Jakarta, CNBC Indonesia - Chief Operating Officer BPI Danantara, Dony Oskaria buka-bukaan soal strategi Danantara dalam mengelola Badan Usaha Milik Negara (BUMN) agar bisa jauh lebih baik.
Dony menerangkan, sebelum ada Danantara setiap perusahaan BUMN tidak terkoneksi. Sehingga BUMN satu dengan yang lainnya bergerak sendiri-sendiri dan membentuk konglomerasi. Hal ini dianggapnya sangat bahaya, mengingat jika terjadi persoalan yang menimpa salah satu BUMN, maka BUMN lainnya tidak bisa membantu.
Oleh karena itu kata Dony, Danantara melakukan konsolidasi dan mapping terhadap 1.074 BUMN untuk mengetahui fundamental business review pada setiap BUMN dengan tiga parameter, diantaranya dengan melihat benchmark atau tolak ukur. Langkah ini penting dilakukan untuk mengetahui bagaimana tata kelola perusahaan BUMN di berbagai sektor.
"Yang pertama adalah, tentu sebelum kita melakukan review, kita tentukan dulu global benchmarknya apa. Jadi, setiap perusahaan itu pasti ada benchmarknya. Karena tidak ada industri yang tidak ada benchmarkingnya," jelas Dony kepada CNBC Indonesia dalam Danantara BUMN Progress Update, Rabu (26/8/2026).
Sedangkan yang kedua lanjutnya adalah mengecek revenue stream, dan revenue composition. Menurut Dony, banyak perusahaan BUMN yang revenue stream-nya sama, tetapi komposisinya belum ideal.
"Kita cek internal kapabilitas daripada perusahaannya seperti apa. Baik itu financial capabilities maupun people and organization. Ini kita masukin dalam empat matrix," rinci Dony.
Dalam empat matrix itu lanjutnya, terbagi menjadi beberapa kelompok, kelompok satu adalah perusahaan yang harus dilikudasi, yakni perusahaan-perusahaan yang imbalance antara satu perusahaan yang tidak balance antara aset dan liabilitiesnya atau uangnya lebih besar daripada asetnya.
Kelompok kedua adalah perusahaan-perusahaan yang non-core, tetapi masih punya value untuk didivestasi. Kelompok ketiga adalah konsolidasi, yang terjadi karena beberapa perusahaan BUMN melakukan model konglomerasi. Sedangkan kelompok keempat adalah perusahaan yang restrukturisasi.
"Restrukturisasi ini juga terbagi menjadi dua, pertama adalah financial restructuring. Kedua, business restructuring. Ada yang kita lakukan financial restructuring saja. Misalkan mereka menghadapi masalah keuangan, ini kita memang financialnya kita restructuring. Bentuknya tentu macam-macam, ada yang multi corporate action, ada yang equity injection, ada yang restrukturisasi kredit, ada yang haircut, ada macam-macam yang kita lakukan. Nah ini ada yang masuk ke kelompok financial restructuring. dan yang satu lagi adalah business restructuring," kata Dony.
Dony menjelaskan dalam 1,5 tahun terakhir inilah yang dilakukan oleh Danantara dan hasilnya sudah menutup 290 perusahaan dan diharapkan pada akhir tahun ini tersisa 254 perusahaan yang solid, kuat, dan juga untung.
(dpu/dpu)
[Gambas:Video CNBC]

9 hours ago
1

















































