Eropa Diam-Diam Buat Strategi Jika AS Keluar dari NATO, Ini Plan B nya

10 hours ago 7

Amalia Zahira,  CNBC Indonesia

20 May 2026 20:10

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketidakpuasan terhadap kepemimpinan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap NATO mulai mengancam keamanan kawasan Uni Eropa.

Di tengah meningkatnya ancaman Rusia dan langkah Trump yang beberapa kali memangkas kehadiran militer Amerika di Eropa, Eropa terpaksa harus menyiapkan "Plan B".

Aliansi militer kecil bernama Joint Expeditionary Force (JEF) kini mulai dilihat sebagai sistem pertahanan alternatif Eropa. Koalisi yang dipimpin Inggris tersebut dinilai lebih fleksibel karena dapat bergerak tanpa harus menunggu persetujuan bulat seluruh anggota NATO.

Trump Bikin Eropa Mulai Siapkan "Plan B"

Kekhawatiran Eropa meningkat setelah Donald Trump kembali mempertanyakan komitmen Amerika terhadap NATO dan Pasal 5, yaitu prinsip bahwa serangan terhadap satu anggota dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota. Trump bahkan membatalkan sejumlah pengerahan pasukan dan fasilitas militer AS di Eropa, termasuk pengurangan pasukan di Jerman.

Situasi semakin sensitif ketika Trump sempat mengancam akan mengambil Greenland dari Denmark. Ancaman itu memicu kekhawatiran baru di internal NATO, bukan hanya soal kemungkinan Amerika tidak membantu Eropa dalam perang melawan Rusia, tetapi juga potensi Amerika menjadi musuh baru bagi NATO itu sendiri.

Selama puluhan tahun, NATO beroperasi dengan struktur yang sangat bergantung pada Amerika Serikat, mulai dari kepemimpinan militer, sistem komunikasi, intelijen, hingga pengawasan udara. Banyak markas penting NATO di Eropa juga masih berada di bawah komando Amerika.

Karena itu, membangun Plan B bukan hanya soal menambah tank atau membeli senjata baru, melainkan membentuk ulang rantai komando militer Eropa agar dapat berjalan tanpa dukungan Amerika.

JEF Jadi Cikal Bakal "NATO Mini" Eropa

Joint Expeditionary Force (JEF) awalnya dibentuk pada 2014 oleh Inggris bersama sejumlah negara Nordik dan Baltik sebagai pasukan respons cepat menghadapi krisis keamanan regional. Berbeda dengan NATO yang membutuhkan konsensus seluruh anggota untuk mengambil keputusan besar, JEF dapat bergerak lebih cepat tanpa mekanisme persetujuan penuh.

Dalam beberapa tahun terakhir, posisi JEF makin strategis setelah Swedia dan Finlandia bergabung pada 2017, bahkan sebelum keduanya resmi masuk NATO. Edward Arnold dari RUSI-sebuah think-tank di London, mengatakan bahwa JEF merupakan alternatif NATO paling nyata saat ini. Markas utamanya terletak di dekat London dengan kapabilitas di bidang intelijen, perencanaan, dan logistik. JEF juga memiliki jaringan komunikasi pribadi, walaupun masih terbatas.

Bagi sebagian negara Eropa Utara dan Baltik yang berada dekat dengan Rusia, model seperti JEF dinilai lebih relevan untuk menghadapi ancaman cepat dibanding mekanisme NATO yang lebih birokratis.

Eropa Masih Hadapi Banyak Kendala

Meski dianggap alternatif paling siap, JEF masih memiliki banyak keterbatasan. Koalisi tersebut saat ini lebih berfokus pada kawasan Nordik dan Baltik serta belum melibatkan kekuatan utama Eropa seperti Prancis, Jerman, dan Polandia secara penuh.

Di sisi lain, Inggris sebagai pemimpin JEF juga menghadapi persoalan kapasitas militer akibat minimnya pendanaan pertahanan selama bertahun-tahun. Sejumlah pejabat NATO bahkan meragukan kesiapan armada kapal perang, kapal selam, dan pasukan tempur Inggris untuk menghadapi konflik besar dalam waktu cepat.

Karena itu, sejumlah analis menilai Jerman akan menjadi kunci masa depan pertahanan Eropa. Berlin kini mulai meningkatkan anggaran militernya secara besar-besaran setelah ancaman Rusia kembali meningkat sejak perang Ukraina.

Pada akhirnya, Eropa dinilai tetap harus membangun sistem pertahanan kolektif baru yang lebih mandiri. Sebab, efek gentar terhadap lawan tidak akan efektif jika bergantung pada sekutu yang sewaktu-waktu bisa memilih untuk tidak datang membantu.

(mae/mae)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Kasus| | | |