Jakarta, CNBC Indonesia — Emiten ritel telekomunikasi PT Trikomsel Oke Tbk (TRIO) tengah menjajaki transformasi bisnis yang sangat drastis.
Perusahaan yang selama ini dikenal sebagai penjual telepon seluler tersebut kini berencana masuk ke bisnis perdagangan protein untuk industri pakan ternak serta produk personal care.
Dalam penjelasannya kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), manajemen menyebut langkah tersebut diambil setelah melihat dinamika industri telepon seluler yang semakin kompetitif, sehingga perseroan mulai melirik peluang di sektor yang berkaitan dengan kebutuhan konsumen sehari-hari dan tren produk yang lebih ramah lingkungan.
Bisnis trading protein yang dimaksud adalah perdagangan bahan baku sumber protein untuk industri pakan ternak, termasuk protein dari hasil olahan dengan teknologi BSF. Perseroan menilai model usaha perdagangan masih sejalan dengan fokus bisnis yang dimiliki saat ini.
Manajemen menyebut pengembangan usaha baru tersebut akan dilakukan secara bertahap melalui entitas anak, dengan tetap mempertimbangkan kondisi pasar dan kemampuan permodalan perusahaan. Perseroan memperkirakan uji coba bisnis baru dapat dimulai secara bertahap pada kuartal II-2026, dengan komersialisasi terbatas pada paruh kedua 2026.
"Perseroan berharap dalam jangka menengah dapat memperoleh sumber kontribusi tambahan terhadap kinerja perseroan, sekaligus memperkuat keberlanjutan usaha ke depan," mengutip keterbukaan informasi, Jumat (6/3/2026).
Masih Rugi dan Punya Utang Jumbo
Di tengah rencana transformasi bisnis tersebut, TRIO sejauh ini belum menunjukkan pertumbuhan pendapatan yang singifikan. Perseroan berupaya meningkatkan penjualan melalui penguatan kanal pemasaran online seperti live sales, konten interaktif, serta integrasi penjualan online dan offline.
Selain itu, perusahaan juga melakukan efisiensi biaya operasional, termasuk penyederhanaan proses kerja melalui pemanfaatan teknologi serta pengendalian biaya pemasaran dan operasional.
Dari sisi operasional, perseroan juga melakukan perbaikan pengelolaan rantai pasok, menjaga komunikasi dengan pemasok, menambah merek secara bertahap, serta mengelola persediaan dengan lebih selektif dengan fokus pada produk dengan perputaran cepat dan margin yang lebih baik.
Per September 2025, TRIO membukukan rugi yang semakin besar, yakni Rp 48,74 miliar. Pada periode yang sama tahun sebelumnya rugi TRIO tercatat sebesar Rp 26,62 miliar.
Di sisi lain, TRIO juga masih berupaya menuntaskan restrukturisasi utang dengan perbankan. Hingga saat ini, perseroan masih melakukan komunikasi dengan kreditur utama, yakni Bank Negara Indonesia dan Bank Mandiri, terkait proses evaluasi restrukturisasi.
Per 31 Desember 2025, outstanding utang pokok perseroan tercatat sekitar Rp1,05 triliun kepada BNI dan Rp210,17 miliar kepada Bank Mandiri. Jumlah liabilitas tersebut jauh lebih besar dibandingkan dengan aset perusahaan yang tercatat Rp 64,72 miliar per September 2025.
Manajemen menyebut proses restrukturisasi masih dalam tahap evaluasi internal oleh masing-masing bank. Sementara itu, perseroan tetap melakukan pembayaran cicilan pokok utang kepada kreditur sesuai kemampuan keuangan perusahaan.
Adapun per 31 Januari 2026, penerima manfaat akhir TRIO salah satunya adalah Sugiono Wiyono Sugialam selaku pemegang saham tidak langsung. Dia mengendalikan TRIO melalui PT Tigadari Fiesta dan Polaris Ltd yang masing-masing menggenggam 8,69% dan 8,22% saham TRIO.
Selain itu, PT Sukses Perdana Prima tercatat sebagai pemegang mayoritas saham dengan kepemilikan 38,25%. Lalu, data per 27 Februari 2026, Huawaei Tech Investment mengekap saham TRIO sebanyak 1,2%.
(mkh/mkh)
Addsource on Google

4 hours ago
2
















































