RI Raja Rempah, Tapi Jahe Impor Merajalela

1 hour ago 3

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

18 June 2026 16:45

Jakarta, CNBC Indonesia- Hangatnya menjalar di tenggorokan, aromanya berbekas di setiap kecapan. Sudah berabad menjadi andalan bagi tubuh yang lelah dan cuaca tak bersahabat.

Jahe merupakan salah satu rempah yang paling lekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia.

Namun di tengah kebutuhan yang tetap tinggi, pasokan jahe domestik justru terus mengalami penyusutan dalam beberapa tahun terakhir.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan produksi jahe nasional pada 2025 mencapai 168,97 ribu ton.

Angka tersebut turun 11,19% atau sekitar 21,29 ribu ton dibandingkan 2024 yang masih mencapai 190,26 ribu ton.

Penurunan produksi berlangsung bersamaan dengan menyusutnya luas panen dari 7,49 ribu hektare menjadi 6,51 ribu hektare. Dalam setahun, Indonesia kehilangan hampir seribu hektare lahan jahe.

Jika ditarik lebih panjang, tren pelemahan ini sudah berlangsung sejak beberapa tahun terakhir.

Pada 2021 produksi jahe Indonesia masih mencapai 307,24 ribu ton dengan luas panen 10,61 ribu hektare. Empat tahun kemudian produksinya tinggal 168,97 ribu ton.

Artinya, dalam kurun 2021-2025 produksi nasional terpangkas lebih dari 138 ribu ton, sementara luas panen menyusut sekitar 4,1 ribu hektare.

Penurunan lahan menjadi faktor utama yang menjelaskan melemahnya produksi. Ketika area tanam berkurang, volume panen otomatis ikut turun. Kondisi tersebut mengurangi kemampuan pasokan domestik untuk memenuhi kebutuhan pasar, terutama ketika permintaan dari industri makanan, minuman, farmasi, dan produk herbal tetap berjalan.

Meski demikian, produksi jahe Indonesia masih terkonsentrasi di Pulau Jawa.

Melansir BPS, Jawa Timur menjadi produsen terbesar pada 2025 dengan produksi 41,16 ribu ton atau sekitar 24,36% dari total nasional.

Posisi berikutnya ditempati Jawa Barat dengan produksi 37,55 ribu ton dan kontribusi 22,22%, disusul Jawa Tengah sebesar 27,36 ribu ton atau sekitar 16,19% dari produksi nasional.

JaheJahe Foto: BPS

Dari sisi musim panen, puncak produksi terjadi pada triwulan III 2025. Pada periode tersebut produksi mencapai 62,16 ribu ton dengan luas panen 2,85 ribu hektare. Besarnya kontribusi panen pada kuartal ketiga membuat pasokan jahe nasional masih sangat dipengaruhi oleh pola musim dan kondisi cuaca selama periode tersebut.

Kemerosotan produksi turut tercermin pada kinerja perdagangan luar negeri. Nilai ekspor jahe Indonesia pada 2025 hanya mencapai US$3,88 juta. Angka ini anjlok 54,43% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai US$8,51 juta. Dari sisi volume, ekspor juga turun menjadi 2.619 ton dari 8.229 ton pada 2024.

Padahal beberapa tahun lalu kinerja ekspor sempat melonjak tajam. Pada 2023 volume ekspor jahe Indonesia mencapai 36.407 ton dengan nilai US$28,4 juta. Dalam dua tahun setelahnya, ekspor mengalami koreksi sangat dalam. Kondisi tersebut memperlihatkan pasokan nasional yang semakin terbatas sekaligus berkurangnya kemampuan Indonesia memenuhi pasar luar negeri.

Amerika Serikat menjadi tujuan ekspor utama jahe Indonesia pada 2025 dengan nilai mencapai US$0,99 juta. Malaysia berada di posisi kedua dengan nilai US$0,76 juta, disusul Taiwan sebesar US$0,46 juta. Ketiga negara tersebut menyerap sebagian besar ekspor jahe Indonesia sepanjang tahun lalu.

Di saat ekspor melemah, arus impor bergerak ke arah sebaliknya. BPS mencatat nilai impor jahe pada 2025 mencapai US$11,61 juta, melonjak 51,7% dibandingkan tahun sebelumnya. Volume impor bahkan menembus 17.509 ton, naik tajam dari 10.716 ton pada 2024.

Data tersebut menghasilkan gambaran yang kontras. Nilai impor Indonesia hampir tiga kali lebih besar dibandingkan nilai ekspor. Dari sisi volume, impor juga jauh melampaui ekspor. Situasi ini memperlihatkan bahwa kebutuhan pasar domestik semakin banyak dipenuhi oleh pasokan dari luar negeri.

Thailand menjadi pemasok terbesar dengan nilai impor mencapai US$4,31 juta dan volume 8,44 ribu ton. Vietnam menyusul dengan nilai US$4,11 juta dan volume 7,80 ribu ton. Sementara itu Tiongkok mengirim jahe senilai US$1,61 juta dengan volume sekitar 470 ton.

negara tujuan ekspor dan asal impor jahe Indonesianegara tujuan ekspor dan asal impor jahe Indonesia Foto: BPS

Perkembangan tersebut memperlihatkan perubahan posisi Indonesia dalam perdagangan jahe global. Sebagai negara penghasil rempah, Indonesia masih memiliki produksi yang cukup besar.

Namun sayang laju penurunan luas panen dan produksi dalam beberapa tahun terakhir membuat ruang ekspor menyempit, sementara kebutuhan dalam negeri terus membuka pintu bagi produk impor.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Kasus| | | |