Di Sarasehan Energi, DEN Mitigasi Risiko Pasokan di Tengah Geopolitik

2 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Dewan Energi Nasional (DEN) menggelar Sarasehan Energi sebagai ruang strategis untuk memperkuat pemahaman, sekaligus sinergi lintas sektor dalam merespons dinamika energi yang kian kompleks. Kegiatan tersebut menghadirkan unsur pemerintah, akademisi, pelaku usaha, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Rangkaian acara meliputi keynote speech, diskusi panel, hingga sesi interaktif yang mengupas isu-isu krusial, mulai dari kondisi energi nasional, efektivitas subsidi tepat sasaran, hingga tantangan penyediaan energi di tengah tekanan geopolitik global. Anggota DEN Saleh Abdurrahman, menekankan urgensi percepatan transisi energi sebagai respons terhadap ketidakpastian global.

Menurutnya, akselerasi transisi energi menjadi kunci untuk memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional, terutama di tengah dampak konflik geopolitik yang memengaruhi stabilitas pasokan dan harga energi dunia. Ia juga menyoroti pentingnya kebijakan energi yang adaptif dan berkelanjutan.

Upaya tersebut mencakup peningkatan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT), penguatan cadangan energi nasional, serta optimalisasi energi transisi, sejalan dengan arah Kebijakan Energi Nasional dalam PP Nomor 40 Tahun 2025. Sementara itu, Anggota DEN Mohamad Fadhil Hasan mengungkap bahwa sektor energi nasional masih menghadapi sejumlah tantangan struktural.

Ketergantungan terhadap impor migas, fluktuasi harga minyak dunia, hingga tekanan terhadap subsidi energi menjadi isu yang perlu direspons secara komprehensif.

"Dinamika geopolitik global saat ini memberikan tekanan nyata terhadap penyediaan energi nasional. Karena itu, diperlukan strategi menyeluruh baik dari sisi suplai maupun demand untuk menjaga ketahanan energi," ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (27/4/2026).

Perspektif akademik turut memperkaya diskusi yang disampaikan oleh Rachmawan Budiarto selaku Tenaga Ahli Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM. Dalam paparannya, disampaikan bahwa gejolak harga energi akibat konflik geopolitik tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga menimbulkan efek berantai terhadap biaya produksi industri dan daya saing ekonomi nasional.

Efisiensi energi serta kebijakan yang tepat dinilai menjadi faktor kunci dalam menjaga stabilitas ekonomi. Dari sisi operasional, Direktur Pemasaran PT Pertamina Patra Niaga, Eko Ricky Susanto, memaparkan kondisi terkini penyediaan energi nasional.

Saat ini, pasar energi global berada dalam fase supply disruption fear, di mana risiko gangguan pasokan meningkat akibat faktor geopolitik. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Pertamina telah menyiapkan berbagai langkah strategis, termasuk diversifikasi sumber impor, penguatan kontrak jangka menengah dan panjang, serta optimalisasi produksi kilang domestik guna menjaga keberlanjutan pasokan BBM dan LPG.

Selain itu, penguatan sistem distribusi dan pengelolaan subsidi energi yang tepat sasaran juga menjadi perhatian utama, guna memastikan energi tetap tersedia secara adil dan berkelanjutan bagi masyarakat. Melalui Sarasehan Energi ini, DEN berharap dapat menghimpun masukan konstruktif dari berbagai pihak dalam rangka memperkuat kebijakan energi nasional yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan.

Diskusi yang berlangsung dinamis mencerminkan tingginya perhatian lintas sektor terhadap isu ketahanan energi di tengah ketidakpastian global. Forum ini sekaligus menegaskan peran strategis DEN dalam merumuskan dan mengawal kebijakan energi nasional, serta memperkuat koordinasi lintas sektor demi mewujudkan kedaulatan dan kemandirian energi Indonesia. Sebagai informasi, acara ini diadakan Jumat (24/4/2026), di Alumni Corner Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Yogyakarta.

(rah/rah)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |