Fenomena Erupsi Gunung Api Muncul Bersamaan, ESDM Ungkap Alasannya

6 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menjelaskan fenomena erupsi beberapa gunung api di Indonesia yang terjadi dalam waktu yang berdekatan seperti saat ini. Tak ayal, fenomena itu menjadi pertanyaan publik apakah erupsi satu gunung api bisa memicu erupsi di gunung api lainnya?

Beberapa erupsi gunung api yang dimaksud seperti erupsi Gunung Anak Krakatau di Lampung, Gunung Api Ibu di Halmahera, Gunung Api Ili Lewotolok di NTT, Gunung Api Semeru di Jawa Timur, dan beberapa gunung lainnya yang saat ini aktif mengalami erupsi.

Lantas, apa arti dari fenomena erupsi gunung api bersamaan di RI?

Kementerian ESDM dalam unggahannya di Instagram @kesdm mengungkapkan bahwa pola aktivitas gunung yang ada di Tanah Air beragam. Terdapat gunung yang sering mengalami erupsi, ada pula gunung yang aktivitasnya meningkat dalam hitungan minggu-bulan, ada pula yang tenang dan sewaktu bisa aktif kembali.

"Karena itu, ketika beberapa gunung api erupsi pada waktu yang hampir bersamaan, tidak otomatis berarti semuanya dipengaruhi oleh satu sumber magma yang sama," tulis Kementerian ESDM dalam unggahan Instagramnya, dikutip Jumat (11/9/2026).

Salah satu hasil kajiannya pada Gunung Api Anak Krakatau menunjukkan bahwa gunung itu masih berpotensi untuk mengalami erupsi karena sistem masih aktif.

"Namun, itu bukan berarti erupsi berikutnya pasti lebih besar. Meski begitu, aktivitas kegempaan internal masih terekam, sehingga pemantauan tetap dilakukan secara intensif," tulis Kementerian ESDM.

Kementerian ESDM menyebutkan bahwa erupsi bersamaan yang terjadi saat ini lantaran Indonesia berada di wilayah tektonik yang sangat aktif dan memiliki banyak gunung api aktif. Saking banyaknya gunung api aktif di Indonesia, maka beberapa gunung api bisa mengalami erupsi secara bersamaan tanpa ada keterikatan.

"Yang penting dipahami, setiap gunung api memiliki sistem magma dan karakter aktivitas yang berbeda-beda. Sampai saat ini belum ada bukti atau dasar ilmiah adanya hubungan pemicu antar-gunung api pada rangkaian erupsi," tambah pernyataan Kementerian ESDM.

Meskipun seluruh gunung api di Indonesia berkaitan dengan proses tektonik yang sama dalam skala regional, masing-masing gunung api memiliki sistem magma yang terpisah.

"Karena itu, erupsi Anak Krakatau tidak bisa langsung diartikan sebagai penyebab erupsi Semeru, Ili lewotolok, Gunung Ibu, atau gunung api lainnya," imbuh Kementerian ESDM.

Selain itu, pemerintah juga menjelaskan bahwa naiknya magma ke permukaan salah satunya dipengaruhi oleh proses di dalam gunung api, seperti tekanan magma, gas, hingga suplai magma dari kedalaman.

"Namun, hujan tetap perlu diwaspadai karena meningkatkan risiko bahaya sekunder seperti lahar, erosi lereng, dan longsoran material vulkanik," tambah Kementerian ESDM.

Status Gunung Api Aktif di Indonesia

Sepanjang tahun 2026, Kementerian ESDM mencatat ada 11 gunung api yang masih mengalami erupsi. Berikut rinciannya:

Level II (Waspada):

Gunung Api Ili Lewotolok: 24.442 kali

Gunung Api Ibu: 25.556 kali

Gunung Api Dukono: 8.216 kali

Gunung Api Marapi: 51 kali

Gunung Api Dempo: 3 kali

Gunung Api Karangetang: 1 kali

Level III (Siaga):

Gunung Api Anak Krakatau: 243 kali

Gunung Api Lewotobi Laki-laki: 790 kali

Gunung Api Semeru: 20.326 kali

Gunung Api Merapi: 115 kali

Gunung Api Sinabung: 2 kali.

(wia) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |