Jakarta, CNBC Indonesia - Hubungan diplomatik antara Rusia dan Jepang dilaporkan telah mencapai titik nadir atau berada pada level nol seiring dengan sikap keras Tokyo terhadap Moskow. Kremlin menyatakan bahwa saat ini tidak ada dialog yang berlangsung untuk membahas perjanjian damai di antara kedua negara tersebut.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengungkapkan bahwa memburuknya hubungan ini disebabkan oleh posisi Jepang yang dianggap tidak bersahabat terhadap Rusia. Hal ini disampaikan Peskov menanggapi dinamika politik terbaru yang melibatkan kedua negara tetangga tersebut.
"Hubungan kami dengan Jepang telah berkurang hingga ke titik nol. Tidak ada dialog, dan sangat mustahil untuk membahas masalah perjanjian damai tanpa adanya dialog," ujar Peskov kepada wartawan dalam pengarahan harian pada Jumat (20/2/2026) dikutip Reuters.
Pernyataan ini muncul tak lama setelah Perdana Menteri Jepang yang baru saja menjabat, Sanae Takaichi, menyampaikan pidato perdananya di hadapan parlemen. Dalam pidato tersebut, Takaichi menegaskan posisi pemerintahannya mengenai sengketa wilayah yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
"Meskipun hubungan Jepang-Rusia berada dalam posisi yang sulit, posisi pemerintah Jepang tetap tidak berubah, yakni bertujuan untuk menyelesaikan masalah teritorial dan menyimpulkan perjanjian damai," kata Takaichi sebagaimana dikutip dari kantor berita negara Rusia, TASS.
Menanggapi pidato tersebut, Peskov menegaskan bahwa Rusia sebenarnya tidak pernah berencana untuk memutus komunikasi. Namun, ia menilai situasi saat ini tidak memungkinkan bagi kedua belah pihak untuk mencapai kesepakatan apa pun tanpa adanya perubahan mendasar dalam interaksi diplomatik.
"Rusia tidak pernah mendukung penghentian dialog ini. Dalam keadaan seperti ini, kecil kemungkinan kesepakatan apa pun dapat dicapai tanpa mengubah modalitas hubungan kita," tambah Peskov menjelaskan posisi Moskow.
Ketegangan ini berakar dari fakta sejarah di mana Rusia dan Jepang tidak pernah menandatangani perjanjian damai resmi untuk mengakhiri Perang Dunia II. Hambatan utama dari kesepakatan tersebut adalah sengketa wilayah Kepulauan Kuril, yang di Jepang dikenal sebagai Wilayah Utara.
Kondisi hubungan kedua negara semakin memanas seiring dengan langkah strategis Jepang yang memposisikan diri sebagai sekutu utama Amerika Serikat di kawasan Asia. Tokyo secara aktif ikut serta menentang aksi militer Kremlin di Ukraina melalui berbagai kebijakan sanksi dan dukungan diplomatik bagi Kyiv.
(tps/tps)
Addsource on Google

2 hours ago
1
















































