Fenomena Orang Amerika Ramai-Ramai Beralih ke Teknologi China

3 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - China terus berupaya mengejar ketinggalan dari Amerika Serikat (AS) di sektor teknologi kecerdasan buatan (AI). Upaya itu akhirnya membuahkan hasil.

Model-model AI yang dibangun China makin ramai digunakan perusahaan-perusahaan asal AS. Fenomena ini menandai kepercayaan yang meningkat terhadap model AI asal China, terlebih karena biayanya jauh lebih murah dibandingkan AI buatan AS.

Model-model AI kawakan asal China seperti DeepSeek dan Z.ai dinilai sudah mumpuni dan cukup kompetitif dibandingkan model-model AI unggulan dari AS seperti Anthropic dan OpenAI. Di saat bersamaan, harga token untuk menggunakan model-model AI asal AS makin tinggi.


Di tengah guncangan ekonomi saat ini, perusahaan-perusahaan mempertimbangkan alternatif yang lebih murah, ketimbang harus terus-terusan bergantung pada model-model AI mahal yang ditawarkan raksasa AS.

Menurut data dari OpenRouter, platform yang memungkinkan pengembang mengakses beragam model AI, terjadi peningkatan signifikan dalam penggunaan token model-model AI asal China oleh perusahaan-perusahaan AS.

Pangsa pasarnya meningkat di atas 30% setiap minggunya sejak 8 Februari 2026, dan mencapai angka tertinggi sebesar 46%, dikutip dari CNBC International, Selasa (7/7/2026), berdasarkan data OpenRouter.

Meningkatnya popularitas model-model sumber terbuka (open-source) asal China bertepatan dengan upaya pemerintah AS memperketat regulasi untuk model-model AI tercanggihnya, sembari terus membendung adopsi ke model-model alternatif buatan asing.

Pada akhir Juni lalu, OpenAI mengatakan akan membatasi peluncuran model-model baru atas permintaan pemerintahan Trump. Kebijakan kontrol ekspor model Mythos dan Fable dari Anthropic juga sempat diterapkan, meski kemudian dicabut pada bulan ini.

"Model-model AI China sangat menarik bagi perusahaan-perusahaan AS saat ini, seiring meningkatkan biaya AI [untuk model-model buatan AS]," kata Kyle Chan, rekan peneliti di John L. Thornton China Center di lembaga think tank Brookings.

"Sebelumnya, perusahaan-perusahaan AS memprioritaskan adopsi AI, kini mereka lebih sadar dengan biaya yang harus dikeluarkan," ia menambahkan.

Alasan Banyak Perusahaan AS 'Lari' ke China

Saat perusahaan-perusahaan mulai menjalankan model-model AI untuk menciptakan produk baru dan meningkatkan efisiensi internal, para engineer makin tergerak untuk bereksperimen dengan model-model open-source dan open-weight.

Sebagai informasi, model open-source menyediakan keseluruhan 'resep' dari sistem AI, mulai dari parameter pelatihan, kode pelatihan, dan dataset. Sementara itu, model open-weight hanya membagikan model parameter yang bisa diunduh, tetapi 'menyembunyikan' bagaimana data dilatih dan digunakan.

Model-model open-source dan open-weight yang ditawarkan produsen AI asal China memungkinkan para pengembang untuk melakukan inspeksi, menggunakan, dan terkadang memodifikasi. Skema ini berbeda dari model-model sumber tertutup (closed-source) yang ditawarkan perusahaan AS asal China seperti OpenAI, Anthropic, dan Google. Kode dan 'resep dapur'-nya menjadi hak intelektual perusahaan.

Pada Juni lalu, startup AI Lindy memindahkan 100% trafik layannnya dari mdoel Claude buatan Anthropic ke model DeepSeek asal China. "Kami melihat biaya berkurang jauh," kata CEO Flo Crivello kepada CNBC International. Ia mengatakan keputusan tersebut menghemat anggaran perusahaan hingga miliaran dolar AS hanya dalam beberapa bulan.

Dalam periode Mei dan Juni 2026, penggunaan token model DeepSeek melonjak di Vercel, platform yang memungkinkan pengembang menyebarkan dan menjalankan aplikasi dan website.

Model GLM 5.2 Zai diluncurkan pada Juni lalu dan langsung mendapat adopsi paling cepat di antara model-model AI yang dilacak Vercel sepanjang 2026, menurut Harpreet Arora, kepala infrastruktur agentik Vercel kepada CNBC International.

"Pada minggu pertama setelah diluncurkan, volume token harian [GLM 5.2] tumbuh 27 kali lipat dan jumlah konsumen yang menggunakannya tumbuh sekitar 80 kali lipat," ia menambahkan.


Menurut Arora, harga menjadi faktor penentu banyak perusahaan beralih menggunakan model-model AI dari China. "Ketika suatu tugas tidak membutuhkan model terbaik, tim perusahaan akan mulai beralih ke model termurah yang cukup bagus. Gelombang perilisan model-model baru dari China memenangkan momentum ini," Aurora menjelaskan.

Model-model open-source asal China bisa lebih murah sekitar 60%-90% dibandingkan model-model unggulan buatan Anthropic dan OpenAI, menurut Justin Summerville yang menganalisa data di OpenRouter.

Meskipun Claude dan ChatGPT masih mendominasi penggunaan di LaunchLemonade, platform agen AI untuk industri yang teregulasi, GLM 5.2 saat ini sudah masuk jejeran 'top 5' model paling banyak digunakan pada platform tersebut, menurut CEO LaunchLemonade Cien Solon.

"Model-model China seperti Z.ai dan Qwen menjadi opsi bagi perusahaan-perusahaan. Model-model ini menarik karena mengombinasikan kinerja dan harga terjangkau untuk tugas-tugas tertentu," kata Cien.

Kinerja Model AI China Makin Canggih

Kinerja model AI asal China juga terus meningkat. Meskipun biayanya sering kali lebih murah dari pesaing asal AS, model-model ini beroperasi "mendekati kemampuan model-model terdepan AS," ujar Chan dari Brookings, seraya memperkirakan bahwa saat ini mereka tertinggal "enam hingga sembilan bulan" di belakang pesaing utama dari AS.

"Model-model open-source yang baru ini menunjukkan kinerja yang baik dan terbukti mampu menangani hampir semua tugas LLM, kecuali yang paling kompleks," kata Summerville.

GLM 5.2 mencatatkan hasil yang hanya berselisih satu poin persentase dari Opus 4.8 milik Anthropic pada salah satu tolok ukur (benchmark) agen AI yang banyak disorot, dengan biaya sekitar seperlimanya. Beberapa peneliti menyebutkan bahwa GLM 5.2 mampu menandingi kinerja laboratorium-laboratorium terkemuka AS pada sejumlah tolok ukur keamanan siber.

Beralih ke DeepSeek V4 meningkatkan kinerja pada banyak kasus penggunaan utama bagi Lindy, ungkap Crivello dalam sebuah unggahan di X.

"Kami melihat perusahaan makin termotivasi untuk beralih ke tumpukan teknologi AI yang lebih murah, yang dapat mereka kendalikan dan sesuaikan sendiri. Mengingat kondisi model sumber terbuka dan model dengan bobot terbuka (open-weight) saat ini, hal itu sering kali berarti memanfaatkan opsi dari China," ujar Yacine Jernite, kepala pembelajaran mesin (machine learning) di Hugging Face, kepada CNBC.

"Ada risiko nyata bahwa pengguna akan terjebak dalam pilihan sulit: menggunakan model eksklusif AS yang berkinerja tinggi namun mahal, dengan harga dan aksesibilitas yang bisa berubah drastis, atau beralih ke model China sebagai satu-satunya alternatif yang layak jika mereka ingin mengendalikan biaya atau memiliki kendali penuh atas tumpukan teknologi AI mereka," Jernite menerangkan.

(fab/fab)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |