Jakarta, CNBC Indonesia - Musim hujan 2026/2027 diprediksi memiliki pola yang berbeda-beda di setiap wilayah Indonesia. Meski sebagian besar wilayah diperkirakan mengalami curah hujan dalam kategori normal, puncak musim hujan akan berlangsung pada periode yang berbeda.
Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu memperhatikan perkembangan musim di wilayah masing-masing. Informasi mengenai puncak musim hujan juga penting bagi sektor yang berkaitan dengan pengelolaan air, pertanian, hingga kesiapan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi.
"Akumulasi curah hujan pada periode musim hujan di sebagian besar Indonesia atau 510 zona musim sama dengan 69,76% luas daratan Indonesia diprediksi berada pada kategori normal atau mendekati kondisi rata-rata klimatologisnya," ujar Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani dalam konferensi pers, Selasa (22/9/26).
Meski akumulasi curah hujan secara umum diprediksi normal, periode dengan curah hujan tertinggi tidak terjadi serentak di seluruh Indonesia. Puncak musim hujan tersebar dalam beberapa bulan, mulai akhir 2026 hingga awal 2027.
"Sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mengalami puncak musim hujan pada bulan Desember 2026 yaitu di 155 zona musim atau 36,94% luas daratan Indonesia. Puncak musim hujan di Januari 2027 yaitu di 162 zona musim atau 25,68% luas daratan Indonesia, dan nanti di bulan Februari 2027 yaitu di 190 zona musim atau 16,79% luas daratan Indonesia," kata Faisal.
Kendaraan melewati banjir di lampu merah Fatmawati, Jakarta, Kamis (30/10/2025). (CNBC Indonesia/Tri Susilo) Foto: Kendaraan melewati banjir di lampu merah Fatmawati, Jakarta, Kamis (30/10/2025). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Perbedaan waktu puncak hujan membuat kesiapan di setiap daerah perlu disesuaikan dengan karakter musimnya. Periode tersebut juga menjadi momentum penting untuk mengelola tambahan pasokan air setelah sejumlah wilayah melewati musim kemarau.
"Perlu digarisbawahi bersama bahwa musim hujan juga menghadirkan berbagai peluang yang dapat dioptimalkan seperti mendukung perluasan area tanam dan kesempatan untuk mengisi kapasitas waduk dan bendungan, serta setelah surut ya waduk dan bendungan ini akibat musim kemarau yang panjang," ujar Faisal.
Namun, meningkatnya curah hujan juga membawa risiko yang perlu diperhitungkan. Puncak musim hujan menjadi periode yang membutuhkan kesiapan lebih tinggi karena potensi bencana hidrometeorologi basah ikut meningkat.
"Namun demikian, bersama datangnya musim hujan, risiko bencana hidrometeorologi basah juga meningkat," kata Faisal.
Karena itu, informasi mengenai sifat dan puncak musim hujan tidak hanya menjadi gambaran cuaca, tetapi juga dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan langkah antisipasi. Pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat dapat menyesuaikan persiapan dengan waktu serta karakter musim di wilayah masing-masing.
"Karena itu kami berharap informasi ini dapat diterjemahkan menjadi strategi adaptasi dan langkah antisipasi yang konkret, sehingga masyarakat dan para pemangku kepentingan tidak hanya lebih siap menghadapi risiko tapi juga mampu memanfaatkan peluang yang hadir seiring dinamika iklim yang akan terjadi," ujar Faisal.
(fys/wur)
[Gambas:Video CNBC]

1 hour ago
2
















































