Jakarta, CNBC Indonesia — Tren penyakit diabetes tipe 2 yang selama ini kerap diidentikkan dengan kelompok masyarakat lanjut usia, kini secara mengkhawatirkan mulai merambah populasi usia muda dan remaja. Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengungkapkan temuan klinis bahwa penyakit gangguan metabolik ini bahkan sudah mulai menjangkiti anak-anak di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Paparan bernada peringatan tersebut diutarakan oleh Dante saat memberikan pidato resmi pada agenda pameran kesehatan di ibu kota beberapa waktu lalu. Menurut sudut pandangnya, lonjakan kasus diabetes tipe 2 di kalangan generasi muda ini tidak semata-mata dipicu oleh faktor hereditas atau keturunan, melainkan erat kaitannya dengan pergeseran gaya hidup drastis yang terjadi belakangan ini.
"Dulu diabetes tipe 2 identik dengan usia 40 atau 50 tahun ke atas. Tetapi hari ini dan ini yang membuat saya tidak bisa tenang sebagai seorang dokter kita mulai melihatnya muncul pada remaja, bahkan beberapa kasus pada anak usia SMP," ungkap Dante dikutip dari keterangan tertulis, Minggu (21/6/2026).
Ia menjelaskan, sejumlah faktor yang berkontribusi terhadap meningkatnya kasus diabetes pada remaja antara lain rendahnya aktivitas fisik, tingginya durasi penggunaan gawai atau screen time, kurang tidur, serta konsumsi makanan dan minuman tinggi gula maupun makanan ultra-proses secara berlebihan.
Selain itu, tekanan mental yang dihadapi remaja masa kini turut memperburuk kondisi tersebut. Ironisnya, diabetes tipe 2 pada remaja cenderung berkembang lebih cepat dan lebih agresif dibandingkan pada orang dewasa.
Menghadapi ancaman tersebut, ia menegaskan bahwa solusi utama bukan hanya obat-obatan, melainkan perubahan kebiasaan yang dimulai dari rumah.
"Ini bukan untuk menakut-nakuti. Pencegahan harus dimulai sekarang. Makan bersama, tidur cukup, mengurangi waktu di depan layar, dan aktif bergerak bersama keluarga," tegasnya.
Dante juga membagikan pengalamannya mendaki Gunung Ciremai bersama putranya sebagai cara menjaga kebugaran sekaligus melepas penat dari penggunaan gawai.
Pemerintah, lanjutnya, telah merespons persoalan ini melalui program Cek Kesehatan Gratis yang menjangkau 25 juta anak sekolah, serta penerapan program "nutri-level", yakni sistem label A hingga D pada kemasan makanan dan minuman untuk memperingatkan masyarakat terkait kadar gula.
Dari pemeriksaan di sekolah-sekolah, ditemukan pula berbagai masalah kesehatan yang mulai dialami remaja sejak dini, seperti hipertensi, anemia, hingga gangguan kesehatan gigi.
Canisius Health Expo 2026 merupakan wujud kepedulian terhadap isu kesehatan yang digagas oleh alumni Kolese Kanisius angkatan 2001 bersama salah satu rumah sakit swasta di Jakarta. Acara ini menghadirkan layanan pemeriksaan kesehatan gratis serta konsultasi dengan dokter spesialis bagi masyarakat.
Direktur Kolese Kanisius Thomas Gunawan Wibisono menyambut baik inisiatif tersebut. Ia menyebut angkatan 2001 berhasil melahirkan 17 dokter yang kini mengabdi kepada masyarakat.
"Ini sejalan dengan visi kami, to be man for others with others. Para alumni hadir membawa nilai-nilai kolese untuk berbagi dengan sesama, terutama bagi mereka yang terkendala akses kesehatan," ujarnya.
(mkh/mkh)
Addsource on Google

5 hours ago
3

















































