Jakarta, CNBC Indonesia - Direktur Metodologi dan Sains Data Badan Pusat Statistik (BPS) Setia Pramana menjelaskan bahwa ketidaksesuaian desil dengan kondisi masyarakat disebabkan oleh belum adanya pemutakhiran data.
Hal itu menjawab adanya isu yang tengah ramai dibicarakan publik, yakni terkait kasus seorang tukang becak asal Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta yang bernama Timbul (49) di mana tiba-tiba masuk ke desil 9 dari sebelumnya ada di desil 1. Kemudian, menjadi desil 3 saat dimutakhirkan datanya.
Setia menjelaskan, hal tersebut bisa terjadi karena belum adanya pemutakhiran data, sehingga ada ketidaksesuaian. Namun, setelah dilakukan pemutakhiran, barulah golongan desil Timbul asal Yogyakarta tersebut kembali ke kondisi sebenarnya.
"Datanya belum sesuai. Jadi misalnya Bapak yang becak yang di Jogja, misalnya dicek datanya, dimasukkan datanya, ya memang kondisi di-update memang sesuai dengan kondisi saat ini," ucap Setia kepada awak media di Politeknika Statistik STIS, Jakarta, Jumat (11/9/2026).
Setia mengatakan bahwa pihaknya terus melakukan pemutakhiran data untuk kebutuhan sosial dan ekonomi, termasuk yang utama adalah penyempurnaan akurasi data kemiskinan dan data masyarakat penerima bantuan sosial.
"Saya rasa itu menjadi penting, bahwa mutakhirkan data itu menjadi penting," ujarnya.
Pemutakhiran data, ujar Setia, sangat penting untuk menangkap kondisi sosial ekonomi masyarakat yang sangat dinamis. Dalam pengertian, dinamika kekayaan masyarakat.
"Jadi gini, memang data dinamis ya. Kondisi kita dinamis. Harapan kita semua bisa meng-capture dinamika tadi. Misalkan dia tidak mampu, jadi mampu. Ada juga sebaliknya. Harapannya dengan data yang mutakhir, kita bisa meng-capture itu sebenarnya," jelas Setia.
(wia)
[Gambas:Video CNBC]

4 hours ago
1
















































