Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
22 August 2026 07:00
Jakarta, CNBC Indonesia — Harga emas dunia melesat hingga menembus posisi tertingginya dalam lebih dari tiga bulan. Pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) serta rencana pembelian kembali obligasi pemerintah AS menjadi pendorong kenaikan harga logam mulia tersebut.
Merujuk data Refinitiv, harga emas pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (21/8/2026), ditutup menguat 1,88% di level US$4.602,6. Bahkan sepanjang perdagangan kemarin, harga emas sempat menyentuh US$4.631,99 per troy ons. Posisi tersebut menjadi yang tertinggi sejak 15 Mei 2026.
Lonjakan harga emas tidak terlepas dari pelemahan dolar AS setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan rencana memperbesar pembelian kembali atau buyback obligasi pemerintah.
Program tersebut ditujukan untuk menjaga kelancaran perdagangan di pasar obligasi, terutama dengan membeli kembali surat utang berjangka panjang yang sudah jarang diperdagangkan.
Pada Rabu (19/8/2026), Departemen Keuangan AS mengumumkan akan melipatgandakan pembelian kembali obligasi pemerintah berjangka panjang. Menteri Keuangan AS Scott Bessent kemudian mengatakan pada Kamis bahwa program tersebut masih dapat diperluas.
Kebijakan itu membantu meredakan tekanan di pasar obligasi. Namun, pelaku pasar juga mempertanyakan apakah upaya pemerintah menenangkan pasar surat utang dapat mengurangi kepercayaan terhadap dolar AS.
Dolar pun bergerak di sekitar posisi terendahnya sejak pertengahan Mei. Bahkan dalam sepekan, harga emas sampai melonjak 5,18%. Kenaikan tersebut sekaligus memperpanjang penguatan mingguan emas menjadi tiga pekan beruntun.
Pelemahan dolar membuat emas yang diperdagangkan dalam mata uang AS menjadi lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain. Kondisi tersebut biasanya ikut meningkatkan permintaan terhadap emas.
Kenaikan emas juga didukung oleh pergerakan teknikal setelah harganya menembus sejumlah batas penting.
Harga emas berhasil melewati rata-rata pergerakan 200 hari yang berada di sekitar US$4.513 per troy ons. Penembusan level tersebut kerap dipandang sebagai sinyal bahwa tren kenaikan masih dapat berlanjut.
"Faktor besarnya tentu saja teknikal. Target berikutnya adalah US$4.700 jika momentum ini berlanjut, tetapi saya juga menilai kenaikan ini sangat didorong oleh pelemahan dolar AS," kata Bart Melek, Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, dikutip dari Reuters.
Minat pelaku pasar terhadap emas juga meningkat setelah ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve atau The Fed, mulai berkurang.
The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan Juli. Sejumlah data ekonomi AS yang lebih lemah kemudian membuat pasar tidak lagi seagresif sebelumnya dalam memperkirakan kenaikan bunga lanjutan.
Goldman Sachs menilai perubahan ekspektasi tersebut kembali menghidupkan minat spekulatif terhadap emas di bursa COMEX. Permintaan terhadap produk investasi berbasis emas atau exchange-traded fund (ETF) juga ikut meningkat.
Selain itu, permintaan terhadap opsi beli emas dilaporkan melonjak karena investor kembali mencari perlindungan dari ketidakpastian kebijakan ekonomi global.
"Permintaan opsi beli emas meningkat tajam seiring munculnya kembali kebutuhan lindung nilai terhadap kebijakan makro global, sehingga memperbesar pergerakan harga, baik naik maupun turun," tulis Goldman Sachs.
Meski demikian, kenaikan harga mulai menekan permintaan emas fisik di sejumlah negara. Pembeli ritel di India cenderung menahan diri setelah harga melonjak, sementara permintaan di China masih relatif stabil.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)

3 hours ago
2

















































