Bos PTBA Blak-blakan Laba di 2025 Turun Jadi Rp2,93 Triliun

9 hours ago 6

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Bukit Asam Tbk (PTBA) melaporkan kinerja keuangan sepanjang tahun buku 2025 dengan mencatatkan laba bersih sebesar Rp 2,93 triliun. Angka tersebut menurun dinilai karena anjloknya harga jual batu bara di pasar global sepanjang tahun lalu.

Direktur Utama PTBA Arsal Ismail mengungkapkan bahwa tahun 2025 merupakan periode yang penuh tantangan bagi industri batu bara global. Dia menyebutkan bahwa indeks harga acuan batu bara Newcastle mengalami penurunan tajam hingga 25%, sementara indeks Indonesian Coal Index (ICI) yang menjadi rujukan perusahaan juga terkoreksi 16% secara tahunan.

"Kami menyadari tentunya penurunan harga batu bara global ini kalau kita lihat dari indeks Newcastle ini turunnya cukup signifikan 25%. Indeks ICI di mana kami lebih banyak menggunakan ICI 3 pada tahun 2025 itu juga turun secara tahunan sebesar 16% dan ini tentunya mengakibatkan harga jual rata-rata kita menjadi turun," ujar Arsal dalam paparan kinerja perusahaan, di The Westin, Jakarta, Senin (6/4/2026).

Selain tertekannya harga jual, Arsal juga menyoroti peningkatan beban pokok pendapatan perusahaan sebesar 5%. Kenaikan biaya tersebut didorong oleh beban operasional serta peningkatan biaya bahan bakar akibat implementasi kebijakan bauran energi B40 dan penyesuaian harga energi.

Meskipun menghadapi tantangan tersebut, PTBA berhasil menjaga kinerja operasional yang solid dengan volume produksi yang justru meningkat 9% menjadi 47,2 juta ton. Volume penjualan juga tumbuh 6% menjadi 45,4 juta ton, didukung oleh peningkatan angkutan batu bara dari 38,2 juta ton pada 2024 menjadi 40,4 juta ton di 2025.

Capaian tersebut mencerminkan keberhasilan ketahanan bisnis perseroan di tengah fluktuasi harga batu bara global sepanjang tahun 2025.

Tambang batu bara PT Bukit Asam Tbk (PTBA) di Tanjung Enim, Sumatera Selatan. (Dok. PTBA)Foto: Tambang batu bara PT Bukit Asam Tbk (PTBA) di Tanjung Enim, Sumatera Selatan. (Dok. PTBA)
Tambang batu bara PT Bukit Asam Tbk (PTBA) di Tanjung Enim, Sumatera Selatan. (Dok. PTBA)

Terkait dengan komposisi penjualan, PTBA tetap memprioritaskan pemenuhan kebutuhan domestik (Domestic Market Obligation/DMO) dengan porsi 54%, sementara 46% sisanya dialokasikan untuk ekspor.

Untuk pasar ekspor, perusahaan terus melakukan diversifikasi ke negara-negara seperti Bangladesh, Vietnam, Korea Selatan, hingga mencoba menembus pasar Eropa seperti Spanyol dan Rumania guna mengurangi ketergantungan pada China dan India.

Menghadapi tekanan margin, perusahaan menerapkan efisiensi operasional dan optimalisasi rantai pasok secara disiplin melalui metode selective mining. Langkah ini diklaim berhasil menjaga fundamental keuangan perusahaan tetap sehat, yang tercermin dari arus kas operasi yang tumbuh 24% dan total aset yang meningkat menjadi Rp 43,92 triliun.

Capaian PTBA

Sebagai informasi, PT Bukit Asam (Persero) Tbk. (PTBA) mencatatkan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp2,93 triliun sepanjang tahun 2025. Torehan itu anjlok 43% secara tahunan atau year on year (yoy).

Merinci siaran persnya, emiten batu bara pelat merah itu mencatatkan pendapatan usaha turun tipis menjadi Rp42,65 triliun. Perolehan itu turun tipis dari setahun sebelumnya sebesar Rp42,76 triliun.

Meskipun volume penjualan PTBA tercatat meningkat 6% yoy, namun pelemahan harga batu bara, baik Newcastle Index yang turun 22% YoY dan ICI-3 yang turun 16% yoy, berimbas pada pelemahan harga jual rata-rata yang tercatat turun 6% yoy.

Adapun untuk porsi penjualan sampai dengan akhir Desember 2025 ini, penjualan domestik tercatat sebesar 54%, sedangkan sisanya 46% merupakan ekspor. Pada akhir periode ini, lima negara tujuan ekspor terbesar ditempati oleh Bangladesh, India, Vietnam, Korea Selatan, dan Filipina.

Beban pokok pendapatan terealisasi sebesar Rp36,39 Triliun, atau naik sebesar 5% secara yoy. Kenaikan ini seiring dengan peningkatan volume operasional, baik produksi batu bara yang naik 9% yoy maupun angkutan yang juga naik 6% yoy, meskipun dari sisi stripping ratio tercatat lebih rendah di angka 6,07x dari pada periode yang sama tahun sebelumnya di angka 6,23x.

Selain itu, pencabutan subsidi komponen FAME pada Biodiesel serta kewajiban untuk menggunakan B40 juga berdampak pada peningkatan harga BBM/liter (+13% yoy), yang otomatis berdampak pada peningkatan biaya bahan bakar yang digunakan oleh PTBA, baik untuk kegiatan penambangan maupun angkutan kereta api.

Di samping itu, secara yoy, beban umum dan administrasi naik sebesar Rp261,88 miliar atau 13% dan beban penjualan naik 3% atau sebesar Rp23,58 miliar. Kenaikan ini selaras dengan peningkatan volume penjualan yang naik 6% yoy.

PTBA membukukan penghasilan keuangan sebesar Rp219,50 miliar, atau turun 12% yoy seiring dengan turunnya penghasilan bunga baik dari penempatan kas di bank dan deposito berjangka maupun dari penempatan obligasi.

Biaya keuangan tercatat Rp325,93 miliar atau naik 15% yoy seiring dengan peningkatan beban bunga dari pinjaman bank. Sedangkan bagian atas laba neto entitas asosiasi dan ventura bersama tercatat Rp 671,56 miliar, atau naik 5% yoy.

Di sisi neraca, total aset PTBA pada 31 Desember 2025 tercatat sebesar Rp43,92 triliun atau naik 5% dibandingkan akhir tahun 2024 yang tercatat sebesar Rp41,79 triliun. Hal tersebut disebabkan adanya kenaikan nilai aset tidak lancar sebesar 12% atau ekuivalen dengan Rp3,12 triliun, yang utamanya diperoleh dari penambahan aset tetap.

Total Liabilitas dan Ekuitas Total liabilitas pada 31 Desember 2025 tercatat naik dari posisi pada akhir Desember 2024 sebesar Rp19,14 triliun, menjadi Rp21,30 triliun,yang utamanya disebabkan oleh adanya kenaikan pinjaman bank. Sedangkan ekuitas tercatat menurun tipis dari posisi akhir Desember 2024 sebesar Rp22,64 triliun menjadi Rp22,62 triliun pada 31 Desember 2025.

(wur) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |