapi kompensasi ekuitas (imbalan non-tunai berupa kepemilikan saham) di OpenAI dan Anthropic benar-benar beda level," kata Imran dalam wawancaranya dengan Business Insider, dikutip dari Entrepreneur, Kamis (9/7/2026).
Bukan cuma itu, Imran juga mulai tak nyaman bekerja di Google setelah melihat banyak rekan-rekannya yang terkena PHK selama beberapa tahun terakhir. Ia menjadi cemas apakah dirinya akan menjadi korban berikutnya.
Sejak 2023, Google sudah melakukan PHK ke ribuan karyawan secara global, setelah melakukan perekrutan besar-besaran di masa pandemi Covid-19.
Alhasil, pada April lalu, Imran memberanikan diri untuk mengundurkan diri dari Google untuk meluncurkan startup tool penjualan AI mulai dari nol. Menurut Business Insider, keluarnya Imran dari Google menjadi penanda bahwa raksasa teknologi tersebut mulai kehilangan 'taring' di era AI.
Paket kompensasi dan tunjangan Google selama ini dinilai sangat menarik dan memikat para pencari kerja. Menurut perusahaan employer branding Universum, Google merupakan pemberi kerja yang paling diminati oleh mahasiswa jurusan bisnis selama lebih dari satu dekade, dari 2009 hingga 2022.
Status itu akhirnya direbut oleh Apple. Hal ini bersamaan dengan tersingkirnya dominasi Google sebagai raja internet, berkat kemunculan raksasa-raksasa AI baru.
Alasan Ramai-Ramai Karyawan Tinggalkan Google
Business Insider mewawancarai 12 karyawan dan mantan karyawan Google dan menemukan bahwa lonjakan tren AI telah membuka pintu bagi lebih banyak peluang di tempat lain. Sebagai contoh, Bloomberg melaporkan bulan lalu bahwa dua peneliti AI, Jonas Adler dan Alexander Pritzel, berencana meninggalkan Google untuk bergabung dengan Anthropic.
Keduanya sebelumnya mengerjakan proyek AI Gemini milik Google. Adler berfokus pada pengembangan kemampuan pemrograman Gemini, sementara Pritzel menyempurnakan proses pelatihan sistem AI.
Google menawarkan kompensasi yang kompetitif. Menurut dokumen laporan resmi pemerintah, penghasilan median karyawan Google mencapai US$331.894 (Rp6 miliar) pada 2024, meningkat 5% dibandingkan 2023.
Namun, startup AI menawarkan peluang finansial yang lebih besar. Menurut Business Insider, mantan karyawan Google menginginkan tantangan yang menarik serta potensi penghasilan sangat tinggi yang bisa didapat dengan bergabung di startup AI yang sedang berkembang pesat atau dengan mendirikan startup AI mereka sendiri.
Banyak Benefit Karyawan yang Dipangkas
Google telah lama menjadi tolok ukur utama bagi fasilitas istimewa di Silicon Valley, dengan memadukan gaji tinggi dan tunjangan mewah yang mengaburkan batas antara kehidupan kerja dan kehidupan pribadi. Para karyawan masih menikmati makanan gratis atau bersubsidi, perlindungan kesehatan yang komprehensif, cuti orang tua yang sangat memadai, serta program pensiun yang mumpuni.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, Google secara sistematis memangkas berbagai fasilitas mewahnya demi menghemat biaya dan beroperasi secara lebih efisien. Sebagai contoh, pada 2023, perusahaan menghapus sejumlah area camilan dan pilihan makanan, sebagaimana terungkap dalam memo internal yang bocor dan dilihat oleh The Wall Street Journal.
Menurut memo yang sama, perusahaan juga menutup beberapa kafetaria pada hari-hari dengan tingkat kehadiran karyawan yang rendah di kantor. CNBC Internasional juga melaporkan bahwa pada tahun tersebut, Google menghentikan layanan pijat gratis bagi para karyawannya.
Seorang juru bicara Google mengatakan kepada Business Insider bulan lalu bahwa perusahaan yakin masih mampu menarik dan mempertahankan talenta-talenta terbaik.
(fab/fab)
Addsource on Google

2 hours ago
1

















































