Diagnosis Sama Terapi Bisa Berbeda, Ini Wajah Baru Pengobatan Kanker

6 hours ago 8

Jakarta, CNBC Indonesia - Perkembangan dunia medis modern telah mengubah lanskap penanganan kanker secara signifikan. Jika dulu perawatan kanker kerap diidentikkan dengan kemoterapi konvensional, kini pendekatan klinis telah bergeser ke arah personalized medicine atau pengobatan berbasis profil biologis dan genetik masing-masing individu.

Peningkatan kasus kanker global termasuk di Indonesia yang mencatatkan lebih dari 400.000 kasus baru pada tahun 2022 menuntut strategi penanganan yang lebih presisi. Kementerian Kesehatan terus menggalakkan deteksi dini melalui perluasan program skrining kesehatan, namun langkah diagnostik awal tersebut harus diimbangi dengan formulasi rencana pengobatan yang tepat sasaran.

Kini, penanganan medis tidak hanya bergantung pada jenis tumor atau stadium penyakit saja. Karakteristik molekuler, keberadaan biomarker spesifik, hingga respons genetis individu menjadi fondasi utama penentuan jenis terapi.

Berbagai opsi pengobatan mutakhir seperti terapi target, antibody-drug conjugates (ADC), imunoterapi, hingga terapi sel T-CAR terbukti menawarkan tingkat efektivitas lebih tinggi dengan tingkat efek samping yang lebih terkontrol.

Konsultan Senior Onkologi Medis dari OncoCare Cancer Centre Singapura dr. Kevin Tay menekankan pentingnya pendekatan yang disesuaikan secara personal dalam menentukan strategi pengobatan pasien.

"Dua pasien bisa saja datang dengan diagnosis yang sama. Setelah kita mencermati kankernya secara biologis dan gambaran klinis masing-masing individu, strategi pengobatan mereka bisa sangat berbeda. Langkah pertama adalah memastikan pasien ditangani oleh spesialis yang tepat, dengan informasi yang dibutuhkan untuk mengambil keputusan tersebut dengan benar," ujar dr. Kevin di Beautika Panglima Polim, Jakarta Selatan, Jumat (18/9/2026).

Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa bagi pasien yang sudah mendapatkan diagnosis, perkembangan terapi memberikan semakin banyak kemungkinan yang dapat dipertimbangkan.

"Pesannya bukan bahwa satu terapi dapat digunakan untuk semua pasien, melainkan bahwa pengobatan kanker semakin bergerak menuju keputusan yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing pasien dan penyakitnya," ungkapnya.

Pentingnya Kolaborasi Multidisiplin dan Spesialisasi
Tantangan utama dalam perawatan kanker sering kali terletak pada proses pengambilan keputusan medis yang terfragmentasi. Pembuatan rencana terapi yang dilakukan secara terpisah antar-departemen berisiko memicu pengerjaan tes berulang, membengkaknya biaya, serta penundaan waktu penanganan yang membebani emosional pasien.

Untuk menghindari hal tersebut, pengobatan presisi memerlukan integrasi kerja dari tim lintas disiplin. Ini mulai dari ahli onkologi medis, bedah, radiologi, patologi, hingga konseling genetik.

Pengujian genetik melalui tes tumor atau darah diarahkan secara spesifik untuk mengidentifikasi biomarker yang relevan, sehingga terapi yang dipilih benar-benar memberikan manfaat optimal bagi pasien.

Dengan penanganan oleh subspesialis yang tepat dan integrasi data klinis yang utuh sejak awal, peluang pasien untuk mempertahankan kualitas hidup dan mencapai angka harapan hidup yang lebih panjang kini semakin terbuka lebar.

(miq/miq) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |