Di Balik Gelar Agung Ayatollah: Siapa Saja yang Berhak Menyandangnya?

2 hours ago 1

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

02 March 2026 04:30

Jakarta, CNBCIndonesia - Pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan rezim zionis Israel dan Amerika Serikat (AS) pada Sabtu (28/2/2026) pagi waktu setempat.

Tewasnya Khamanei meninggalkan lubang besar dalam sistem kenegaraan Iran. Negeri Para Mullah kini menanti siapa yang akan menjadi "Ayatollah" berikutnya.

Sebuah gelar kerap membawa beban sejarah panjang dan aura intelektual tersendiri, begitu pula "Ayatollah". Layaknya sebuah tanda di cakrawala, gelar ini menjanjikan cahaya spiritual dan hukum, sekaligus mengundang rasa penasaran: siapa tepatnya yang pantas menyandangnya?
Kata Ayatollah berasal dari bahasa Arab dan Persia, terbentuk dari "āya" (tanda/mukjizat) dan "Allah" (Tuhan), yang secara harfiah berarti "tanda Tuhan" atau "refleksi Tuhan" di bumi .

Pemimpin tertinggi Iran adalah kepala negara di Iran yang mengawasi hampir seluruh fungsi pemerintahan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Jabatan ini dibentuk sebagai rahbar ("pemimpin") pada 1979, bersamaan dengan berdirinya Republik Islam Iran, yang memadukan unsur demokrasi dengan pengawasan teokratis oleh ulama Islam dari mazhab Syiah Dua Belas Imam.

Secara umum, Ruhollah Khomeini dan Ali Khamenei, dua rahbar pertama Iran, sering disebut sebagai "ayatollah." Namun, gelar tersebut sebenarnya mencerminkan kedudukan mereka sebagai ulama, bukan jabatan politiknya.

Gelar resmi pemimpin tertinggi Iran, rahbar, secara sederhana berarti "pemimpin," sedangkan gelar ayatollah digunakan oleh banyak ulama dalam mazhab Syiah Dua Belas Imam.


Dalam konteks keagamaan Syiah, gelar ini diberikan kepada ulama tinggi yang kapasitasnya mencapai level mujtahid, yakni mampu memahami hukum Islam secara mendalam dan memberikan fatwa berdasar interpretasi hukum syariah.
Tidak semua ulama bisa menyandang gelar ini. Hanya yang telah menguasai ilmu agama dan banyak diikuti murid serta komunitasnya dianggap layak.

Sebelum Revolusi Iran 1979, hanya beberapa ulama terkemuka menggunakan gelar ini. Namun sejak itu, jumlahnya membesar dari ratusan berkembang menjadi ribuan seiring melembaganya akses ke pendidikan tinggi keagamaan dan penerbitan karya hukum Islam .

Di atas Ayatollah, terdapat Grand Ayatollah atau Ayatollah al-Uzma yang berperan sebagai marja' taqlid sumber rujukan religius bagi umat Syiah. Mereka menerbitkan risalah amaliyah, semacam kitab pedoman ibadah dan sosial, dan fatwa mereka dapat diikuti jutaan penganut.


Nama-nama besar seperti Ruhollah Khomeini dan Ali Khamenei adalah contoh nyata Ayatollah. Khomeini sang Revolusioner Iran menggunakan gelar ini dalam perannya sebagai pemimpin spiritual dan politik. Singkatnya ini bukan gelar sembarangan, tapi simbol legitimasi ilmu dan kepemimpinan keagamaan.

Dalam sistem Syiah, Ayatollah dan apalagi Grand Ayatollah adalah figur berpengaruh.

Mereka dapat memberi fatwa terhadap perkembangan sosial-politik, misalnya tentang hukum publik maupun panduan moral. Fatwa mereka dipatuhi pengikutnya, dan dalam kasus seperti Iran, mereka terlibat dalam legitimasi kebijakan negara .

Ayatollah adalah gelar kehormatan tinggi dalam komunitas Syiah, menandakan seorang ulama mujtahid. Hanya sedikit yang mencapai level ini, dan lebih sedikit lagi yang jadi Grand Ayatollah. Di Indonesia, gelar ini tidak umum, tapi memahami maknanya membantu kita mengerti dinamika keagamaan global.

(mae/mae)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Kasus| | | |