Di Era Suku Bunga Tinggi, Ini Instrumen Investasi yang Menarik

3 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia — PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) memproyeksikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) atau BI Rate masih akan naik sekali lagi pada tahun ini. Dalam kondisi tersebut, investasi di instrumen obligasi menjadi menarik.

Menurut Lanjar Nafi Taulat Ibrahimsyah WM Business Development & Market Research Head CIMB Niaga, kenaikan tersebut diproyeksikan mulai mendekati titik puncak. Lantas, ini menjadi momentum bagi investor untuk mulai mengunci imbal hasil obligasi di level yang relatif tinggi.

"Karena BI Rate ini masih berpeluang naik, namun dengan tendensi yang melambat. Artinya, imbal hasil obligasi itu sudah mulai berada di puncak," ujar Lanjar saat Kelas Jurnalisme Inspiratif di Ritz Carlton Pacific Place, Rabu (26/8/2026).

Dia memproyeksikan pada tahun berikutnya, suku bunga diperkirakan tidak lagi mengalami kenaikan signifikan.

Dengan kondisi tersebut, investor yang baru ingin masuk ke pasar obligasi dapat memanfaatkan tingkat yield yang masih tinggi untuk mengunci imbal hasil.

"Kalau imbal hasilnya tinggi, itu kesempatan kita yang baru mau investasi di obligasi itu sangat menarik," katanya.

Lanjar menyebut imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia pada kuartal II berada di level 7,16%. Sementara itu, CIMB Niaga memiliki proyeksi yang cukup konservatif, yakni yield obligasi Indonesia dapat mencapai 7,5% karena masih mempertimbangkan potensi kenaikan suku bunga.

Sebagai gambaran, Lanjar mengatakan instrumen seperti FR100 saat ini masih menawarkan yield to maturity sekitar 7%-7,1%. Sementara obligasi dengan tenor sekitar lima tahun memiliki yield di kisaran 6,7%-6,8%.

"Kalau kita mau investasi di FR100, yield to maturity imbal hasil obligasinya masih sekitar 7% sampai 7,1%-an, masih dapat, atau kita mau investasi di tenor-tenor yang lima tahun, itu masih sekitar 6,7%-6,8%," ujarnya.

Dia berpendapat kondisi suku bunga yang masih berada dalam fase kenaikan justru memberikan peluang bagi investor untuk mengunci imbal hasil sebelum siklus suku bunga berbalik.

"Karena ekonomi saat ini sedang menghadapi kenaikan fase kenaikan BI Rate, sehingga itu saat yang tepat untuk mengunci imbal hasil kita," tutur Lanjar.

Meski menarik bagi investor baru, kondisi kenaikan yield perlu menjadi perhatian bagi investor yang sudah memegang obligasi.

Lanjar menjelaskan terdapat hubungan terbalik antara yield dan harga obligasi. Ketika yield meningkat, harga obligasi akan mengalami tekanan.

"Kalau imbal hasil naik, harga obligasi turun. Di saat imbal hasil naik tinggi-tingginya, harga obligasi turun, itulah timing yang tepat untuk kita lock imbal hasil di obligasi," jelasnya.

Dengan demikian, investor yang membeli obligasi pada saat yield tinggi berpotensi memperoleh keuntungan ketika siklus suku bunga nantinya mulai berbalik dan yield turun. Penurunan yield tersebut secara teori akan mendorong kenaikan harga obligasi.

Di sisi lain, Lanjar mengingatkan investor untuk tetap memperhatikan risiko nilai tukar. Rupiah diperkirakan masih menghadapi volatilitas akibat faktor eksternal, termasuk potensi capital outflow dan ketidakpastian geopolitik.

Konsensus Bloomberg memperkirakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada di sekitar Rp17.800/US$, sementara CIMB Niaga memiliki proyeksi yang lebih konservatif di Rp18.300/US$.

Oleh karena itu, selain mengoptimalkan pasar obligasi, investor juga disarankan melakukan mitigasi risiko nilai tukar melalui diversifikasi aset yang tidak berdenominasi rupiah.

"Mulailah investasi ke nilai tukar yang tidak berdenominasi rupiah, bisa reksa dana global syariah, atau reksa dana pendapatan tetap yang US dolar," kata Lanjar.

Dengan prospek BI Rate yang dinilai mulai mendekati puncak, Lanjar melihat periode suku bunga tinggi dapat menjadi kesempatan bagi investor untuk mengunci yield obligasi sebelum arah kebijakan moneter berubah.

(mkh/mkh) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |