Dapur Emping Melinjo Tetap Riuh, Namun Keuntungan Tak Kunjung Tumbuh

6 hours ago 6
AcehEkonomi

Dapur Emping Melinjo Tetap Riuh, Namun Keuntungan Tak Kunjung Tumbuh Seorang pengrajin menumbuk biji melinjo menjadi emping di dapur rumahnya di Pidie. Di tengah kenaikan harga bahan baku, dentum palu tetap terdengar sejak subuh, meski upah yang diterima kian menyusut. Waspada.id/Muhammad Riza

Ukuran Font

Kecil Besar

14px

Kumandang azan Subuh menggema dari meunasah-meunasah (surau-surau-red) di Kabupaten Pidie, memecah hening pagi yang masih diselimuti kabut tipis. Bagi sebagian orang, itu adalah panggilan untuk bangun dan memulai hari.

Namun bagi para pengrajin emping melinjo, azan subuh bukan sekadar penanda waktu ibadah, ia adalah tanda dimulainya perjuangan panjang.

Tidak lama setelah suara azan mereda, dentum palu mulai terdengar dari dapur-dapur rumah sederhana. Bertalu-talu, ritmis, menjadi suara khas industri rumahan yang telah hidup puluhan tahun. Di ruang sempit dengan peralatan seadanya, para perempuan duduk bersila, menumbuk satu per satu biji melinjo menjadi lembaran emping tipis.

Di sinilah industri rumahan emping melinjo tumbuh, bukan dari mesin modern, tetapi dari tangan-tangan terampil yang bekerja halus tanpa henti. Namun di balik dapur yang tetap riuh itu, tersimpan kenyataan yang tidak selalu indah.

Harga biji melinjo pekan ini mencapai Rp50 ribu per liter. Angka ini naik cukup tajam dibandingkan bulan Ramadan lalu yang masih berada di kisaran Rp42 ribu hingga Rp45 ribu/liternya. Kenaikan harga bahan baku ini seharusnya membuka ruang penyesuaian dalam struktur biaya produksi.

Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Upah penumbuk emping mengalami penurunan. Dari sebelumnya sekitar Rp20 ribu/liter, kini hanya berkisar Rp15 ribu hingga Rp18 ribu/liter. Penurunan ini terjadi di saat biaya hidup tidak ikut turun, bahkan cenderung meningkat.

Erlina, warga Kecamatan Simpang Tiga, merasakan langsung tekanan tersebut. Sejak subuh ia sudah bekerja, menumbuk melinjo dengan ritme yang nyaris tidak berhenti.

“Dapurnya memang tetap ramai, tapi hasilnya tidak seperti dulu. Harga bahan naik, ongkos kami malah turun,” ujarnya.

Pernyataan itu menggambarkan ironi yang nyata, aktivitas produksi tidak pernah berhenti, tetapi keuntungan justru tidak bertumbuh.

Jika menilik harga di pasar, kondisi ini semakin terasa janggal. Di Pasar Beureunuen, emping melinjo kualitas super dijual dengan harga Rp120 ribu hingga Rp123 ribu per kilogram.

Harga tersebut menunjukkan bahwa produk ini memiliki nilai jual tinggi. Namun, nilai tinggi itu tidak sepenuhnya dinikmati oleh para pengrajin.

Di sinilah persoalan mendasar industri rumahan ini muncul, rantai distribusi yang panjang dan posisi tawar pengrajin yang lemah.

Mereka berada di titik paling awal produksi, tetapi memiliki akses paling terbatas terhadap pasar.

Pengamat ekonomi lokal, Ibrahim Sanusi, menilai kondisi ini sebagai bentuk ketimpangan struktural dalam ekonomi rakyat.

“Industri ini hidup dari rumah-rumah sederhana, tetapi sistem pasarnya tidak sederhana. Ada ketidakseimbangan dalam distribusi keuntungan,” jelasnya.

Menurutnya, selama pengrajin tidak memiliki akses langsung ke pasar atau tidak tergabung dalam sistem yang lebih kuat seperti koperasi, maka mereka akan terus berada dalam posisi yang dirugikan.

Lebih jauh, kondisi ini juga mengancam keberlanjutan industri emping melinjo itu sendiri.

Jika keuntungan tidak kunjung membaik, maka generasi muda bisa kehilangan minat untuk melanjutkan usaha ini.

Padahal, emping melinjo bukan hanya komoditas ekonomi. Ia adalah bagian dari identitas lokal, hasil dari tradisi panjang yang diwariskan lintas generasi.

Dapur-dapur itu akan tetap riuh setiap pagi. Dentum palu akan terus terdengar, setidaknya untuk saat ini. Namun tanpa perubahan yang nyata, riuh itu perlahan bisa berubah menjadi sunyi.

Dan ketika subuh kembali datang dengan sunyi yang teduh, dentum palu itu masih akan bertaut, mengalun penuh peluh.

Namun tanpa keadilan yang utuh, harapan para pengrajin akan terus jatuh, perlahan menjauh, lalu hilang dalam hidup yang kian rapuh.

Muhammad Riza

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |